Rabu, 06 Februari 2013

Titian Angsa

Diposting oleh Unknown di 01.38

Kkkrrrriiinnnggg, kkkrrrrriinngg, kkkrrriinnngg.
Jam weker unguku berdering. Membangunkanku dari tidur semalam. Dari mimpi buruk yang mengawali gerimis pagi ini. Aku menyeruak dibalik selimut unguku, dingin masih merayap di badan. Teringat jelas semua ini. Ah, tidak perlu kumembayangkannya lagi.
           “Bi, Ayah dan Bunda di mana?”
 Mataku masih sembab akibat menangis semalam. Masih merah dan membengkak. Kurasa Bibipun mengetahui hal tersebut.
“Oh, kalau Nyonya baru sarapan di bawah neng. Kalau Tuan, sepertinya sudah bekerja. Mungkin karena tergesa-gesa, jadi tidak sempat sarapan bersama neng Asha.  Pagi ini tuan akan ke Singapura, katanya ada meeting mendadak”
Ah, bosan! Mengapa aku jarang bertemu Ayah? Aku kangen Ayah, tapi Ayah selalu tidak di rumah. Memang, rumahku cukup besar dan aku memiliki banyak fasilitas di sini. Bahkan kelak ini akan menjadi rumahku. Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur bank internasional, Bundaku pemilik perusahaan asing, dan Kak Morgan kakakku adalah seorang yang cukup pintar di sekolahnya. Saat beranjak dewasa, aku merasa tidak ada yang menanggapku lagi. Semua orang sibuk. Sejak kepergian Kak Morgan untuk bersekolah di Amerika, aku merasa sendiri.
“Hai Bunda”
“Hai sayang! Sudah bangun ya, ayo sarapan dengan Bunda”
Senyumannya mengawali hari burukku. Senyuman yang kunanti-nanti dari dulu, akhirnya datang menyambutku.
“Tumben,  Bunda di rumah. Biasanya kalau Asha dari bangun sampai tidur tidak pernah bertemu. Bunda kan sibuk dengan pekerjaan Bunda,  sampai-sampai lupa dengan anaknya”
 Bunda menatap ku dalam, namun aku tidak berani untuk menatap bola matanya. Apakah dia marah? Atau …..
“Sayang, Bunda tahu kamu kesepian. Maafkan Bunda ya, Bunda janji minggu depan Ayah, Bunda dengan Kak Morgan akan di rumah. Kita akan berkumpul bersama”
“Benar Bunda? Bunda serius?”
 “Serius sayang”
Tidak kurasa, kata-kata itu muncul dari bibir Bunda. Kupeluk Bunda dan kuucapkan terimakasih.  Sejenak, pandangan kosong pun berubah menjadi harapan yang akan datang.

                   ******

                   Ini pertama kalinya aku berada di SMA Xuneius, Bandung. Sebenarnya, berat harus meninggalkan sahabat-sahabatku di Jakarta. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di Jakarta. Ayah harus tinggal di Bandung. Terpaksa  kami sekeluarga harus ikut di Bandung. Toh, di Bandung pun aku tidak rugi aku tetap bebas. Aku tetap bisa jalan-jalan dengan mobil ungu kesayangannku. Aku tetap bisa pergi dengan temanku. Tidak ada yang mengekangku, semua terserah apa mauku.  
Mobilku terhenti di Gerbang SMA Xuneius. Terpampang jelas gerbang berwarna emas itu dan waw ! SMA ini lumayan besar. Dengan arsitektur modern bertingkat 4. Halamannya lumayan bersih dan luas. Rumput-rumput itu terpotong rapi berjajar.  Ada juga semacam bonsai yang dibentuk indah serta dipotong membentuk tulisan SMA Xuneius. Mungkin aku akan betah di sini. Entahlah, semua tergantung keinginanku. Ada juga pahatan-pahatan bentuk arsitektur SMA Xuneius.  Menarik, lantai mushollanya juga bersih sekali, sejuk.
Kualihkan pandanganku sejenak dan kuparkirkan mobilku di parkiran samping lapangan basket. Rata-rata di sini anak orang kaya. Aku bisa berfikiran begitu karena mereka sebagian besar naik mobil atau motor keren dan sebangsanya. Entahlah tidak terlalu penting bagiku. Hari ini, akanku mulai hariku beranjak di SMA, di kota lain. Di sini aku harus merubah sifat burukku. Aku selalu iri jika seseorang bisa menyaingiku. Aku tidak suka itu. Maka di sinilah, aku harus merubah image burukku. Fantastic!
                   Kutelusuri lorong SMA ini, cantik. Aku berhenti di kelas X A dan ternyata pelajaran hampir dimulai. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka merasa ada yang asing, karena mereka baru melihatku. Aku segera duduk di bangku kosong di samping perempuan yang berparas cantik, putih, tinggi, dan lucu. Dia tersenyum, dan aku  membalasnya.  
“Pagi anak-anak” 
“Pagi Bu”
Kulepaskan pandanganku ke guru itu, mungkin umurnya masih sekitar 30-an, dengan style yang lumayan cantik, berbalut rok ungu dan jas ungu yang berpadu padan menarik.
“Nama saya Nurinta, saya mengajar bahasa Jepang di sini. Ada sebagian murid yang sudah kenal saya kan ? Tetapi ada murid baru pindahan di sini. Silahkan Asha, bisa berdiri di depan, dan perkenalkan dirimu”
Dengan malu-malu, akupun menlangkah ke depan kelas dan memandang satu persatu wajah teman-teman baruku. Kebetulan aku memang cukup pandai dalam Bahasa Jepang dan kuperkenalkan diriku dengan Bahasa Jepang.
“Konichiwa yujin”  ( Hai teman-teman )
“Konichiwa yuko o” ( Hai juga )
Jawab mereka serempak.
“Watashi no namae wa Pasha Anndyta Jihan. Anata wa watashi Asha. Yobidasu koto ga dekimasu. Watashi wa shuto Tunas Harapan 1 Jakarta. No izure ka o negatte imasu. Watashi wa, jutako no burokku bango Andryta 14 ni sunde iru. Watashi no chici wa, bandon ni aru jobu o henko shitanode, watashi wa koko ni ido. Watashi no sumi wa suiei to katsudo shite iru. Watashi no shokai no yo ni oku no. Dare mo watashi nitsuite no shosai o shitsumon shiyou to suru baai, Watashi to issho ni jibun, jishin ni toute kudasai. Watashi wa anata-tachi kara no shitsumon ni kotaeru jinbi ga dekite imasu. Kansha”
 ( Nama saya Pasha Anndyta Jihan, kalian bisa panggil saya Asha. Saya dari SMP Tunas Harapan 1 Jakarta. Saya tinggal di Perumahan Andryta blok A no 14. Saya pindah ke sini karena Ayah saya pindah kerja di Bandung. Hobby saya renang dan main acting. Sekian perkenalan dari saya, jika ada yang mau bertanya lebih jauh tentang saya, silahkan bertanya pada jam istirahat. Saya siap menjawab pertanyaan dari kalian. Terimakasih )  
Kupandangi satu persatu wajah teman baruku. Sebagian dari mereka mungkin hanya mengandalkan style, atau hanya dianggap ajang kecantikan. Menurutku, aku turut memperhatikan style, tetapi sekolah bukanlah ajang untuk bergaya. Seperti di Singapura, di sebuah tempat untuk menuntut ilmu mereka tak pandang bulu. Ada yang memakai celana rumah, kaos, dan hot plant. Bahkan, untuk mengerjakan tugas bersama walaupun berlawan jenis, mereka di sana biasa saja di anggap teman, bukan seperti disini, ngobrol atau berjalan bareng saja dianggap ada hubungan  yang spesial. Aku tak mengerti jalan pikiran anak di sini. Bu Nurinta pun membuyarkan lamunanku, beliau menyuruhku untuk kembali ke tempat. Aku kembali ke bangkuku. Pelajaran pertama di Bandung, resmi kumulai .........

                   ******

                   Ternyata , temanku yang satu bangku denganku bernama Lyli. Dia tinggi, cantik, putih, humoris, dan terutama baik hati. Baru kenal 20 menit yang lalu saja  aku selalu terpingkal-pingkal jika ngobrol dengan dia, semoga saja dia bisa menjadi sahabatku di Bandung ini. Saatnya istirahat, aku dan Lyli menuju kantin sekolah. Aku juga diajak Lyli berkeliling SMA ini dan sudah kuduga, sekolah ini memang indah. Dibagian belakang ada taman yang menyerupai green house. Ada bangku panjang yang di letakkan di bawah naungan pohon akasia, teduh sekali. Banyak warna-warni bunga yang berwarna ungu disana. Apakah bangunan ini habis direnovasi, catnya terlihat masih baru. Bangunannya juga bagus. Aku akan nyaman disini. Seluruh ruangan bahkan di toiletnya pun bersih. Tak sia-sia aku pindah ke Paris Van Java ini. Udara disini juga cukup segar. Tidak seperti di Jakarta, penuh polusi. Di Bandung juga sering melakukan penanaman pohon . Dan itu sangat tepat untuk mengurangi global warming. pengetahuanku cukup luas tentang Bandung dalam 5 hari ini.
“Yuk, duduk di bawah pohon itu saja, pesan makanan”
 Ajak Lyli sambil menarik tanganku.
 “Iya Lyli , sabar dong”
 “Bu Kantin !”
Teriak Lyli memanggil Ibu yang menjaga Kantin SMA Xuneius.
 “Iya neng , mau pesen apa ?”
 “Oh , kalau aku mau pesen bakso aja, minumnya juice alpukat. Kalau kamu apa Sha ?”

..........................( hening )..................................
“Hello ? Sha ?” Lyli membuyarkan lamunanku.
 “Oh ya Ly, ada apa ?” 
“Ngelamunnin apa sih ? mau pesen apa ?”
 Lyli sepertinya heran, aku seperti tidak conect waktu itu.
“Emm, aku pesan kentang goreng dan minumnya juice melon saja deh” Kataku dengan meyakinkan Lyli tidak terjadi apa-apa.
 “Sha, ada apa sih ? cerita dong sama aku”
Mata Lyli menatapku dalam. Ada rasa keingintahuan tentang aku.
“Lyli, aku tidak ngalamunin apa-apa kok”
 “Sha, please”
Aku tak bisa mengelak. Dia menyuruhku untuk bercerita. Dengan terpaksa aku akan bercerita. Jujur, aku tak ingin menceritakan masalahku ini ke orang yang baru saja ku kenal. Tapi, bagaimana lagi dialah satu-satunya teman yang dekat dengan ku di Bandung ini. Matanya memancar menatapku tajam. Sepertinya dia siap untuk mendengarkan ceritaku. Aku tak tega membuat dia menunggu lama. Aku diam sejenak untuk mengatur nafas, dialah satu-satunya orang yang tau masalahku di Bandung ini.
“Jadi begini Ly, aku memiliki masalah yang berat. Amat sangat berat. Sampai 2 minggu ini, aku susah tidur karena memikirkan masalah ini. Ada yang mengganjal dihatiku”
Aku hela nafas ku sekali lagi dan dia masih setia mendengarkan curhatku.
“Aku memiliki beberapa masalah yang tidak bisa ku atasi”
Pembicaraanku terhenti karena hidangan kami telah datang. Kutatap matanya, dia tak menyentuh makanannya sedikitpun. Dia masih seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun. Dia antusias mendengarkan cerita ku, dan ku lanjutkan ceritaku karena mungkin dia ingin mengenal aku lebih dalam.
“Masalahku yang pertama, Aku kehilangan seorang kekasih bernama Aryo, dia selingkuh dengan sahabatku, Lyani. Sampai saat ini aku masih encintainya, namun harus ku pendam dalam hati. Padahal aku sangat mencintainya. Masalahku yang ke 2, adalah kejujuran. Aku .... Aku pernah mencuri kunci laci meja Kepsek, agar Kepsek tidak bisa membuka laci mejanya. Aku mempunyai masalah waktu SMP, sewaktu itu aku pernah ketahuan merokok. Tapi sumpah pertama kali coba, aku tak mengetahui apa itu. Aku hanya diajak temanku untuk mencobanya, aku bebas dirumah. Tidak ada yang mengekangku. Dari sanalah aku mencoba-coba, Kepsek tau dari temanku. Beliau menggeledah tasku dan menemukan 2 batang rokok. Beliau menyita rokok itu sebagai bukti tuk diserahkan kepada orang tuaku. Aku tidak ingin mereka tau, aku malu. Aku juga tidak mau membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku mencuri kunci laci beliau agar tak bisa membuktikan. Dan, aku masih merasa bersalah hingga hari ini. Kamu tau kan, bagaimana perasaanku ? Aku tak kuat lagi. Apa yang ku lakukan semua tak berguna”
 Mulut Lyli bergerak perlahan  seperti akan mengatakan sesuatu. Panas juga pantatku duduk serius dari tadi. Dan mungkin makananku telah dingin. Aku tidak menghiraukan itu.
“Asha, aku tau bagaimana perasaanmu. Walaupun baru 4 jam aku mengenal mu, tapi aku tau kamu itu perempuan tegar. Menurutku cukup banyak dan cukup berat masalahmu tadi untuk anak SMA. Kau hanya di beri Tuhan cobaan. Kau tau sobat, Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya yang melebihi batas kemampuannya. Kau hanya berada di kebingungan sementara. Sekarang kau tidak lagi di SMP Asha, kamu sudah SMA. Lupakan itu semua. Menurutku masalahmu tadi banyak jalan keluarnya. Yang pertama, soal kekasihmu. Ayo Sha, dia kamu itu cantik, baik, pintar, banyak yang suka denganmu. Kamu pasti dapat menemukan yang lebih baik dari Aryo. Itu membuktikan bahwa dia bukan laki-laki yang setia.tidak usah perdulikan dia. Suatu hari nanti, dia pasti  sadar apa yang dia perbuat. Yang ke 2, lebih baik kamu mengaku saja. Minta maaf lah dengan Kepsek SMP mu. Lakukan yang ingin kamu lakukan selagi itu positif . Banyak hal yang bisa kamu lakukan disini. Aku akan membantumu selagi aku mampu. Aku selalu disisimu. Bagaimana cantik ? setuju ?”
Di ulurkannya kelingking manisnya di hadapanku , dan ku gapai kelingking itu
“Setuju Lyli, makasih ya, eh ayo dong dimakan. Keburu dingin. Kalau Aku lapar nanti aku kering kerontang bertandus lagi ”
 Ku cairkan suasana tadi dengan gurau, semoga yang dikatakan Lyli akan menjadi motivasiku d sini.

          ******

  Hallo Para Siswa !! Ada Drama Musical Putra Putri Xuneius lho ! Untuk Ajang Pementasan Pensi . Ayo Daftarkan Dirimu Di Sekretaris Osis Paling Lambat tanggal 5 Agustus !! Tunjukan Aksimu Lewat Gayamu

                                    Panitia
           
                                 Ketua Osis

                        “Lyli !”
Dia menoleh kepadaku. Dia menghampiriku dengan 2 pita di rambutnya. Lucu juga menurutku.
“Kamu liat tidak ? pengumuman ini ?”
Aku menunjuk pengumuman itu. Dia menyeruak tanganku dan terdiam membacanya.
“Wah, kamu kan hobi banget maen akting, ikutan sana ! siapa tau bisa masuk”
 “Aku ikut kalau kamu ikut”
Aku berjalan menyusuri lorong kelas ku.  Teman-teman sudah menyapaku. Aku duduk di bangku samping Lyli.
“Wah, aku tidak bisa main akting ! percuma aku ikut. Pasti kalah”
 “Lyli, jangan pesimis dulu. Pokoknya kamu harus ikut ! aku daftarkan kamu di Sekretaris OSIS”
Dengan sedikit paksaan akhirnya Lyli mau juga. Aku tak perlu kesepian saat audisi itu. Ada Lyli sahabatku.

                   ******

                   Audisi hampir dimulai. Aku melihat kurang lebih 88 siswa yang berminat mengikuti audisi ini. Aku semakin antusias. Aku mendapat nomor dada 3 dan Lyli 4. Dengan berbekal pengalaman akting ku yang dulu, aku siap mengikutinya dan semoga saja aku dapat masuk untuk mengisi pensi. Aku melihat mimik muka para peserta yang lain. Sebagian dari mereka pucat.  Mungkin demam panggung. Peserta ke 2 telah selesai. Saatnya aku memberikan yang terbaik. Aku mulai gugup. Tanganku sudah dingin.
“Semangat Asha ! tunjukkan kamu yang terbaik !”
Kata-kata itu menjadi motivasi ku. Ya , aku yang terbaik. Aku mulai di atas panggung dan memberikan hormat kepada dewan juri. Aku meragakan sebagai Cinderella. Tepuk gemuruh bergetar di ruangan itu setelah aku selesai. Aku tersenyum dan aku yakin . Hanya aku yang masuk jadi pemain utama !
“Nomor dada 4 .. Lyliani Sarah Cardyna”
 Dewan juri sudah memanggil nama Lyli. Mukanya juga merah. Selama aku melihat akting nya, aku rasa lebih bagus aktingku. Tepuk tangan pun tak ada hingga dia selesai. Aku semakin yakin aku adalah pemeran terbaik. Tak ada yang pantas. Hanya aku.

                   ******
          Setelah menunggu selama 2 hari, pengumuman yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sangat siap mendengarnya, kalian tau kenapa ? aku tau, aku yang berhasil.
 “Ly, aku gugup”
 “Tidak perlu gugup Asha, kamu pasti terpilih, percayalah”
 “Semoga kau benar Ly”
Aku semakin erat menggenggam tangannya . Padahal waktu itu ruangan tak ber-AC. Kulihat pengumuman itu. Ku cari namaku dan .... Astaga ! aku tak terpilih sama sekali ! dan yang lebih membuatku shock, Lyli. Lyli sahabatku menjadi pemeran utama ! aku berlari meninggalkan Lyli yang saat itu juga tertegun mengapa dia bisa menjadi pemeran utama. Padahal dia tak bisa akting sama sekali. Aku yang mengajarkannya. Mengapa aku kalah dengannya ? aku tak habis pikir dengan dewan juri ! tak adil ! aku yang berhak ! bukan Lyli ! aku benci !

                   ******

Tok tok ,, tok tok ,,
 “Masuk, tidak di kunci”
 Kata ku di balik pintu kamarku. Aku masih sedih dengan kejadian tadi siang.
 “Neng, ada temannya eneng di luar”
Bibi masuk perlahan ke kamarku. Temanku ? siapa ? apa temanku dari jakarta ?
 “Eemmpp Bi, teman ku siapa ?”
Tanya ku keheranan. Maklum, sejak pindah kesini tak ada temanku yang berkunjung kerumahku.
“Anak nya tinggi, putih, cantik non. Namanya siapa ya .. eemmpp .. li li, siapa ya non”  
“Lyli ?!”
Aku tersentak. Apa mungkin Lyli ? lalu apa tujuan dia kerumahku ?
“Iya non ! namanya Lyli”
Jawab bibi setelah ingat nama Lyli.
“Tanya, untuk apa dia kesini. Untuk mencemooh aku karena aku tak lolos audisi. Atau hanya ingin pamer”
Aku kembali memainkan i-phone ku. Peduli banget sama Lyli. Dia udah hancurin harapanku.
 “Sha, ini aku Lyli. Aku mau ngomong”
 Terdengar suara di balik pintu kamarku. Suara itu tak asing. Lyli. Aku baru sadar kalau aku pernah memberinya alamat rumahku. Tak heran dia mengetahui rumahku.
 “Buat apa kamu kesini?!”
 “Sha, please aku mau ngomong”
 Aku mulai membukakan pintu kamarku dan menyuruhnya masuk.
 “Ada apa?”
Sebenarnya canggung berbicara ketus seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri. Tapi aku terlampau kesal.
“Aku tau, kamu kecewa tidak jadi pemeran disitu. Dan aku tau kamu pasti sangat terpukul mengetahui aku terpilih. Ini juga diluar dugaanku Sha. Aku sengaja mengundurkan diri. Aku tak mau menyakiti mu”
Kata-kata itu terlontar dari bibir Lyli.
 “Sungguh ?”
  “Iya sha”
 Aku memeluknya erat. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia.
 “Tapi Ly, aku masih benci aku tak terpilih. Aku akan membatalkan acara itu. Aku tak suka kalau itu bukan aku yang memerankan !”
 “Sha, itu tidak baik !”
 Lyli terkejut dengan ucapanku. Ya memang, aku benci pensi itu. Aku yang akan menghancurkan. Sekali aku benci, tetap benci.

                   ******

                   ‘Hhmmpp, aku harus mulai menjalankan misi ini. Aku akan hancurkan semua’
aku bergumam dalam hati. Acara telah dimulai. Semua penonton memenuhi tempat duduk.
‘Yeah, aku berhasil menyusup di dalam ruang kostum. Dengan api ini, aku bisa aja menghanguskan semuanya. Sebenarnya aku tak ingin membuat keributan. Tapi sayang, bukan aku yang dipilih untuk memeriahkan pensi ini, jadi sebentar lagi akan hancur. Ups, api nya jatuh. Selamat bersenang-senang’
Aku beranjak dari tempat itu dan menyusup keluar. Api berkobar dan dalam sekejap telah musnah. Aku tertawa kecil melihatnya.

                   ******

                   “Sha, yang menyebabkan  kebakaran kamu kan ?”
 Lyli bertanya padaku. Dengan enteng pula aku menjawab ya.
“Gila kamu itu. Kalau kepsek tau bagaimana ?! hancur hidupmu !”
“Sha ! kamu di panggil kepsek !”
 teriak Marsha di belakang pintu BP. Aku gugup. Apakah aku ketahuan ? tapi tak ada orang di ruang make up dan tempat kostum itu selain aku. Dengan tenang aku menemui kepala sekolah itu.
“Selamat siang pak, bapak memanggil saya?”
 Aku memasuki ruangan kepsek. Ngeri juga waktu inget kejadian waktu SMP.
 “Ya, saya memanggil kamu. Saya tau, kamu yang menyebabkan ruang pensi kebakaran kan !”
Apa ? kepsek tau ? mati deh riwayatku. Dari mana dia tau ?
 “Maaf pak sebelumnya, dari mana bapak bisa memvonis saya seperti itu ? apa bapak punya bukti ?”
 Ku beranikan aku mengelak dan bersikap tak ada kesalahan.
“Ini”
Astaga ! ternyata di ruangan itu ada CCTV ! dan tak terbakar ! aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Banyak saksi disitu.
“Maaf pak, saya jujur  memang saya. Saya iri pak melihat saya tidak terpilih dalam audisi tersebut. Maafkan saya pak”
“Ini kesalahan fatal Asha. Pihak sekolah rugi besar. Saya tetap memberimu hukuman”
“Maafkan saya pak, saya khilaf”
Ku titik kan air mata disitu. Aku tak habis pikir akan terjadi seperti ini.
“Saya hanya ada 2 pilihan Asha. Kamu boleh memilihnya”
“Apa itu pak ?”
“Keluar dari sekolah ini atau setiap hari membersihkan ruangan pensi sampai kamu lulus !!
TAMAT

0 komentar on "Titian Angsa"

Posting Komentar

Rabu, 06 Februari 2013

Titian Angsa


Kkkrrrriiinnnggg, kkkrrrrriinngg, kkkrrriinnngg.
Jam weker unguku berdering. Membangunkanku dari tidur semalam. Dari mimpi buruk yang mengawali gerimis pagi ini. Aku menyeruak dibalik selimut unguku, dingin masih merayap di badan. Teringat jelas semua ini. Ah, tidak perlu kumembayangkannya lagi.
           “Bi, Ayah dan Bunda di mana?”
 Mataku masih sembab akibat menangis semalam. Masih merah dan membengkak. Kurasa Bibipun mengetahui hal tersebut.
“Oh, kalau Nyonya baru sarapan di bawah neng. Kalau Tuan, sepertinya sudah bekerja. Mungkin karena tergesa-gesa, jadi tidak sempat sarapan bersama neng Asha.  Pagi ini tuan akan ke Singapura, katanya ada meeting mendadak”
Ah, bosan! Mengapa aku jarang bertemu Ayah? Aku kangen Ayah, tapi Ayah selalu tidak di rumah. Memang, rumahku cukup besar dan aku memiliki banyak fasilitas di sini. Bahkan kelak ini akan menjadi rumahku. Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur bank internasional, Bundaku pemilik perusahaan asing, dan Kak Morgan kakakku adalah seorang yang cukup pintar di sekolahnya. Saat beranjak dewasa, aku merasa tidak ada yang menanggapku lagi. Semua orang sibuk. Sejak kepergian Kak Morgan untuk bersekolah di Amerika, aku merasa sendiri.
“Hai Bunda”
“Hai sayang! Sudah bangun ya, ayo sarapan dengan Bunda”
Senyumannya mengawali hari burukku. Senyuman yang kunanti-nanti dari dulu, akhirnya datang menyambutku.
“Tumben,  Bunda di rumah. Biasanya kalau Asha dari bangun sampai tidur tidak pernah bertemu. Bunda kan sibuk dengan pekerjaan Bunda,  sampai-sampai lupa dengan anaknya”
 Bunda menatap ku dalam, namun aku tidak berani untuk menatap bola matanya. Apakah dia marah? Atau …..
“Sayang, Bunda tahu kamu kesepian. Maafkan Bunda ya, Bunda janji minggu depan Ayah, Bunda dengan Kak Morgan akan di rumah. Kita akan berkumpul bersama”
“Benar Bunda? Bunda serius?”
 “Serius sayang”
Tidak kurasa, kata-kata itu muncul dari bibir Bunda. Kupeluk Bunda dan kuucapkan terimakasih.  Sejenak, pandangan kosong pun berubah menjadi harapan yang akan datang.

                   ******

                   Ini pertama kalinya aku berada di SMA Xuneius, Bandung. Sebenarnya, berat harus meninggalkan sahabat-sahabatku di Jakarta. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di Jakarta. Ayah harus tinggal di Bandung. Terpaksa  kami sekeluarga harus ikut di Bandung. Toh, di Bandung pun aku tidak rugi aku tetap bebas. Aku tetap bisa jalan-jalan dengan mobil ungu kesayangannku. Aku tetap bisa pergi dengan temanku. Tidak ada yang mengekangku, semua terserah apa mauku.  
Mobilku terhenti di Gerbang SMA Xuneius. Terpampang jelas gerbang berwarna emas itu dan waw ! SMA ini lumayan besar. Dengan arsitektur modern bertingkat 4. Halamannya lumayan bersih dan luas. Rumput-rumput itu terpotong rapi berjajar.  Ada juga semacam bonsai yang dibentuk indah serta dipotong membentuk tulisan SMA Xuneius. Mungkin aku akan betah di sini. Entahlah, semua tergantung keinginanku. Ada juga pahatan-pahatan bentuk arsitektur SMA Xuneius.  Menarik, lantai mushollanya juga bersih sekali, sejuk.
Kualihkan pandanganku sejenak dan kuparkirkan mobilku di parkiran samping lapangan basket. Rata-rata di sini anak orang kaya. Aku bisa berfikiran begitu karena mereka sebagian besar naik mobil atau motor keren dan sebangsanya. Entahlah tidak terlalu penting bagiku. Hari ini, akanku mulai hariku beranjak di SMA, di kota lain. Di sini aku harus merubah sifat burukku. Aku selalu iri jika seseorang bisa menyaingiku. Aku tidak suka itu. Maka di sinilah, aku harus merubah image burukku. Fantastic!
                   Kutelusuri lorong SMA ini, cantik. Aku berhenti di kelas X A dan ternyata pelajaran hampir dimulai. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka merasa ada yang asing, karena mereka baru melihatku. Aku segera duduk di bangku kosong di samping perempuan yang berparas cantik, putih, tinggi, dan lucu. Dia tersenyum, dan aku  membalasnya.  
“Pagi anak-anak” 
“Pagi Bu”
Kulepaskan pandanganku ke guru itu, mungkin umurnya masih sekitar 30-an, dengan style yang lumayan cantik, berbalut rok ungu dan jas ungu yang berpadu padan menarik.
“Nama saya Nurinta, saya mengajar bahasa Jepang di sini. Ada sebagian murid yang sudah kenal saya kan ? Tetapi ada murid baru pindahan di sini. Silahkan Asha, bisa berdiri di depan, dan perkenalkan dirimu”
Dengan malu-malu, akupun menlangkah ke depan kelas dan memandang satu persatu wajah teman-teman baruku. Kebetulan aku memang cukup pandai dalam Bahasa Jepang dan kuperkenalkan diriku dengan Bahasa Jepang.
“Konichiwa yujin”  ( Hai teman-teman )
“Konichiwa yuko o” ( Hai juga )
Jawab mereka serempak.
“Watashi no namae wa Pasha Anndyta Jihan. Anata wa watashi Asha. Yobidasu koto ga dekimasu. Watashi wa shuto Tunas Harapan 1 Jakarta. No izure ka o negatte imasu. Watashi wa, jutako no burokku bango Andryta 14 ni sunde iru. Watashi no chici wa, bandon ni aru jobu o henko shitanode, watashi wa koko ni ido. Watashi no sumi wa suiei to katsudo shite iru. Watashi no shokai no yo ni oku no. Dare mo watashi nitsuite no shosai o shitsumon shiyou to suru baai, Watashi to issho ni jibun, jishin ni toute kudasai. Watashi wa anata-tachi kara no shitsumon ni kotaeru jinbi ga dekite imasu. Kansha”
 ( Nama saya Pasha Anndyta Jihan, kalian bisa panggil saya Asha. Saya dari SMP Tunas Harapan 1 Jakarta. Saya tinggal di Perumahan Andryta blok A no 14. Saya pindah ke sini karena Ayah saya pindah kerja di Bandung. Hobby saya renang dan main acting. Sekian perkenalan dari saya, jika ada yang mau bertanya lebih jauh tentang saya, silahkan bertanya pada jam istirahat. Saya siap menjawab pertanyaan dari kalian. Terimakasih )  
Kupandangi satu persatu wajah teman baruku. Sebagian dari mereka mungkin hanya mengandalkan style, atau hanya dianggap ajang kecantikan. Menurutku, aku turut memperhatikan style, tetapi sekolah bukanlah ajang untuk bergaya. Seperti di Singapura, di sebuah tempat untuk menuntut ilmu mereka tak pandang bulu. Ada yang memakai celana rumah, kaos, dan hot plant. Bahkan, untuk mengerjakan tugas bersama walaupun berlawan jenis, mereka di sana biasa saja di anggap teman, bukan seperti disini, ngobrol atau berjalan bareng saja dianggap ada hubungan  yang spesial. Aku tak mengerti jalan pikiran anak di sini. Bu Nurinta pun membuyarkan lamunanku, beliau menyuruhku untuk kembali ke tempat. Aku kembali ke bangkuku. Pelajaran pertama di Bandung, resmi kumulai .........

                   ******

                   Ternyata , temanku yang satu bangku denganku bernama Lyli. Dia tinggi, cantik, putih, humoris, dan terutama baik hati. Baru kenal 20 menit yang lalu saja  aku selalu terpingkal-pingkal jika ngobrol dengan dia, semoga saja dia bisa menjadi sahabatku di Bandung ini. Saatnya istirahat, aku dan Lyli menuju kantin sekolah. Aku juga diajak Lyli berkeliling SMA ini dan sudah kuduga, sekolah ini memang indah. Dibagian belakang ada taman yang menyerupai green house. Ada bangku panjang yang di letakkan di bawah naungan pohon akasia, teduh sekali. Banyak warna-warni bunga yang berwarna ungu disana. Apakah bangunan ini habis direnovasi, catnya terlihat masih baru. Bangunannya juga bagus. Aku akan nyaman disini. Seluruh ruangan bahkan di toiletnya pun bersih. Tak sia-sia aku pindah ke Paris Van Java ini. Udara disini juga cukup segar. Tidak seperti di Jakarta, penuh polusi. Di Bandung juga sering melakukan penanaman pohon . Dan itu sangat tepat untuk mengurangi global warming. pengetahuanku cukup luas tentang Bandung dalam 5 hari ini.
“Yuk, duduk di bawah pohon itu saja, pesan makanan”
 Ajak Lyli sambil menarik tanganku.
 “Iya Lyli , sabar dong”
 “Bu Kantin !”
Teriak Lyli memanggil Ibu yang menjaga Kantin SMA Xuneius.
 “Iya neng , mau pesen apa ?”
 “Oh , kalau aku mau pesen bakso aja, minumnya juice alpukat. Kalau kamu apa Sha ?”

..........................( hening )..................................
“Hello ? Sha ?” Lyli membuyarkan lamunanku.
 “Oh ya Ly, ada apa ?” 
“Ngelamunnin apa sih ? mau pesen apa ?”
 Lyli sepertinya heran, aku seperti tidak conect waktu itu.
“Emm, aku pesan kentang goreng dan minumnya juice melon saja deh” Kataku dengan meyakinkan Lyli tidak terjadi apa-apa.
 “Sha, ada apa sih ? cerita dong sama aku”
Mata Lyli menatapku dalam. Ada rasa keingintahuan tentang aku.
“Lyli, aku tidak ngalamunin apa-apa kok”
 “Sha, please”
Aku tak bisa mengelak. Dia menyuruhku untuk bercerita. Dengan terpaksa aku akan bercerita. Jujur, aku tak ingin menceritakan masalahku ini ke orang yang baru saja ku kenal. Tapi, bagaimana lagi dialah satu-satunya teman yang dekat dengan ku di Bandung ini. Matanya memancar menatapku tajam. Sepertinya dia siap untuk mendengarkan ceritaku. Aku tak tega membuat dia menunggu lama. Aku diam sejenak untuk mengatur nafas, dialah satu-satunya orang yang tau masalahku di Bandung ini.
“Jadi begini Ly, aku memiliki masalah yang berat. Amat sangat berat. Sampai 2 minggu ini, aku susah tidur karena memikirkan masalah ini. Ada yang mengganjal dihatiku”
Aku hela nafas ku sekali lagi dan dia masih setia mendengarkan curhatku.
“Aku memiliki beberapa masalah yang tidak bisa ku atasi”
Pembicaraanku terhenti karena hidangan kami telah datang. Kutatap matanya, dia tak menyentuh makanannya sedikitpun. Dia masih seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun. Dia antusias mendengarkan cerita ku, dan ku lanjutkan ceritaku karena mungkin dia ingin mengenal aku lebih dalam.
“Masalahku yang pertama, Aku kehilangan seorang kekasih bernama Aryo, dia selingkuh dengan sahabatku, Lyani. Sampai saat ini aku masih encintainya, namun harus ku pendam dalam hati. Padahal aku sangat mencintainya. Masalahku yang ke 2, adalah kejujuran. Aku .... Aku pernah mencuri kunci laci meja Kepsek, agar Kepsek tidak bisa membuka laci mejanya. Aku mempunyai masalah waktu SMP, sewaktu itu aku pernah ketahuan merokok. Tapi sumpah pertama kali coba, aku tak mengetahui apa itu. Aku hanya diajak temanku untuk mencobanya, aku bebas dirumah. Tidak ada yang mengekangku. Dari sanalah aku mencoba-coba, Kepsek tau dari temanku. Beliau menggeledah tasku dan menemukan 2 batang rokok. Beliau menyita rokok itu sebagai bukti tuk diserahkan kepada orang tuaku. Aku tidak ingin mereka tau, aku malu. Aku juga tidak mau membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku mencuri kunci laci beliau agar tak bisa membuktikan. Dan, aku masih merasa bersalah hingga hari ini. Kamu tau kan, bagaimana perasaanku ? Aku tak kuat lagi. Apa yang ku lakukan semua tak berguna”
 Mulut Lyli bergerak perlahan  seperti akan mengatakan sesuatu. Panas juga pantatku duduk serius dari tadi. Dan mungkin makananku telah dingin. Aku tidak menghiraukan itu.
“Asha, aku tau bagaimana perasaanmu. Walaupun baru 4 jam aku mengenal mu, tapi aku tau kamu itu perempuan tegar. Menurutku cukup banyak dan cukup berat masalahmu tadi untuk anak SMA. Kau hanya di beri Tuhan cobaan. Kau tau sobat, Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya yang melebihi batas kemampuannya. Kau hanya berada di kebingungan sementara. Sekarang kau tidak lagi di SMP Asha, kamu sudah SMA. Lupakan itu semua. Menurutku masalahmu tadi banyak jalan keluarnya. Yang pertama, soal kekasihmu. Ayo Sha, dia kamu itu cantik, baik, pintar, banyak yang suka denganmu. Kamu pasti dapat menemukan yang lebih baik dari Aryo. Itu membuktikan bahwa dia bukan laki-laki yang setia.tidak usah perdulikan dia. Suatu hari nanti, dia pasti  sadar apa yang dia perbuat. Yang ke 2, lebih baik kamu mengaku saja. Minta maaf lah dengan Kepsek SMP mu. Lakukan yang ingin kamu lakukan selagi itu positif . Banyak hal yang bisa kamu lakukan disini. Aku akan membantumu selagi aku mampu. Aku selalu disisimu. Bagaimana cantik ? setuju ?”
Di ulurkannya kelingking manisnya di hadapanku , dan ku gapai kelingking itu
“Setuju Lyli, makasih ya, eh ayo dong dimakan. Keburu dingin. Kalau Aku lapar nanti aku kering kerontang bertandus lagi ”
 Ku cairkan suasana tadi dengan gurau, semoga yang dikatakan Lyli akan menjadi motivasiku d sini.

          ******

  Hallo Para Siswa !! Ada Drama Musical Putra Putri Xuneius lho ! Untuk Ajang Pementasan Pensi . Ayo Daftarkan Dirimu Di Sekretaris Osis Paling Lambat tanggal 5 Agustus !! Tunjukan Aksimu Lewat Gayamu

                                    Panitia
           
                                 Ketua Osis

                        “Lyli !”
Dia menoleh kepadaku. Dia menghampiriku dengan 2 pita di rambutnya. Lucu juga menurutku.
“Kamu liat tidak ? pengumuman ini ?”
Aku menunjuk pengumuman itu. Dia menyeruak tanganku dan terdiam membacanya.
“Wah, kamu kan hobi banget maen akting, ikutan sana ! siapa tau bisa masuk”
 “Aku ikut kalau kamu ikut”
Aku berjalan menyusuri lorong kelas ku.  Teman-teman sudah menyapaku. Aku duduk di bangku samping Lyli.
“Wah, aku tidak bisa main akting ! percuma aku ikut. Pasti kalah”
 “Lyli, jangan pesimis dulu. Pokoknya kamu harus ikut ! aku daftarkan kamu di Sekretaris OSIS”
Dengan sedikit paksaan akhirnya Lyli mau juga. Aku tak perlu kesepian saat audisi itu. Ada Lyli sahabatku.

                   ******

                   Audisi hampir dimulai. Aku melihat kurang lebih 88 siswa yang berminat mengikuti audisi ini. Aku semakin antusias. Aku mendapat nomor dada 3 dan Lyli 4. Dengan berbekal pengalaman akting ku yang dulu, aku siap mengikutinya dan semoga saja aku dapat masuk untuk mengisi pensi. Aku melihat mimik muka para peserta yang lain. Sebagian dari mereka pucat.  Mungkin demam panggung. Peserta ke 2 telah selesai. Saatnya aku memberikan yang terbaik. Aku mulai gugup. Tanganku sudah dingin.
“Semangat Asha ! tunjukkan kamu yang terbaik !”
Kata-kata itu menjadi motivasi ku. Ya , aku yang terbaik. Aku mulai di atas panggung dan memberikan hormat kepada dewan juri. Aku meragakan sebagai Cinderella. Tepuk gemuruh bergetar di ruangan itu setelah aku selesai. Aku tersenyum dan aku yakin . Hanya aku yang masuk jadi pemain utama !
“Nomor dada 4 .. Lyliani Sarah Cardyna”
 Dewan juri sudah memanggil nama Lyli. Mukanya juga merah. Selama aku melihat akting nya, aku rasa lebih bagus aktingku. Tepuk tangan pun tak ada hingga dia selesai. Aku semakin yakin aku adalah pemeran terbaik. Tak ada yang pantas. Hanya aku.

                   ******
          Setelah menunggu selama 2 hari, pengumuman yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sangat siap mendengarnya, kalian tau kenapa ? aku tau, aku yang berhasil.
 “Ly, aku gugup”
 “Tidak perlu gugup Asha, kamu pasti terpilih, percayalah”
 “Semoga kau benar Ly”
Aku semakin erat menggenggam tangannya . Padahal waktu itu ruangan tak ber-AC. Kulihat pengumuman itu. Ku cari namaku dan .... Astaga ! aku tak terpilih sama sekali ! dan yang lebih membuatku shock, Lyli. Lyli sahabatku menjadi pemeran utama ! aku berlari meninggalkan Lyli yang saat itu juga tertegun mengapa dia bisa menjadi pemeran utama. Padahal dia tak bisa akting sama sekali. Aku yang mengajarkannya. Mengapa aku kalah dengannya ? aku tak habis pikir dengan dewan juri ! tak adil ! aku yang berhak ! bukan Lyli ! aku benci !

                   ******

Tok tok ,, tok tok ,,
 “Masuk, tidak di kunci”
 Kata ku di balik pintu kamarku. Aku masih sedih dengan kejadian tadi siang.
 “Neng, ada temannya eneng di luar”
Bibi masuk perlahan ke kamarku. Temanku ? siapa ? apa temanku dari jakarta ?
 “Eemmpp Bi, teman ku siapa ?”
Tanya ku keheranan. Maklum, sejak pindah kesini tak ada temanku yang berkunjung kerumahku.
“Anak nya tinggi, putih, cantik non. Namanya siapa ya .. eemmpp .. li li, siapa ya non”  
“Lyli ?!”
Aku tersentak. Apa mungkin Lyli ? lalu apa tujuan dia kerumahku ?
“Iya non ! namanya Lyli”
Jawab bibi setelah ingat nama Lyli.
“Tanya, untuk apa dia kesini. Untuk mencemooh aku karena aku tak lolos audisi. Atau hanya ingin pamer”
Aku kembali memainkan i-phone ku. Peduli banget sama Lyli. Dia udah hancurin harapanku.
 “Sha, ini aku Lyli. Aku mau ngomong”
 Terdengar suara di balik pintu kamarku. Suara itu tak asing. Lyli. Aku baru sadar kalau aku pernah memberinya alamat rumahku. Tak heran dia mengetahui rumahku.
 “Buat apa kamu kesini?!”
 “Sha, please aku mau ngomong”
 Aku mulai membukakan pintu kamarku dan menyuruhnya masuk.
 “Ada apa?”
Sebenarnya canggung berbicara ketus seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri. Tapi aku terlampau kesal.
“Aku tau, kamu kecewa tidak jadi pemeran disitu. Dan aku tau kamu pasti sangat terpukul mengetahui aku terpilih. Ini juga diluar dugaanku Sha. Aku sengaja mengundurkan diri. Aku tak mau menyakiti mu”
Kata-kata itu terlontar dari bibir Lyli.
 “Sungguh ?”
  “Iya sha”
 Aku memeluknya erat. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia.
 “Tapi Ly, aku masih benci aku tak terpilih. Aku akan membatalkan acara itu. Aku tak suka kalau itu bukan aku yang memerankan !”
 “Sha, itu tidak baik !”
 Lyli terkejut dengan ucapanku. Ya memang, aku benci pensi itu. Aku yang akan menghancurkan. Sekali aku benci, tetap benci.

                   ******

                   ‘Hhmmpp, aku harus mulai menjalankan misi ini. Aku akan hancurkan semua’
aku bergumam dalam hati. Acara telah dimulai. Semua penonton memenuhi tempat duduk.
‘Yeah, aku berhasil menyusup di dalam ruang kostum. Dengan api ini, aku bisa aja menghanguskan semuanya. Sebenarnya aku tak ingin membuat keributan. Tapi sayang, bukan aku yang dipilih untuk memeriahkan pensi ini, jadi sebentar lagi akan hancur. Ups, api nya jatuh. Selamat bersenang-senang’
Aku beranjak dari tempat itu dan menyusup keluar. Api berkobar dan dalam sekejap telah musnah. Aku tertawa kecil melihatnya.

                   ******

                   “Sha, yang menyebabkan  kebakaran kamu kan ?”
 Lyli bertanya padaku. Dengan enteng pula aku menjawab ya.
“Gila kamu itu. Kalau kepsek tau bagaimana ?! hancur hidupmu !”
“Sha ! kamu di panggil kepsek !”
 teriak Marsha di belakang pintu BP. Aku gugup. Apakah aku ketahuan ? tapi tak ada orang di ruang make up dan tempat kostum itu selain aku. Dengan tenang aku menemui kepala sekolah itu.
“Selamat siang pak, bapak memanggil saya?”
 Aku memasuki ruangan kepsek. Ngeri juga waktu inget kejadian waktu SMP.
 “Ya, saya memanggil kamu. Saya tau, kamu yang menyebabkan ruang pensi kebakaran kan !”
Apa ? kepsek tau ? mati deh riwayatku. Dari mana dia tau ?
 “Maaf pak sebelumnya, dari mana bapak bisa memvonis saya seperti itu ? apa bapak punya bukti ?”
 Ku beranikan aku mengelak dan bersikap tak ada kesalahan.
“Ini”
Astaga ! ternyata di ruangan itu ada CCTV ! dan tak terbakar ! aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Banyak saksi disitu.
“Maaf pak, saya jujur  memang saya. Saya iri pak melihat saya tidak terpilih dalam audisi tersebut. Maafkan saya pak”
“Ini kesalahan fatal Asha. Pihak sekolah rugi besar. Saya tetap memberimu hukuman”
“Maafkan saya pak, saya khilaf”
Ku titik kan air mata disitu. Aku tak habis pikir akan terjadi seperti ini.
“Saya hanya ada 2 pilihan Asha. Kamu boleh memilihnya”
“Apa itu pak ?”
“Keluar dari sekolah ini atau setiap hari membersihkan ruangan pensi sampai kamu lulus !!
TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez