Rabu, 06 Februari 2013

Langkah Tertahan

Diposting oleh Unknown di 01.37

“Cheecy, ayo sayang, nanti kamu di tunggu Fiolind Dance lho”
“Iya-iya, tunggu  sebentar Darrell sayang, aku mau ambil tas dulu. Nanti aku pulangnya bareng kamu atau aku naik mobil sendiri ? kalau aku bareng kamu, nanti aku nelfon Mang Ujang  suruh ambil mobilku”
“Kasihan Mang Ujang sayang, harus bolak-balik. Ya sudah gini saja, kamu aku anter di Aula Dance, tapi kamu pulangnya sendiri tidak apa-apa kan ? bukannya Darrell tidak mau mengantar kamu, tapi kasihan sama Mang Ujang. Besok saja ya, kita pulang bareng sekalian ke Mall”
Ku anggukkan kepala ku ringan dan aku pun melenggang pergi meninggalkan Darrell, kekasihku sesampainya aku di Aula Dance.
Aku menyusuri lorong ruangan dance itu. Kepala ku pening. Entah kenapa. Mungkin karena pelajaran Matematika, Pak Dandy tadi atau karena aku..... Ah, tidak ku hiraukan, yang penting, aku sudah siap untuk berlatih dance hari ini dan semoga saja itu tidak akan kembali didiriku.
“Lama banget sih Cy”
Aku tersenyum melihat wajah Sari yang cemberut itu. Ku letakkan tas pinggangku dan menyapa yang lain. Ya, kami terdiri dari 5 anggota Fiolind Dance. Dance terpopuler dan sampai di tingkat nasional. Kalian tau apa yang membuat ku sangat bangga ? memang, Ketua Dance ini adalah aku. Aku cukup bertanggung jawab dan populer di SMA ini.
“Maaf ya. Tadi di kelasku ada les tambahan oleh Pak Dandy. Kalian sudah menunggu lama ya ? sekali lagi maaf ya”
Aku duduk di kursi dance samping tipe. Ku dekati Sari yang sering cemberut tidak  jelas. Namun, jika aku jadi Sari pun aku pasti bosan. Karena hampir 2 jam menunggu.
“Ya sudah deh, tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau telat kan kamu bisa sms aku”
“Lho, bukankah peraturan di SMA ini tidak boleh membawa handphone ? aku tak mau melanggar peraturan itu.”
“Oh iya ya, aku baru inget. Cheecy kok di ajak melanggar peraturan, ya pasti tidak mau lah. Kalau ada lomba tidak pernah disiplin, aku pasti menang, sedangkan kau, sudah tereliminasi saat mendaftar”
Gelak tawa menggelegar. Memang, Sari, sahabat ku satu ini sifatnya kadang menyebalkan, kadang juga lucu. Ah, dasar Sari. Sebenarnya dia bisa di bilang yatim piatu. Cerita eyangnya, dia itu dari lahir sudah ditinggal ayahnya menikah lagi di luar negeri. Dan saat ibunya melahirkan Sari, ibunya meninggal. Itu yang membuat kami simpatik dengan dia, walaupun kadang rasa sebal dengannya melanda kami. Namun, dia anak yang baik. Aku suka kepribadiaanya. Lucu, menyebalkan, baik hati, pintar, supel, suka menolong. Beda denganku. Aku lebih cenderung mengurung diri di kamar untuk  menciptakan gerakan-gerakan baru, mencari lagu dance, membuat komik, novel, main game, twitter, atau yang berhubungan dengan hobbyku. Aku tak bisa seperti Verend yang atlit renang, seperti Sandra yang jago bersepeda dan mendapat juara nasional, ataupun Sari yang sering membantu eyangnya bekerja di restaurant. Yaah, inilah hidupku. Penuh membosankan. Mungkin jika aku tidak memohon pada Papi untuk mengikuti Dance di sekolah, aku hanya jadi pemurung. Semua aktivitasku tergantung ini semua. Andai aku dapat memohon kepada Tuhan, aku ingin semua ini di ambil saja. Aku bangga dengan semua prestasi ku, aku bangga memiliki orang tua yang penyayang, dan pengertian, aku senang dengan semua sahabat ku dan guru yang selalu di sampingku, aku bersyukur memiliki kekasih yang mencintai dan melindungiku, aku selalu bersyukur dengan semua yang kumiliki. Namun tidak untuk satu hal ini, aku selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa harus Cheecy yang merasakan. Cheecy memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Cheecy tidak ingin semua nya hancur lenyap akibat ini. Dan aku mohon, ini akan selalu baik denganku.
“Yuk, latihan”
Aku mengambil handuk ungu dan ku sampirkan di leherku. Aku berada di posisi paling depan, kedua Sari, ketiga Angel, keempat Vita, dan kelima Ajeng. Ya, mereka sahabatku sekaligus patnerku.
“Tunggu Cy !  kamu mimisan !!”
Angel berteriak memberitahuku. Semua memandangku dengan menyeritkan alis. Ku usap hidungku dengan handuk tadi, benar darah mengalir di rongga hidungku. Angel dan Sari segera membantuku berjalan menuju ruang UKS. Sedangkan Ajeng dan Vita beranjak ke ruang guru untuk memberitahuku kalau penyakitku kumat. Aku telah sampai di UKS di temani kedua sahabatku. Aku pun merebahkan diri di kasur itu. Kepalaku terasa pening, pandanganku buram dan hitam. Aku tak merasakan apa-apa, terasa ringan.

******             

“Alhamdulillah, sudah siuman. Kamu tidak apa-apa kan sayang ?”
Ku buka mataku perlahan. Disini aku melihat alat untuk bernafas, detak jantung, pengukur suhu, selang, infus, dan alat-alat dokter yang tidak ku ketahui namanya. Yeah, aku kenal tempat ini. Jika aku mimisan dan pinsan, tempat ini lah yang ku lihat pertama kali. Rumah Sakit Karfa, ya aku bosan disini.
“Cheecy tidak kenapa-kenapa kok Pi”
Aku tersenyum meyakinkan Papi dan Mami ku kalau aku baik-baik saja. Mereka selalu cemas denganku. Mereka sering meninggalkan pekerjaan yang lumayan untuk keperluan hidup sehari-hari demi menemaniku di rumah sakit membosankan ini. Aku sangat sedih jika mengetahui Papi di telfon dan di marahi oleh client nya dengan alasan sering menunda meeting, ataupun karena atasannya. Atau Mami, yang selalu sedih jika Bakerry Brownis nya sering tutup karena beliau sering menemaniku disini. Mami memiliki pegawai yang tidak dapat di andalkan.
“Kalau kamu sering sakit begini, Papi tidak mau mengambil resiko sayang. Kamu harus merelakan Dance mu.”
“Iya Cheecy, Mami tidak mau. Semenjak 8 bulan terakhir ini, kamu sering sekali keluar masuk rumah sakit. Kata Dokter, Leukimia mu nanti bertambah parah kalau kamu sering kecapean.”
Aku menghela nafas sejenak. Ku pandangi bola mata berair Mami. Aku tidak mungkin harus meninggalkan Dance. Dance adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ku lakukan selain harus berdiam diri di kamar. Namun, aku juga tidak dapat memaksakan ego ku. Aku harus tetap sehat dan membahagiakan Mami dan Papi. Aku anak semata wayang mereka, jika suatu hari kelak aku meninggalkan mereka lebih awal, mereka sangat terpukul, tapi........
“Tapi Mi, maaf. Cheecy tidak dapat meninggalkan ini semua. Cheecy juga memiliki aktivitas selama Cheecy masih hidup. Tidak harus berdiam diri di kamar. Cheecy tau, Papi dan Mami pasti sangat terpukul. Maafkan Cheecy Mi, Pi”
“Tapi Cheecy, kamu kan memiliki.....”
“Iya Pi, Cheecy tau. Semua fasilitas Cheecy terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Cheecy bisa di kamar bermain i-Phone, membaca novel, membuat cerpen, memasak, dan lain-lain. Bahkan, Papi membolehkan Cheecy memiliki pacar untuk menemani Cheecy. Tapi Pi, Cheecy  ingin sekali meneruskan ekstra Dance itu. Papi dan Mami tau kan, berapa kejuaraan yang di dapat Fiolind Dance ? Cheecy mohon Pi, Mi”
Ku teteskan air mata perlahan. Penyakit ini, menyita waktuku untuk kegiatan seperti anak yang lain, yang bisa berenang, volly, basket, climbing, ataupun badmintont. Itu akan menguras penuh sisa-sisa hidupku. Aku ingin hidup wajar seperti mereka. Aku pernah, sekali berenang di belakang rumah tanpa diketahui siapapun. Dan baru 20 menit, aku sudah pinsan. Entah, apa gunanya dirumah ada kolam renang besar jika aku tidak dapat memakainya ? aku ingin itu.
“Saaayyyaaannngg”
Mataku tertuju di pintu ruangan ku. Seseorang memakai jaket putih dengan T-Shirt putih dan jeans. Darrell Putra ! yeah, dia kekasihku. Dia sangat perhatian denganku. Dia tidak pernah mengeluh soal penyakitku ini. Aku beruntung memilikinya, dialah separuh nafasku. Dia selalu menemaniku, membimbingku, menasehatiku, menjagaku, mengajariku, dan mencintaiku dengan cara yang sempurna.
“Kamu tidak apa-apa kan ?”
Raut wajah kekhawatirannya memusatkan perhatianku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Aku menggelengkan kepala.
“Oh, syukurlah. Tadi aku di beritahu Angel, kalau kamu dirumah sakit. Aku cemas dengan keadaanmu.”
“Iya, makasih ya. Lho, bukannya kamu ada jadwal latihan basket ?”
“Iya, tapi aku izin sama Pak Oscar, untuk menemani kamu disini”
Aku tersenyum. Begitu besar rasa sayang semua orang yang berada di dekat ku. Pintu Ruangan ku terbuka, ternyata guru dan sahabat-sahabat ku yang terdiri dari Fiolind Dance. Mereka menjengukku. Aku merasa semua sayang padaku.
“Hai Cy, bagaimana kabar mu”
“Seperti yang kamu lihat Ri, lemas dan pucat. Tapi aku tetap semangat untuk berlatih Dance kembali”
Bu Nadin tersenyum dan memberiku parsel buah, dia menatapku dalam lalu menatap teman-temanku. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Dia menanggukkan kepalanya kepada Sari dan teman-temanku. Teman-temanku hanya menunduk tidak berani merespon. Suasana hening entah beberapa menit. Aku tidak mengerti, apa yang mereka maksud.
“Maaf sebelumnya, apakah saya dapat meminta waktu Papinya Cheecy sebentar ?”
Papi menanggukkan kepala dan pergi disudut ruangan bersama Bu Nadin. Raut wajah mereka serius sekali. Aku tidak mendengar apa yang di bicarakan. Namun pada akhir nya, sepertinya Papi mengucapkan
“Baiklah Bu, akan saya usahakan, semoga dia mau mendengarkan kita”
“Ada apa Pi ?”
Papi diam seribu bahasa. Ada apa ini ? semua beranjak minggir dari ranjangku. Hanya Darrell yang tidak beranjak dan tetap di samping ku memegang tanganku.
“Maaf Cy, sebelumnya. Maksud Bu Nadin dan teman-teman disini untuk....”
“Untuk memberitahuku jika ada lomba Dance tingkat Asia ya ? waahh, Cheecy sudah tau. Kapan Bu Latihannya ? Cheecy sangat siap”
Ia menyeritkan kening. Lagi-lagi Bu Nadin diam. Apa ada yang salah dengan perkataan ku ? apa dia tersinggung ?
“Bukan itu Cheecy, maafkan ibu sebelumnya. Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Tapi ibu mohon, jangan sedih ya”
Aku hanya tersenyum. Entah apa yang akan dikatakan.
“Berhubung melihat kondisi kamu seperti ini, dan sebentar lagi Fiolind Dance akan ke tingkat Asia, ini bukan sembarang lomba. Butuh latihan ekstra dan ketahanan fisik yang tangguh, dengan berat hati, ibu akan keluarkan kamu dari Fiolind Dance. Kamu tidak mungkin mengikuti lomba sedangkan kamu sakit-sakit an seperti ini. Lomba ini sudah di nanti-nantikan sekolah kita. Dan, ibu mau harus yang terbaik”
Kata Bu Nadin.
“Apa ?! Cheecy dikeluarkan ? ibu yakin ? apa selama ini Cheecy kurang memuaskan ? Cheecy janji Bu, Cheecy akan berusaha yang sebaik mungkin”
“Cheecy, Bu Nadin benar. Kamu tidak usah mengikuti lomba ini. Kamu akan sakit terus menerus. Dan kamu adalah ketua Dance terbaik. Papi, Mami dan semua orang selalu puas dengan prestasi mu.”
Ayah membelai rambut ku yang dari tadi sesegukan. Aku tidak mau  meninggalkan Dance. Aku tidak bisa
“Bu, Cheecy mohon. Sekali ini saja. Ibu tau kan, umur Cheecy tidak akan berlangsung lama, apa ibu tega melihat saya berpisah dengan dunia ini ? saya senang dengan hidup saya. Dari kecil, saya sering melihat club Dance yang hebat. Saya ingin, tapi penyakit ini berkata tidak mungkin. Namun saya tau, saya bisa melakukannya selagi itu mampu. Dan sekarang ? dengan penyakit ini, saya mampu bertahan walaupun saya sering letih berlatih Dance. Apa itu tidak cukup pengorbanan saya bu ? bu, saya mohon.  Saya mengabdi di dunia ini untuk hidup dalam dunia Tuhan dan sosialisasi pendidikan. Dan di akhirat nanti, saya mengabdi untuk Tuhan sepenuhnya. Bahkan ibu pun tau, saya sering sakit. Para guru menganjurkan saya membawa handpone jika sewaktu-waktu saya sakit, tapi ? tidak pernah sekalipun saya membawanya. Sekali peraturan, tetap peraturan. Apa ibu tega ? bu, saya mohon saya ingin mengikuti itu. Saya janji, saya akan membawa piala kemenangan untuk sekolah kita”
Tidak ku lanjutkan kata-kataku, semua orang menangis sesegukan karena kata-kataku. Hanya Darrell yang setia di sampingku, menatap ku tanpa memperlihatkan kesedihannya. Walaupun aku tau, dia menangis di dalam hatinya.
“Cheecy, Ibu mohon maaf sekali lagi, ini peraturan sekolah. ibu tetap akan.....”
“Tetap menerima mu di Fiolind Dance. Tunjukkan prestasi mu yang terbaik nak, janji mu selalu bapak pegang. Dan perlihatkan bahwa kamu, Cheecy murid disiplin, pintar, tegar, dan satu kuat”
Di pintu utama terdapat bapak-bapak separuh baya tersenyum dengan menyambung kata-kata Bu Nadin tadi. Ya, dia Pak Slamet. Kepala sekolah ku.
“Pak Slamet”
“Iya Cheecy, kamu tetap mengikuti lomba tersebut. Kami dewan guru telah mendengar pembicaraan kalian di belakang pintu. Ayo Cheecy, kamu siswa paling berprestasi !!”
“Maaf sebelumnya Para Dewan guru, khususnya Pak Slamet. Tapi dia sakit pak, apa dia mampu ?”
Aku tidak dapat menepis rasa bahagiaku. Rasa bersyukur karena selalu di beri Allah perlindungan.
“Pasti Bu Nadin. Cheecy selalu bisa melakukannya. Saya tau, dia anak yang kuat”
Sahabat-sahabat ku pun berteriak dan memelukku. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk meneruskan hidupku kembali. Akan ku buktikan perkataan Pak Slamet tadi. Aku akan terus berusaha, dan tidak membuatnya kecewa. Ya, aku pasti bisa !!
                        *****

                        “Ayo Fiolind Dance !! tinggal 2 club Dance lagi, kita baru memulai di atas panggung besar itu di hadapan entah berapa ribu penonton disini. Siapkan mental masing-masing, karena aku tau ini tidak mudah. Kita sudah tidak berlomba dengan antar provinsi, melainkan negara !! motivasikan diri kita, yakinlah bahwa kita yang terbaik. Aku tau, pasti kalian akan demam panggung begitu juga aku. Namun disana, ada orang tua, guru, kepala sekolah, kekasih, dan kita sahabat selalu bersama. Buat sekolah kita yang terbaik ! tunjukkan itu !! Fiolind Dance !! Latihan kita selama 7 bulan kemarin memang terlampau singkat untuk lomba semacam ini, ini juga karena aku sering sakit, latihan sering di tunda. Lihat orang-orang yang kita sayang, mereka pasti juga harap-harap cemas menunggu kita. Berikan yang terbaik untuk mereka. Patahkan rasa cemas mereka saat melihat Dance kita yang begitu indahnya. Siap Fiolind Dance !!???”
“Siap !!”
Kita pun saling berpelukan dengan menyiapkan mental masing-masing. Dan aku tau, aku berada di paling depan. Aku, akan tunjukkan pada seluruh di Negara, kalau aku wanita kuat.
Next, the serial of 22 Fiolind Dance groups from Senior High School 1 Jakarta from Indonesia”
Sorak sorai gemuruh memekikkan telinga, pembawa acara telah memanggil Fiolind Dance untuk maju kedepan. Rasa gemetar, ragu, senang, was-was, bercampur menjadi satu di hatiku. Kelompokku pun maju di selingi sorak-sorai nama Fiolind Dance, aku pun yakin, ini pembuktian selama ini. Musik campuran Lady Gaga – Paparazi, Lady Gaga – Just Dance, Toxic, dan lainnya tertata dengan apik seperti latihan semula. Ku gerakkan badanku mengikuti irama yang sudah ku hafal sejak 7 bulan yang lalu. Ku lihat Darrell berteriak memanggil namaku. Begitupun orang tuaku, aku tersenyum meyakinkan bahwa aku bisa tanpa ragu sedikitpun. 5 menit telah berlalu Fiolind Dance dengan rasa cemas. Akhirnya selesai juga. Kami pun mengucapkan salam dan mengibarkan spanduk FIOLIND DANCE JUNIOR HIGH SCHOOL 1 JAKARTA !! . Saat berbalik arah menuju ke belakang, tiba-tiba kepala ku terasa pening, apakah aku kecapean karena perjalanan ke Singapura, sering memaksa latihan atau hanya nerveouse. Tiba-tiba semuanya gelap. Aku hanya melihat sesosok manusia baik hati yang datang menemaniku. Mengajakku bermain di tamannya. Aku menolak, karena aku belum berpamitan dengan orang yang ku sayang.
“Maaf ya kak, Cheecy belum berpamitan dengan orang tua Cheecy. Kalau Cheecy sudah mendapat kata boleh pergi, pasti Cheecy akan kesini kembali, bermain dengan kakak. Tunggu Cheecy ya kak, passti Cheecy kembali”
Aku tersadar dan bangun di tempat yang tidak asing bagiku. Di sampingku banyak orang yang melantunkan yassiinn. Aku tidak mengerti maksud ini semua. Ku lirik ada orang tuaku, sahabat-sahabat ku, Pak Slamet, dan Darrell. Mereka menangis tak terkendali.
“Papi, Mami”
Suara lirih menyerbu tenggorokanku. Rasanya sangat tercekat. Mereka semua mendongakkan kepalanya dan dengan cepat memelukku.
“Ada apa Pi, Mi ? apakah Cheecy pinsan lagi ? sudah lah, jangan menangis. Cheecy baik-baik saja”
Aku mencoba tersenyum di hadapan mereka. Aku tak ingin memperlihatkan wajah sedihku, bahkan rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan.
“Sayang, kamu tidak pinsan sembarang pinsan. Kamu sudah koma 7 hari. Bahkan dokter sudah menyerah. Hanya berdoa yang dapat kami lakukan”
“Aku sudah koma 7 hari ? maaf ya, aku tidur panjang”
Aku meringis dengan menunjukkan senyuman kesedihanku.
“Cy, ini ada sesuatu untukmu”
Bu Nadin memberiku sebuah benda yang tak asing bagiku. Ya, piala !!
“Piala ? piala apa Bu ? kenapa piala saya di bawa ke sini ?  bukankah semua piala saya berada di kamar saya ?”
“Cy, ini bukan piala seperti biasanya, ini piala kemenangan kita !! Fiolind Dance !! waktu koma, sudah ada pengumuman. Kau tau Cy, kita mendapat juara berapa ?! ke 2 Cy !”
Apa benar ? ya Allah, terimakasih telah mengabulkan doa ku. Aku, seorang yang penuh penyakit dapat menang dan menjadi ketua sebagai juara 2 Dance tingkat Asia !! Tuhan, inikah kebesaran-MU ? terimakasih ya Allah, terimakasih. Aku memeluk semua sahabatku. Tangis bahagia, haru, sedih, semua menjadi pelengkap detik-detik asa ku.
Semua menangis pilu ketika aku sudah tak kuat memegang piala kebanggan ku. Badanku lemah. Aku tersenyum melihat kekasihku yang menangis memegang tangan kecilku, aku begitu mencintainya. Sanggupkah aku meninggalkannya ?
“Mami, Papi, Bu Nadin, Pak Slamet, Sahabat-sahabatku, dan khususnya Darrell, aku mau minta maaf atas segala kesalahanku. Aku juga mau berterimakasih atas dukungannya selama ini. Berkat kalian, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku tidak bisa mengucapkan bagaimana bahagianya aku. Terimakasih. Aku hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal. Mata ku lelah, aku ingin tidur kembali”
“Cy, kamu itu ngomong apa ? Mami tidak mau kamu harus meninggalkan kita”
“Mami, Mami tau kan kalau Cheecy sayang Mami ? Mi, Cheecy lelah”
“Sayang, kuat ya”
Ku teteskan air mata perlahan membasahi wajah pucatku. Ku anggukkan kepala ku sejenak kepada Darrell.
“Semuanya, aku ingin tidur kembali. Aku sudah ingin pergi ke Taman Indah lagi. Untuk Mami dan Papi, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk Cheecy. Untuk Darrell, aku selalu mencintai mu sampai kita bertemu kembali dan untuk semua terimakasih, tanpa kalian hidupku tak berarti. Aku selalu menyayangi kalian”
Ku tutup mataku perlahan dengan dekapan tangan Darrell yang menemaniku. Entah, apakah aku sudah meninggal atau belum. Yang kurasa hanya tangisan, teriakan, tertekan, dan rasa sakit dalam tubuhku.
Pppiiippp, pppiiiipppp, ccciiittt, ppppiiippp pppiiippp, ccciiiittt
Hanya itu yang melekat di telingaku. Suara alat dokter. Entah apa itu.
Dan kata dokter, sisa umur ku 15 % lagi.
Jika aku meninggal, akan ku usap satu persatu tangisan itu walau lewat mimpi, namun jika Tuhan belum mau menjemputku, aku akan membalas kebaikan mereka semua dengan senyuman
           
            TAMAT

0 komentar on " Langkah Tertahan"

Posting Komentar

Rabu, 06 Februari 2013

Langkah Tertahan


“Cheecy, ayo sayang, nanti kamu di tunggu Fiolind Dance lho”
“Iya-iya, tunggu  sebentar Darrell sayang, aku mau ambil tas dulu. Nanti aku pulangnya bareng kamu atau aku naik mobil sendiri ? kalau aku bareng kamu, nanti aku nelfon Mang Ujang  suruh ambil mobilku”
“Kasihan Mang Ujang sayang, harus bolak-balik. Ya sudah gini saja, kamu aku anter di Aula Dance, tapi kamu pulangnya sendiri tidak apa-apa kan ? bukannya Darrell tidak mau mengantar kamu, tapi kasihan sama Mang Ujang. Besok saja ya, kita pulang bareng sekalian ke Mall”
Ku anggukkan kepala ku ringan dan aku pun melenggang pergi meninggalkan Darrell, kekasihku sesampainya aku di Aula Dance.
Aku menyusuri lorong ruangan dance itu. Kepala ku pening. Entah kenapa. Mungkin karena pelajaran Matematika, Pak Dandy tadi atau karena aku..... Ah, tidak ku hiraukan, yang penting, aku sudah siap untuk berlatih dance hari ini dan semoga saja itu tidak akan kembali didiriku.
“Lama banget sih Cy”
Aku tersenyum melihat wajah Sari yang cemberut itu. Ku letakkan tas pinggangku dan menyapa yang lain. Ya, kami terdiri dari 5 anggota Fiolind Dance. Dance terpopuler dan sampai di tingkat nasional. Kalian tau apa yang membuat ku sangat bangga ? memang, Ketua Dance ini adalah aku. Aku cukup bertanggung jawab dan populer di SMA ini.
“Maaf ya. Tadi di kelasku ada les tambahan oleh Pak Dandy. Kalian sudah menunggu lama ya ? sekali lagi maaf ya”
Aku duduk di kursi dance samping tipe. Ku dekati Sari yang sering cemberut tidak  jelas. Namun, jika aku jadi Sari pun aku pasti bosan. Karena hampir 2 jam menunggu.
“Ya sudah deh, tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau telat kan kamu bisa sms aku”
“Lho, bukankah peraturan di SMA ini tidak boleh membawa handphone ? aku tak mau melanggar peraturan itu.”
“Oh iya ya, aku baru inget. Cheecy kok di ajak melanggar peraturan, ya pasti tidak mau lah. Kalau ada lomba tidak pernah disiplin, aku pasti menang, sedangkan kau, sudah tereliminasi saat mendaftar”
Gelak tawa menggelegar. Memang, Sari, sahabat ku satu ini sifatnya kadang menyebalkan, kadang juga lucu. Ah, dasar Sari. Sebenarnya dia bisa di bilang yatim piatu. Cerita eyangnya, dia itu dari lahir sudah ditinggal ayahnya menikah lagi di luar negeri. Dan saat ibunya melahirkan Sari, ibunya meninggal. Itu yang membuat kami simpatik dengan dia, walaupun kadang rasa sebal dengannya melanda kami. Namun, dia anak yang baik. Aku suka kepribadiaanya. Lucu, menyebalkan, baik hati, pintar, supel, suka menolong. Beda denganku. Aku lebih cenderung mengurung diri di kamar untuk  menciptakan gerakan-gerakan baru, mencari lagu dance, membuat komik, novel, main game, twitter, atau yang berhubungan dengan hobbyku. Aku tak bisa seperti Verend yang atlit renang, seperti Sandra yang jago bersepeda dan mendapat juara nasional, ataupun Sari yang sering membantu eyangnya bekerja di restaurant. Yaah, inilah hidupku. Penuh membosankan. Mungkin jika aku tidak memohon pada Papi untuk mengikuti Dance di sekolah, aku hanya jadi pemurung. Semua aktivitasku tergantung ini semua. Andai aku dapat memohon kepada Tuhan, aku ingin semua ini di ambil saja. Aku bangga dengan semua prestasi ku, aku bangga memiliki orang tua yang penyayang, dan pengertian, aku senang dengan semua sahabat ku dan guru yang selalu di sampingku, aku bersyukur memiliki kekasih yang mencintai dan melindungiku, aku selalu bersyukur dengan semua yang kumiliki. Namun tidak untuk satu hal ini, aku selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa harus Cheecy yang merasakan. Cheecy memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Cheecy tidak ingin semua nya hancur lenyap akibat ini. Dan aku mohon, ini akan selalu baik denganku.
“Yuk, latihan”
Aku mengambil handuk ungu dan ku sampirkan di leherku. Aku berada di posisi paling depan, kedua Sari, ketiga Angel, keempat Vita, dan kelima Ajeng. Ya, mereka sahabatku sekaligus patnerku.
“Tunggu Cy !  kamu mimisan !!”
Angel berteriak memberitahuku. Semua memandangku dengan menyeritkan alis. Ku usap hidungku dengan handuk tadi, benar darah mengalir di rongga hidungku. Angel dan Sari segera membantuku berjalan menuju ruang UKS. Sedangkan Ajeng dan Vita beranjak ke ruang guru untuk memberitahuku kalau penyakitku kumat. Aku telah sampai di UKS di temani kedua sahabatku. Aku pun merebahkan diri di kasur itu. Kepalaku terasa pening, pandanganku buram dan hitam. Aku tak merasakan apa-apa, terasa ringan.

******             

“Alhamdulillah, sudah siuman. Kamu tidak apa-apa kan sayang ?”
Ku buka mataku perlahan. Disini aku melihat alat untuk bernafas, detak jantung, pengukur suhu, selang, infus, dan alat-alat dokter yang tidak ku ketahui namanya. Yeah, aku kenal tempat ini. Jika aku mimisan dan pinsan, tempat ini lah yang ku lihat pertama kali. Rumah Sakit Karfa, ya aku bosan disini.
“Cheecy tidak kenapa-kenapa kok Pi”
Aku tersenyum meyakinkan Papi dan Mami ku kalau aku baik-baik saja. Mereka selalu cemas denganku. Mereka sering meninggalkan pekerjaan yang lumayan untuk keperluan hidup sehari-hari demi menemaniku di rumah sakit membosankan ini. Aku sangat sedih jika mengetahui Papi di telfon dan di marahi oleh client nya dengan alasan sering menunda meeting, ataupun karena atasannya. Atau Mami, yang selalu sedih jika Bakerry Brownis nya sering tutup karena beliau sering menemaniku disini. Mami memiliki pegawai yang tidak dapat di andalkan.
“Kalau kamu sering sakit begini, Papi tidak mau mengambil resiko sayang. Kamu harus merelakan Dance mu.”
“Iya Cheecy, Mami tidak mau. Semenjak 8 bulan terakhir ini, kamu sering sekali keluar masuk rumah sakit. Kata Dokter, Leukimia mu nanti bertambah parah kalau kamu sering kecapean.”
Aku menghela nafas sejenak. Ku pandangi bola mata berair Mami. Aku tidak mungkin harus meninggalkan Dance. Dance adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ku lakukan selain harus berdiam diri di kamar. Namun, aku juga tidak dapat memaksakan ego ku. Aku harus tetap sehat dan membahagiakan Mami dan Papi. Aku anak semata wayang mereka, jika suatu hari kelak aku meninggalkan mereka lebih awal, mereka sangat terpukul, tapi........
“Tapi Mi, maaf. Cheecy tidak dapat meninggalkan ini semua. Cheecy juga memiliki aktivitas selama Cheecy masih hidup. Tidak harus berdiam diri di kamar. Cheecy tau, Papi dan Mami pasti sangat terpukul. Maafkan Cheecy Mi, Pi”
“Tapi Cheecy, kamu kan memiliki.....”
“Iya Pi, Cheecy tau. Semua fasilitas Cheecy terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Cheecy bisa di kamar bermain i-Phone, membaca novel, membuat cerpen, memasak, dan lain-lain. Bahkan, Papi membolehkan Cheecy memiliki pacar untuk menemani Cheecy. Tapi Pi, Cheecy  ingin sekali meneruskan ekstra Dance itu. Papi dan Mami tau kan, berapa kejuaraan yang di dapat Fiolind Dance ? Cheecy mohon Pi, Mi”
Ku teteskan air mata perlahan. Penyakit ini, menyita waktuku untuk kegiatan seperti anak yang lain, yang bisa berenang, volly, basket, climbing, ataupun badmintont. Itu akan menguras penuh sisa-sisa hidupku. Aku ingin hidup wajar seperti mereka. Aku pernah, sekali berenang di belakang rumah tanpa diketahui siapapun. Dan baru 20 menit, aku sudah pinsan. Entah, apa gunanya dirumah ada kolam renang besar jika aku tidak dapat memakainya ? aku ingin itu.
“Saaayyyaaannngg”
Mataku tertuju di pintu ruangan ku. Seseorang memakai jaket putih dengan T-Shirt putih dan jeans. Darrell Putra ! yeah, dia kekasihku. Dia sangat perhatian denganku. Dia tidak pernah mengeluh soal penyakitku ini. Aku beruntung memilikinya, dialah separuh nafasku. Dia selalu menemaniku, membimbingku, menasehatiku, menjagaku, mengajariku, dan mencintaiku dengan cara yang sempurna.
“Kamu tidak apa-apa kan ?”
Raut wajah kekhawatirannya memusatkan perhatianku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Aku menggelengkan kepala.
“Oh, syukurlah. Tadi aku di beritahu Angel, kalau kamu dirumah sakit. Aku cemas dengan keadaanmu.”
“Iya, makasih ya. Lho, bukannya kamu ada jadwal latihan basket ?”
“Iya, tapi aku izin sama Pak Oscar, untuk menemani kamu disini”
Aku tersenyum. Begitu besar rasa sayang semua orang yang berada di dekat ku. Pintu Ruangan ku terbuka, ternyata guru dan sahabat-sahabat ku yang terdiri dari Fiolind Dance. Mereka menjengukku. Aku merasa semua sayang padaku.
“Hai Cy, bagaimana kabar mu”
“Seperti yang kamu lihat Ri, lemas dan pucat. Tapi aku tetap semangat untuk berlatih Dance kembali”
Bu Nadin tersenyum dan memberiku parsel buah, dia menatapku dalam lalu menatap teman-temanku. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Dia menanggukkan kepalanya kepada Sari dan teman-temanku. Teman-temanku hanya menunduk tidak berani merespon. Suasana hening entah beberapa menit. Aku tidak mengerti, apa yang mereka maksud.
“Maaf sebelumnya, apakah saya dapat meminta waktu Papinya Cheecy sebentar ?”
Papi menanggukkan kepala dan pergi disudut ruangan bersama Bu Nadin. Raut wajah mereka serius sekali. Aku tidak mendengar apa yang di bicarakan. Namun pada akhir nya, sepertinya Papi mengucapkan
“Baiklah Bu, akan saya usahakan, semoga dia mau mendengarkan kita”
“Ada apa Pi ?”
Papi diam seribu bahasa. Ada apa ini ? semua beranjak minggir dari ranjangku. Hanya Darrell yang tidak beranjak dan tetap di samping ku memegang tanganku.
“Maaf Cy, sebelumnya. Maksud Bu Nadin dan teman-teman disini untuk....”
“Untuk memberitahuku jika ada lomba Dance tingkat Asia ya ? waahh, Cheecy sudah tau. Kapan Bu Latihannya ? Cheecy sangat siap”
Ia menyeritkan kening. Lagi-lagi Bu Nadin diam. Apa ada yang salah dengan perkataan ku ? apa dia tersinggung ?
“Bukan itu Cheecy, maafkan ibu sebelumnya. Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Tapi ibu mohon, jangan sedih ya”
Aku hanya tersenyum. Entah apa yang akan dikatakan.
“Berhubung melihat kondisi kamu seperti ini, dan sebentar lagi Fiolind Dance akan ke tingkat Asia, ini bukan sembarang lomba. Butuh latihan ekstra dan ketahanan fisik yang tangguh, dengan berat hati, ibu akan keluarkan kamu dari Fiolind Dance. Kamu tidak mungkin mengikuti lomba sedangkan kamu sakit-sakit an seperti ini. Lomba ini sudah di nanti-nantikan sekolah kita. Dan, ibu mau harus yang terbaik”
Kata Bu Nadin.
“Apa ?! Cheecy dikeluarkan ? ibu yakin ? apa selama ini Cheecy kurang memuaskan ? Cheecy janji Bu, Cheecy akan berusaha yang sebaik mungkin”
“Cheecy, Bu Nadin benar. Kamu tidak usah mengikuti lomba ini. Kamu akan sakit terus menerus. Dan kamu adalah ketua Dance terbaik. Papi, Mami dan semua orang selalu puas dengan prestasi mu.”
Ayah membelai rambut ku yang dari tadi sesegukan. Aku tidak mau  meninggalkan Dance. Aku tidak bisa
“Bu, Cheecy mohon. Sekali ini saja. Ibu tau kan, umur Cheecy tidak akan berlangsung lama, apa ibu tega melihat saya berpisah dengan dunia ini ? saya senang dengan hidup saya. Dari kecil, saya sering melihat club Dance yang hebat. Saya ingin, tapi penyakit ini berkata tidak mungkin. Namun saya tau, saya bisa melakukannya selagi itu mampu. Dan sekarang ? dengan penyakit ini, saya mampu bertahan walaupun saya sering letih berlatih Dance. Apa itu tidak cukup pengorbanan saya bu ? bu, saya mohon.  Saya mengabdi di dunia ini untuk hidup dalam dunia Tuhan dan sosialisasi pendidikan. Dan di akhirat nanti, saya mengabdi untuk Tuhan sepenuhnya. Bahkan ibu pun tau, saya sering sakit. Para guru menganjurkan saya membawa handpone jika sewaktu-waktu saya sakit, tapi ? tidak pernah sekalipun saya membawanya. Sekali peraturan, tetap peraturan. Apa ibu tega ? bu, saya mohon saya ingin mengikuti itu. Saya janji, saya akan membawa piala kemenangan untuk sekolah kita”
Tidak ku lanjutkan kata-kataku, semua orang menangis sesegukan karena kata-kataku. Hanya Darrell yang setia di sampingku, menatap ku tanpa memperlihatkan kesedihannya. Walaupun aku tau, dia menangis di dalam hatinya.
“Cheecy, Ibu mohon maaf sekali lagi, ini peraturan sekolah. ibu tetap akan.....”
“Tetap menerima mu di Fiolind Dance. Tunjukkan prestasi mu yang terbaik nak, janji mu selalu bapak pegang. Dan perlihatkan bahwa kamu, Cheecy murid disiplin, pintar, tegar, dan satu kuat”
Di pintu utama terdapat bapak-bapak separuh baya tersenyum dengan menyambung kata-kata Bu Nadin tadi. Ya, dia Pak Slamet. Kepala sekolah ku.
“Pak Slamet”
“Iya Cheecy, kamu tetap mengikuti lomba tersebut. Kami dewan guru telah mendengar pembicaraan kalian di belakang pintu. Ayo Cheecy, kamu siswa paling berprestasi !!”
“Maaf sebelumnya Para Dewan guru, khususnya Pak Slamet. Tapi dia sakit pak, apa dia mampu ?”
Aku tidak dapat menepis rasa bahagiaku. Rasa bersyukur karena selalu di beri Allah perlindungan.
“Pasti Bu Nadin. Cheecy selalu bisa melakukannya. Saya tau, dia anak yang kuat”
Sahabat-sahabat ku pun berteriak dan memelukku. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk meneruskan hidupku kembali. Akan ku buktikan perkataan Pak Slamet tadi. Aku akan terus berusaha, dan tidak membuatnya kecewa. Ya, aku pasti bisa !!
                        *****

                        “Ayo Fiolind Dance !! tinggal 2 club Dance lagi, kita baru memulai di atas panggung besar itu di hadapan entah berapa ribu penonton disini. Siapkan mental masing-masing, karena aku tau ini tidak mudah. Kita sudah tidak berlomba dengan antar provinsi, melainkan negara !! motivasikan diri kita, yakinlah bahwa kita yang terbaik. Aku tau, pasti kalian akan demam panggung begitu juga aku. Namun disana, ada orang tua, guru, kepala sekolah, kekasih, dan kita sahabat selalu bersama. Buat sekolah kita yang terbaik ! tunjukkan itu !! Fiolind Dance !! Latihan kita selama 7 bulan kemarin memang terlampau singkat untuk lomba semacam ini, ini juga karena aku sering sakit, latihan sering di tunda. Lihat orang-orang yang kita sayang, mereka pasti juga harap-harap cemas menunggu kita. Berikan yang terbaik untuk mereka. Patahkan rasa cemas mereka saat melihat Dance kita yang begitu indahnya. Siap Fiolind Dance !!???”
“Siap !!”
Kita pun saling berpelukan dengan menyiapkan mental masing-masing. Dan aku tau, aku berada di paling depan. Aku, akan tunjukkan pada seluruh di Negara, kalau aku wanita kuat.
Next, the serial of 22 Fiolind Dance groups from Senior High School 1 Jakarta from Indonesia”
Sorak sorai gemuruh memekikkan telinga, pembawa acara telah memanggil Fiolind Dance untuk maju kedepan. Rasa gemetar, ragu, senang, was-was, bercampur menjadi satu di hatiku. Kelompokku pun maju di selingi sorak-sorai nama Fiolind Dance, aku pun yakin, ini pembuktian selama ini. Musik campuran Lady Gaga – Paparazi, Lady Gaga – Just Dance, Toxic, dan lainnya tertata dengan apik seperti latihan semula. Ku gerakkan badanku mengikuti irama yang sudah ku hafal sejak 7 bulan yang lalu. Ku lihat Darrell berteriak memanggil namaku. Begitupun orang tuaku, aku tersenyum meyakinkan bahwa aku bisa tanpa ragu sedikitpun. 5 menit telah berlalu Fiolind Dance dengan rasa cemas. Akhirnya selesai juga. Kami pun mengucapkan salam dan mengibarkan spanduk FIOLIND DANCE JUNIOR HIGH SCHOOL 1 JAKARTA !! . Saat berbalik arah menuju ke belakang, tiba-tiba kepala ku terasa pening, apakah aku kecapean karena perjalanan ke Singapura, sering memaksa latihan atau hanya nerveouse. Tiba-tiba semuanya gelap. Aku hanya melihat sesosok manusia baik hati yang datang menemaniku. Mengajakku bermain di tamannya. Aku menolak, karena aku belum berpamitan dengan orang yang ku sayang.
“Maaf ya kak, Cheecy belum berpamitan dengan orang tua Cheecy. Kalau Cheecy sudah mendapat kata boleh pergi, pasti Cheecy akan kesini kembali, bermain dengan kakak. Tunggu Cheecy ya kak, passti Cheecy kembali”
Aku tersadar dan bangun di tempat yang tidak asing bagiku. Di sampingku banyak orang yang melantunkan yassiinn. Aku tidak mengerti maksud ini semua. Ku lirik ada orang tuaku, sahabat-sahabat ku, Pak Slamet, dan Darrell. Mereka menangis tak terkendali.
“Papi, Mami”
Suara lirih menyerbu tenggorokanku. Rasanya sangat tercekat. Mereka semua mendongakkan kepalanya dan dengan cepat memelukku.
“Ada apa Pi, Mi ? apakah Cheecy pinsan lagi ? sudah lah, jangan menangis. Cheecy baik-baik saja”
Aku mencoba tersenyum di hadapan mereka. Aku tak ingin memperlihatkan wajah sedihku, bahkan rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan.
“Sayang, kamu tidak pinsan sembarang pinsan. Kamu sudah koma 7 hari. Bahkan dokter sudah menyerah. Hanya berdoa yang dapat kami lakukan”
“Aku sudah koma 7 hari ? maaf ya, aku tidur panjang”
Aku meringis dengan menunjukkan senyuman kesedihanku.
“Cy, ini ada sesuatu untukmu”
Bu Nadin memberiku sebuah benda yang tak asing bagiku. Ya, piala !!
“Piala ? piala apa Bu ? kenapa piala saya di bawa ke sini ?  bukankah semua piala saya berada di kamar saya ?”
“Cy, ini bukan piala seperti biasanya, ini piala kemenangan kita !! Fiolind Dance !! waktu koma, sudah ada pengumuman. Kau tau Cy, kita mendapat juara berapa ?! ke 2 Cy !”
Apa benar ? ya Allah, terimakasih telah mengabulkan doa ku. Aku, seorang yang penuh penyakit dapat menang dan menjadi ketua sebagai juara 2 Dance tingkat Asia !! Tuhan, inikah kebesaran-MU ? terimakasih ya Allah, terimakasih. Aku memeluk semua sahabatku. Tangis bahagia, haru, sedih, semua menjadi pelengkap detik-detik asa ku.
Semua menangis pilu ketika aku sudah tak kuat memegang piala kebanggan ku. Badanku lemah. Aku tersenyum melihat kekasihku yang menangis memegang tangan kecilku, aku begitu mencintainya. Sanggupkah aku meninggalkannya ?
“Mami, Papi, Bu Nadin, Pak Slamet, Sahabat-sahabatku, dan khususnya Darrell, aku mau minta maaf atas segala kesalahanku. Aku juga mau berterimakasih atas dukungannya selama ini. Berkat kalian, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku tidak bisa mengucapkan bagaimana bahagianya aku. Terimakasih. Aku hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal. Mata ku lelah, aku ingin tidur kembali”
“Cy, kamu itu ngomong apa ? Mami tidak mau kamu harus meninggalkan kita”
“Mami, Mami tau kan kalau Cheecy sayang Mami ? Mi, Cheecy lelah”
“Sayang, kuat ya”
Ku teteskan air mata perlahan membasahi wajah pucatku. Ku anggukkan kepala ku sejenak kepada Darrell.
“Semuanya, aku ingin tidur kembali. Aku sudah ingin pergi ke Taman Indah lagi. Untuk Mami dan Papi, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk Cheecy. Untuk Darrell, aku selalu mencintai mu sampai kita bertemu kembali dan untuk semua terimakasih, tanpa kalian hidupku tak berarti. Aku selalu menyayangi kalian”
Ku tutup mataku perlahan dengan dekapan tangan Darrell yang menemaniku. Entah, apakah aku sudah meninggal atau belum. Yang kurasa hanya tangisan, teriakan, tertekan, dan rasa sakit dalam tubuhku.
Pppiiippp, pppiiiipppp, ccciiittt, ppppiiippp pppiiippp, ccciiiittt
Hanya itu yang melekat di telingaku. Suara alat dokter. Entah apa itu.
Dan kata dokter, sisa umur ku 15 % lagi.
Jika aku meninggal, akan ku usap satu persatu tangisan itu walau lewat mimpi, namun jika Tuhan belum mau menjemputku, aku akan membalas kebaikan mereka semua dengan senyuman
           
            TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez