“Cheecy,
ayo sayang, nanti kamu di tunggu Fiolind Dance lho”
“Iya-iya, tunggu
sebentar Darrell sayang, aku mau ambil
tas dulu. Nanti aku pulangnya bareng kamu atau aku naik mobil sendiri ? kalau
aku bareng kamu, nanti aku nelfon Mang Ujang suruh ambil mobilku”
“Kasihan Mang
Ujang sayang, harus bolak-balik. Ya sudah gini saja, kamu aku anter di Aula Dance,
tapi kamu pulangnya sendiri tidak apa-apa kan ? bukannya Darrell tidak mau
mengantar kamu, tapi kasihan sama Mang Ujang. Besok saja ya, kita pulang bareng
sekalian ke Mall”
Ku anggukkan
kepala ku ringan dan aku pun melenggang pergi meninggalkan Darrell, kekasihku
sesampainya aku di Aula Dance.
Aku menyusuri
lorong ruangan dance itu. Kepala ku pening. Entah kenapa. Mungkin karena
pelajaran Matematika, Pak Dandy tadi atau karena aku..... Ah, tidak ku
hiraukan, yang penting, aku sudah siap untuk berlatih dance hari ini dan semoga
saja itu tidak akan kembali didiriku.
“Lama
banget sih Cy”
Aku tersenyum
melihat wajah Sari yang cemberut itu. Ku letakkan tas pinggangku dan menyapa
yang lain. Ya, kami terdiri dari 5 anggota Fiolind Dance. Dance terpopuler dan
sampai di tingkat nasional. Kalian tau apa yang membuat ku sangat bangga ? memang,
Ketua Dance ini adalah aku. Aku cukup bertanggung jawab dan populer di SMA ini.
“Maaf ya. Tadi
di kelasku ada les tambahan oleh Pak Dandy. Kalian sudah menunggu lama ya ?
sekali lagi maaf ya”
Aku duduk di
kursi dance samping tipe. Ku dekati Sari yang sering cemberut tidak jelas. Namun, jika aku jadi Sari pun aku pasti
bosan. Karena hampir 2 jam menunggu.
“Ya sudah deh,
tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau telat kan kamu bisa sms aku”
“Lho, bukankah
peraturan di SMA ini tidak boleh membawa handphone ? aku tak mau melanggar
peraturan itu.”
“Oh iya ya, aku
baru inget. Cheecy kok di ajak melanggar peraturan, ya pasti tidak mau lah.
Kalau ada lomba tidak pernah disiplin, aku pasti menang, sedangkan kau, sudah tereliminasi saat mendaftar”
Gelak tawa
menggelegar. Memang, Sari, sahabat ku satu ini sifatnya kadang menyebalkan,
kadang juga lucu. Ah, dasar Sari. Sebenarnya dia bisa di bilang yatim piatu.
Cerita eyangnya, dia itu dari lahir sudah ditinggal ayahnya menikah lagi di
luar negeri. Dan saat ibunya melahirkan Sari, ibunya meninggal. Itu yang
membuat kami simpatik dengan dia, walaupun kadang rasa sebal dengannya melanda
kami. Namun, dia anak yang baik. Aku suka kepribadiaanya. Lucu, menyebalkan,
baik hati, pintar, supel, suka menolong. Beda denganku. Aku lebih cenderung
mengurung diri di kamar untuk
menciptakan gerakan-gerakan baru, mencari lagu dance, membuat komik,
novel, main game, twitter, atau yang berhubungan dengan hobbyku. Aku tak bisa
seperti Verend yang atlit renang, seperti Sandra yang jago bersepeda dan
mendapat juara nasional, ataupun Sari yang sering membantu eyangnya bekerja di
restaurant. Yaah, inilah hidupku. Penuh membosankan. Mungkin jika aku tidak
memohon pada Papi untuk mengikuti Dance di sekolah, aku hanya jadi pemurung.
Semua aktivitasku tergantung ini semua. Andai aku dapat memohon kepada Tuhan,
aku ingin semua ini di ambil saja. Aku bangga dengan semua prestasi ku, aku
bangga memiliki orang tua yang penyayang, dan pengertian, aku senang dengan
semua sahabat ku dan guru yang selalu di sampingku, aku bersyukur memiliki
kekasih yang mencintai dan melindungiku, aku selalu bersyukur dengan semua yang
kumiliki. Namun tidak untuk satu hal ini, aku selalu bertanya kepada Tuhan,
mengapa harus Cheecy yang merasakan. Cheecy memiliki cita-cita dan masa depan
yang cerah. Cheecy tidak ingin semua nya hancur lenyap akibat ini. Dan aku
mohon, ini akan selalu baik denganku.
“Yuk, latihan”
Aku mengambil
handuk ungu dan ku sampirkan di leherku. Aku berada di posisi paling depan,
kedua Sari, ketiga Angel, keempat Vita, dan kelima Ajeng. Ya, mereka sahabatku
sekaligus patnerku.
“Tunggu Cy
! kamu mimisan !!”
Angel berteriak
memberitahuku. Semua memandangku dengan menyeritkan alis. Ku usap hidungku
dengan handuk tadi, benar darah mengalir di rongga hidungku. Angel dan Sari
segera membantuku berjalan menuju ruang UKS. Sedangkan Ajeng dan Vita beranjak
ke ruang guru untuk memberitahuku kalau penyakitku kumat. Aku telah sampai di
UKS di temani kedua sahabatku. Aku pun merebahkan diri di kasur itu. Kepalaku
terasa pening, pandanganku buram dan hitam. Aku tak merasakan apa-apa, terasa
ringan.
******
“Alhamdulillah,
sudah siuman. Kamu tidak apa-apa kan sayang ?”
Ku buka mataku
perlahan. Disini aku melihat alat untuk bernafas, detak jantung, pengukur suhu,
selang, infus, dan alat-alat dokter yang tidak ku ketahui namanya. Yeah, aku kenal tempat ini. Jika aku
mimisan dan pinsan, tempat ini lah yang ku lihat pertama kali. Rumah Sakit
Karfa, ya aku bosan disini.
“Cheecy tidak
kenapa-kenapa kok Pi”
Aku tersenyum
meyakinkan Papi dan Mami ku kalau aku baik-baik saja. Mereka selalu cemas
denganku. Mereka sering meninggalkan pekerjaan yang lumayan untuk keperluan
hidup sehari-hari demi menemaniku di rumah sakit membosankan ini. Aku sangat
sedih jika mengetahui Papi di telfon dan di marahi oleh client nya dengan alasan sering menunda meeting, ataupun karena atasannya. Atau Mami, yang selalu sedih
jika Bakerry Brownis nya sering tutup karena beliau sering menemaniku disini.
Mami memiliki pegawai yang tidak dapat di andalkan.
“Kalau kamu
sering sakit begini, Papi tidak mau mengambil resiko sayang. Kamu harus
merelakan Dance mu.”
“Iya Cheecy,
Mami tidak mau. Semenjak 8 bulan terakhir ini, kamu sering sekali keluar masuk
rumah sakit. Kata Dokter, Leukimia mu nanti bertambah parah kalau kamu sering
kecapean.”
Aku menghela
nafas sejenak. Ku pandangi bola mata berair Mami. Aku tidak mungkin harus
meninggalkan Dance. Dance adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ku lakukan
selain harus berdiam diri di kamar. Namun, aku juga tidak dapat memaksakan ego
ku. Aku harus tetap sehat dan membahagiakan Mami dan Papi. Aku anak semata wayang
mereka, jika suatu hari kelak aku meninggalkan mereka lebih awal, mereka sangat
terpukul, tapi........
“Tapi Mi, maaf. Cheecy
tidak dapat meninggalkan ini semua. Cheecy juga memiliki aktivitas selama Cheecy
masih hidup. Tidak harus berdiam diri di kamar. Cheecy tau, Papi dan Mami pasti
sangat terpukul. Maafkan Cheecy Mi, Pi”
“Tapi Cheecy,
kamu kan memiliki.....”
“Iya Pi, Cheecy
tau. Semua fasilitas Cheecy terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Cheecy bisa di
kamar bermain i-Phone, membaca novel, membuat cerpen, memasak, dan lain-lain. Bahkan,
Papi membolehkan Cheecy memiliki pacar untuk menemani Cheecy. Tapi Pi, Cheecy ingin sekali meneruskan ekstra Dance itu. Papi
dan Mami tau kan, berapa kejuaraan yang di dapat Fiolind Dance ? Cheecy mohon
Pi, Mi”
Ku teteskan air
mata perlahan. Penyakit ini, menyita waktuku untuk kegiatan seperti anak yang
lain, yang bisa berenang, volly, basket, climbing, ataupun badmintont. Itu akan
menguras penuh sisa-sisa hidupku. Aku ingin hidup wajar seperti mereka. Aku
pernah, sekali berenang di belakang rumah tanpa diketahui siapapun. Dan baru 20
menit, aku sudah pinsan. Entah, apa gunanya dirumah ada kolam renang besar jika
aku tidak dapat memakainya ? aku ingin itu.
“Saaayyyaaannngg”
Mataku tertuju
di pintu ruangan ku. Seseorang memakai jaket putih dengan T-Shirt putih dan
jeans. Darrell Putra ! yeah, dia kekasihku. Dia sangat perhatian denganku. Dia
tidak pernah mengeluh soal penyakitku ini. Aku beruntung memilikinya, dialah
separuh nafasku. Dia selalu menemaniku, membimbingku, menasehatiku, menjagaku, mengajariku,
dan mencintaiku dengan cara yang sempurna.
“Kamu tidak
apa-apa kan ?”
Raut wajah
kekhawatirannya memusatkan perhatianku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Aku
menggelengkan kepala.
“Oh, syukurlah.
Tadi aku di beritahu Angel, kalau kamu dirumah sakit. Aku cemas dengan
keadaanmu.”
“Iya, makasih
ya. Lho, bukannya kamu ada jadwal latihan basket ?”
“Iya, tapi aku
izin sama Pak Oscar, untuk menemani kamu disini”
Aku tersenyum.
Begitu besar rasa sayang semua orang yang berada di dekat ku. Pintu Ruangan ku
terbuka, ternyata guru dan sahabat-sahabat ku yang terdiri dari Fiolind Dance. Mereka
menjengukku. Aku merasa semua sayang padaku.
“Hai Cy,
bagaimana kabar mu”
“Seperti yang
kamu lihat Ri, lemas dan pucat. Tapi aku tetap semangat untuk berlatih Dance
kembali”
Bu Nadin tersenyum
dan memberiku parsel buah, dia menatapku dalam lalu menatap teman-temanku. Seperti
mengisyaratkan sesuatu. Dia menanggukkan kepalanya kepada Sari dan
teman-temanku. Teman-temanku hanya menunduk tidak berani merespon. Suasana
hening entah beberapa menit. Aku tidak mengerti, apa yang mereka maksud.
“Maaf
sebelumnya, apakah saya dapat meminta waktu Papinya Cheecy sebentar ?”
Papi
menanggukkan kepala dan pergi disudut ruangan bersama Bu Nadin. Raut wajah mereka
serius sekali. Aku tidak mendengar apa yang di bicarakan. Namun pada akhir nya,
sepertinya Papi mengucapkan
“Baiklah Bu,
akan saya usahakan, semoga dia mau mendengarkan kita”
“Ada apa Pi ?”
Papi diam seribu
bahasa. Ada apa ini ? semua beranjak minggir dari ranjangku. Hanya Darrell yang
tidak beranjak dan tetap di samping ku memegang tanganku.
“Maaf Cy,
sebelumnya. Maksud Bu Nadin dan teman-teman disini untuk....”
“Untuk
memberitahuku jika ada lomba Dance tingkat Asia ya ? waahh, Cheecy sudah tau.
Kapan Bu Latihannya ? Cheecy sangat siap”
Ia menyeritkan
kening. Lagi-lagi Bu Nadin diam. Apa ada yang salah dengan perkataan ku ? apa
dia tersinggung ?
“Bukan itu
Cheecy, maafkan ibu sebelumnya. Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Tapi
ibu mohon, jangan sedih ya”
Aku hanya
tersenyum. Entah apa yang akan dikatakan.
“Berhubung
melihat kondisi kamu seperti ini, dan sebentar lagi Fiolind Dance akan ke
tingkat Asia, ini bukan sembarang lomba. Butuh latihan ekstra dan ketahanan
fisik yang tangguh, dengan berat hati, ibu akan keluarkan kamu dari Fiolind Dance.
Kamu tidak mungkin mengikuti lomba sedangkan kamu sakit-sakit an seperti ini.
Lomba ini sudah di nanti-nantikan sekolah kita. Dan, ibu mau harus yang terbaik”
Kata Bu Nadin.
“Apa ?! Cheecy
dikeluarkan ? ibu yakin ? apa selama ini Cheecy kurang memuaskan ? Cheecy janji
Bu, Cheecy akan berusaha yang sebaik mungkin”
“Cheecy, Bu
Nadin benar. Kamu tidak usah mengikuti lomba ini. Kamu akan sakit terus
menerus. Dan kamu adalah ketua Dance terbaik. Papi, Mami dan semua orang selalu
puas dengan prestasi mu.”
Ayah membelai
rambut ku yang dari tadi sesegukan. Aku tidak mau meninggalkan Dance. Aku tidak bisa
“Bu, Cheecy
mohon. Sekali ini saja. Ibu tau kan, umur Cheecy tidak akan berlangsung lama,
apa ibu tega melihat saya berpisah dengan dunia ini ? saya senang dengan hidup
saya. Dari kecil, saya sering melihat club Dance yang hebat. Saya ingin, tapi
penyakit ini berkata tidak mungkin. Namun saya tau, saya bisa melakukannya
selagi itu mampu. Dan sekarang ? dengan penyakit ini, saya mampu bertahan
walaupun saya sering letih berlatih Dance. Apa itu tidak cukup pengorbanan saya
bu ? bu, saya mohon. Saya mengabdi di
dunia ini untuk hidup dalam dunia Tuhan dan sosialisasi pendidikan. Dan di
akhirat nanti, saya mengabdi untuk Tuhan sepenuhnya. Bahkan ibu pun tau, saya
sering sakit. Para guru menganjurkan saya membawa handpone jika sewaktu-waktu
saya sakit, tapi ? tidak pernah sekalipun saya membawanya. Sekali peraturan,
tetap peraturan. Apa ibu tega ? bu, saya mohon saya ingin mengikuti itu. Saya
janji, saya akan membawa piala kemenangan untuk sekolah kita”
Tidak ku
lanjutkan kata-kataku, semua orang menangis sesegukan karena kata-kataku. Hanya
Darrell yang setia di sampingku, menatap ku tanpa memperlihatkan kesedihannya.
Walaupun aku tau, dia menangis di dalam hatinya.
“Cheecy, Ibu
mohon maaf sekali lagi, ini peraturan sekolah. ibu tetap akan.....”
“Tetap menerima
mu di Fiolind Dance. Tunjukkan prestasi mu yang terbaik nak, janji mu selalu
bapak pegang. Dan perlihatkan bahwa kamu, Cheecy murid disiplin, pintar, tegar,
dan satu kuat”
Di pintu utama
terdapat bapak-bapak separuh baya tersenyum dengan menyambung kata-kata Bu
Nadin tadi. Ya, dia Pak Slamet. Kepala sekolah ku.
“Pak Slamet”
“Iya Cheecy,
kamu tetap mengikuti lomba tersebut. Kami dewan guru telah mendengar
pembicaraan kalian di belakang pintu. Ayo Cheecy, kamu siswa paling berprestasi
!!”
“Maaf sebelumnya
Para Dewan guru, khususnya Pak Slamet. Tapi dia sakit pak, apa dia mampu ?”
Aku tidak dapat
menepis rasa bahagiaku. Rasa bersyukur karena selalu di beri Allah
perlindungan.
“Pasti Bu Nadin.
Cheecy selalu bisa melakukannya. Saya tau, dia anak yang kuat”
Sahabat-sahabat
ku pun berteriak dan memelukku. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku
untuk meneruskan hidupku kembali. Akan ku buktikan perkataan Pak Slamet tadi.
Aku akan terus berusaha, dan tidak membuatnya kecewa. Ya, aku pasti bisa !!
*****
“Ayo Fiolind Dance !! tinggal
2 club Dance lagi, kita baru memulai di atas panggung besar itu di hadapan
entah berapa ribu penonton disini. Siapkan mental masing-masing, karena aku tau
ini tidak mudah. Kita sudah tidak berlomba dengan antar provinsi, melainkan
negara !! motivasikan diri kita, yakinlah bahwa kita yang terbaik. Aku tau,
pasti kalian akan demam panggung begitu juga aku. Namun disana, ada orang tua,
guru, kepala sekolah, kekasih, dan kita sahabat selalu bersama. Buat sekolah
kita yang terbaik ! tunjukkan itu !! Fiolind Dance !! Latihan kita selama 7
bulan kemarin memang terlampau singkat untuk lomba semacam ini, ini juga karena
aku sering sakit, latihan sering di tunda. Lihat orang-orang yang kita sayang,
mereka pasti juga harap-harap cemas menunggu kita. Berikan yang terbaik untuk
mereka. Patahkan rasa cemas mereka saat melihat Dance kita yang begitu
indahnya. Siap Fiolind Dance !!???”
“Siap !!”
Kita pun saling
berpelukan dengan menyiapkan mental masing-masing. Dan aku tau, aku berada di
paling depan. Aku, akan tunjukkan pada seluruh di Negara, kalau aku wanita
kuat.
“Next, the serial of 22 Fiolind Dance groups
from Senior High School 1 Jakarta from Indonesia”
Sorak sorai
gemuruh memekikkan telinga, pembawa acara telah memanggil Fiolind Dance untuk
maju kedepan. Rasa gemetar, ragu, senang, was-was, bercampur menjadi satu di
hatiku. Kelompokku pun maju di selingi sorak-sorai nama Fiolind Dance, aku pun
yakin, ini pembuktian selama ini. Musik campuran Lady Gaga – Paparazi, Lady Gaga – Just Dance, Toxic, dan lainnya
tertata dengan apik seperti latihan semula. Ku gerakkan badanku mengikuti irama
yang sudah ku hafal sejak 7 bulan yang lalu. Ku lihat Darrell berteriak
memanggil namaku. Begitupun orang tuaku, aku tersenyum meyakinkan bahwa aku
bisa tanpa ragu sedikitpun. 5 menit telah berlalu Fiolind Dance dengan rasa
cemas. Akhirnya selesai juga. Kami pun mengucapkan salam dan mengibarkan
spanduk FIOLIND DANCE JUNIOR HIGH SCHOOL 1 JAKARTA !! . Saat berbalik arah
menuju ke belakang, tiba-tiba kepala ku terasa pening, apakah aku kecapean
karena perjalanan ke Singapura, sering memaksa latihan atau hanya nerveouse. Tiba-tiba semuanya gelap. Aku
hanya melihat sesosok manusia baik hati yang datang menemaniku. Mengajakku
bermain di tamannya. Aku menolak, karena aku belum berpamitan dengan orang yang
ku sayang.
“Maaf ya kak,
Cheecy belum berpamitan dengan orang tua Cheecy. Kalau Cheecy sudah mendapat
kata boleh pergi, pasti Cheecy akan kesini kembali, bermain dengan kakak.
Tunggu Cheecy ya kak, passti Cheecy kembali”
Aku tersadar dan
bangun di tempat yang tidak asing bagiku. Di sampingku banyak orang yang
melantunkan yassiinn. Aku tidak mengerti maksud ini semua. Ku lirik ada orang
tuaku, sahabat-sahabat ku, Pak Slamet, dan Darrell. Mereka menangis tak
terkendali.
“Papi, Mami”
Suara lirih
menyerbu tenggorokanku. Rasanya sangat tercekat. Mereka semua mendongakkan
kepalanya dan dengan cepat memelukku.
“Ada apa Pi, Mi
? apakah Cheecy pinsan lagi ? sudah lah, jangan menangis. Cheecy baik-baik
saja”
Aku mencoba
tersenyum di hadapan mereka. Aku tak ingin memperlihatkan wajah sedihku, bahkan
rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan.
“Sayang, kamu
tidak pinsan sembarang pinsan. Kamu sudah koma 7 hari. Bahkan dokter sudah
menyerah. Hanya berdoa yang dapat kami lakukan”
“Aku sudah koma
7 hari ? maaf ya, aku tidur panjang”
Aku meringis
dengan menunjukkan senyuman kesedihanku.
“Cy, ini ada
sesuatu untukmu”
Bu Nadin
memberiku sebuah benda yang tak asing bagiku. Ya, piala !!
“Piala ? piala
apa Bu ? kenapa piala saya di bawa ke sini ?
bukankah semua piala saya berada di kamar saya ?”
“Cy, ini bukan
piala seperti biasanya, ini piala kemenangan kita !! Fiolind Dance !! waktu
koma, sudah ada pengumuman. Kau tau Cy, kita mendapat juara berapa ?! ke 2 Cy
!”
Apa benar ? ya
Allah, terimakasih telah mengabulkan doa ku. Aku, seorang yang penuh penyakit
dapat menang dan menjadi ketua sebagai juara 2 Dance tingkat Asia !! Tuhan,
inikah kebesaran-MU ? terimakasih ya Allah, terimakasih. Aku memeluk semua
sahabatku. Tangis bahagia, haru, sedih, semua menjadi pelengkap detik-detik asa
ku.
Semua menangis pilu
ketika aku sudah tak kuat memegang piala kebanggan ku. Badanku lemah. Aku
tersenyum melihat kekasihku yang menangis memegang tangan kecilku, aku begitu
mencintainya. Sanggupkah aku meninggalkannya ?
“Mami, Papi, Bu
Nadin, Pak Slamet, Sahabat-sahabatku, dan khususnya Darrell, aku mau minta maaf
atas segala kesalahanku. Aku juga mau berterimakasih atas dukungannya selama
ini. Berkat kalian, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai
harganya. Aku tidak bisa mengucapkan bagaimana bahagianya aku. Terimakasih. Aku
hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal. Mata ku lelah, aku ingin tidur
kembali”
“Cy, kamu itu
ngomong apa ? Mami tidak mau kamu harus meninggalkan kita”
“Mami, Mami tau
kan kalau Cheecy sayang Mami ? Mi, Cheecy lelah”
“Sayang, kuat
ya”
Ku teteskan air
mata perlahan membasahi wajah pucatku. Ku anggukkan kepala ku sejenak kepada
Darrell.
“Semuanya, aku
ingin tidur kembali. Aku sudah ingin pergi ke Taman Indah lagi. Untuk Mami dan
Papi, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk Cheecy. Untuk Darrell,
aku selalu mencintai mu sampai kita bertemu kembali dan untuk semua
terimakasih, tanpa kalian hidupku tak berarti. Aku selalu menyayangi kalian”
Ku tutup mataku
perlahan dengan dekapan tangan Darrell yang menemaniku. Entah, apakah aku sudah
meninggal atau belum. Yang kurasa hanya tangisan, teriakan, tertekan, dan rasa
sakit dalam tubuhku.
Pppiiippp,
pppiiiipppp, ccciiittt, ppppiiippp pppiiippp, ccciiiittt
Hanya itu yang
melekat di telingaku. Suara alat dokter. Entah apa itu.
Dan kata dokter,
sisa umur ku 15 % lagi.
Jika aku
meninggal, akan ku usap satu persatu tangisan itu walau lewat mimpi, namun jika
Tuhan belum mau menjemputku, aku akan membalas kebaikan mereka semua dengan
senyuman
TAMAT