Kamis, 16 April 2015

LDR

Diposting oleh Unknown di 22.45 0 komentar

Rasa ini mulai menggangguku.
Entah dinamakan apa yang kurasakan saat ini.
Antara sayang, rindu, bosan, dan marah.
Sayang. Aku begitu menyayanginya. Bahkan rasa ini sama saat aku menyayangi diriku sendiri. Aku menyayangimu dalam diam dan doa. Hanya itu yg dapat kupanjatkan dalam kebisuan ini.
Rindu. Sungguh, betapa dalam rindu yang kurasakan padamu. Rindu ini begitu menghujam perasaan dan fikiranku. Ingin rasanya aku segera meluapkan kerinduan ini padamu. Aku tak bisa berdusta, rindu inI sangat dalam, bahkan menembus dimensi kerinduan seperti biasanya.
Bosan. Aku bosan dengan kehidupanku yang sekarang. Aku bosan dalam kesendirian. Aku bosan menanti kau kembali ke dalam pelukanku. Aku bosan karna aku lelah harus berdusta bahwa aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat bosan akan kerinduan yang semakin memuncak sehingga aku takut jika akutak dapat mengendalikannya. Sesungguhnya aku bosan karna pandanganku gelap. Gelap tanpa adanya wajahmu dihadapanku selama ini.
Marah. Aku begitu marah pada keadaan. Hubungan ini sungguh menyiksaku. Aku tak sanggup harus melihat orang lain mengumbar kemesraannya dihadapanku seolah dunia hanya miliknya, sedangkan aku harus menahan amarah karna aku begitu merindukan kehadiranmu. Aku marah karna aku tak bisa merasakan seperti yang mereka rasakan. Aku marah karna aku tau, kita susah bertemu, kita susah saling sapa, bahkan kita susah walau hanya tatapan mata.
Aku begitu menyayangimu, mencintaimu walau hanya angin yang memberitahukan ini padamu. Cepatlah pulang, cepatlah berada disisiku lagi.
Aku merindukanmu, sangat merindukanmu…

Cinta?

Diposting oleh Unknown di 05.33 0 komentar
Kata orang, cinta seperti coklat. Jika kita beruntung, rasanya akan manis. 
Namun disisi lain coklat yang terlalu masak akan terasa pahit.
Begitupula kisah cintaku. 
Perasaan yg terlalu dalam, cepat atau lambat akan memudarkan rasa manis.
Aku berfikir, kadang hidup tak adil. Ia bisa begitu saja melupakan orang yg pernah ada. 
Namun aku, entah harus sampai kapan aku memudarkan tentangmu difikiranku.
Aku tau, hidup memang tak adil. 
Namun setidaknya, berilah keadilan pada cinta. Cinta tak bisa dipermainkan.
Cinta itu indah, beruntunglah orang yang pernah merasakan cinta. 
Cinta itu murni, halus, namun susah untuk kurebut kembali.
Bukan kah cinta sekedar menemaninya setiap saat?
Bukankah cinta sekedar bantal untuk bersandar?
Bukankah cinta sekedar perban untuk menutup luka pada masa lalunya?
Andai itu yang dinamakan cinta, mungkin rasaku padamu bukan arti cinta yang kau maksud.
Aku mencintaimu, tak pernah kutau apa alasanku.
Walau kau memintaku 1 alasan saja, takkan pernah bisa.
Cinta lebih dari sekedar perhatian, lebih dari sekedar menemani.
Tapi cinta itu tulus, cinta selalu ada, cinta selalu berkorban.
Cinta tak pernah memaksakan kehendak. Walau ku tahu, kau selalu memaksakan kehendakku
Cinta selalu ada. Ya, bukan hanya saat kita butuh teman, atau kita butuh perlindungan.
Cinta selalu ada disaat kita lelah berlari. Cinta selalu ada di mata, fikiran, dan hati
Walau tak ada dirimu yg ada, namun ada cinta

Cinta yg terasa manis.


                                                                                                                                        -Jihan Pasha-

Move on, girls!

Diposting oleh Unknown di 05.18 0 komentar
Hai cantik, buat apa kamu menangis? Menangisi seseorang yg sudah membuatmu kecewa?
Untuk apa? Kamu cantik, kamu bisa dengan mudah mendapatkan seseorang yg benar2 bisa memperjuangkanmu.
Cinta? Akutahu, seberapa besar cintamu untuknya.
Tp cobalah kamu pikir sejenak, untuk apa kamu berlari mengejarnya, yg jelas2 dia sendiri mengejar org lain? Apakah itu tidak menyakitkan?
Nyaman? Kau tahu, sebelum kamu mendapatkannya, kamu pun bisa nyaman dengan orang lain bukan? Mengapa kamu harus memperjuangkan zona nyamanmu hanya kepadanya?
Memperjuangkan tak se-simpel itu. Aku juga perempuan, dan aku pernah merasakan itu.
Dulu aku pun sempat berkaca, kurang apakah aku? Kurang cantik? Sexy? Pintar? Atau aku bawel?
Sempat aku berfikir bahwa dia hanya bermain sebentar, lalu pulang ke pelukanku. Tp setelah penantian sia-sia itu, kini aku sadar.
Sempat aku depresi berat, menangisinya tiap hari, menyalahkan diri sendiri, bahkan tak mau melakukan apapun kecuali mendapatkannya kembali.
Namun, bukankah Tuhan sayang denganku? Sehingga ia mematahkan hatiku sekarang terhadap org yg salah?
Tuhan tak ingin aku terlalu lama dalam cinta ini, dan saat aku terpisahkan nanti rasanya lebih sakit dari ini?
Aku tak munafik, aku masih sering merindukannya. Aku masih sangat menyayanginya. Aku masih sering menyelipkan doaku untuknya.
Hati wanita sangat sensitive, sangat mudah sakit apalagi terhadap org yg amat dicintainya.
Girls, wanita memang mudah menangis, tapi wanita hanya pantas menangis bahagia. Tunjukkan kepadanya bahwa kamu kuat.
Bahwa kamu bisa hidup tanpanya, bahwa kamu pantas mendapatkan lelaki lain yg lebih baik
Dan yg terpenting, agar ia tahu bahwa wanita juga memiliki rasa lelah. Wanita yg seharusnya diperjuangkan, buat berjuang.
Girls, karma pasti ada. Karma pasti berlaku untuk semua wanita yg pernah disakiti.
Mungkin tidak hari ini, ataupun besok. Namun suatu hari nanti.
Saat ia benar2 sendiri, ia benar2 dikecewakan oleh wanita lain yg ia perjuangkan, ia akan tersadar.
Bahwa ia telah meninggalkan harta yg paling berharga untuknya, ia akan tahu rasanya bagaimana merasakan kehilangan.
Saat ia akan kembali mengambil hartanya, takkan ada lagi harta itu. Karna ia tersadar, harta itu telah ia tinggalkan sekian tahun lamanya, dan takkan pernah kembali .
Sekalipun kembali, takkan pernah ada lagi cerita cinta yg sama dan sempurna seperti dulu.


                                                                                                                                       


                                                                                                                                                                                                                                                                                                               - Jihan Pasha-

Kamis, 16 April 2015

LDR


Rasa ini mulai menggangguku.
Entah dinamakan apa yang kurasakan saat ini.
Antara sayang, rindu, bosan, dan marah.
Sayang. Aku begitu menyayanginya. Bahkan rasa ini sama saat aku menyayangi diriku sendiri. Aku menyayangimu dalam diam dan doa. Hanya itu yg dapat kupanjatkan dalam kebisuan ini.
Rindu. Sungguh, betapa dalam rindu yang kurasakan padamu. Rindu ini begitu menghujam perasaan dan fikiranku. Ingin rasanya aku segera meluapkan kerinduan ini padamu. Aku tak bisa berdusta, rindu inI sangat dalam, bahkan menembus dimensi kerinduan seperti biasanya.
Bosan. Aku bosan dengan kehidupanku yang sekarang. Aku bosan dalam kesendirian. Aku bosan menanti kau kembali ke dalam pelukanku. Aku bosan karna aku lelah harus berdusta bahwa aku sangat membutuhkanmu. Aku sangat bosan akan kerinduan yang semakin memuncak sehingga aku takut jika akutak dapat mengendalikannya. Sesungguhnya aku bosan karna pandanganku gelap. Gelap tanpa adanya wajahmu dihadapanku selama ini.
Marah. Aku begitu marah pada keadaan. Hubungan ini sungguh menyiksaku. Aku tak sanggup harus melihat orang lain mengumbar kemesraannya dihadapanku seolah dunia hanya miliknya, sedangkan aku harus menahan amarah karna aku begitu merindukan kehadiranmu. Aku marah karna aku tak bisa merasakan seperti yang mereka rasakan. Aku marah karna aku tau, kita susah bertemu, kita susah saling sapa, bahkan kita susah walau hanya tatapan mata.
Aku begitu menyayangimu, mencintaimu walau hanya angin yang memberitahukan ini padamu. Cepatlah pulang, cepatlah berada disisiku lagi.
Aku merindukanmu, sangat merindukanmu…

Cinta?

Kata orang, cinta seperti coklat. Jika kita beruntung, rasanya akan manis. 
Namun disisi lain coklat yang terlalu masak akan terasa pahit.
Begitupula kisah cintaku. 
Perasaan yg terlalu dalam, cepat atau lambat akan memudarkan rasa manis.
Aku berfikir, kadang hidup tak adil. Ia bisa begitu saja melupakan orang yg pernah ada. 
Namun aku, entah harus sampai kapan aku memudarkan tentangmu difikiranku.
Aku tau, hidup memang tak adil. 
Namun setidaknya, berilah keadilan pada cinta. Cinta tak bisa dipermainkan.
Cinta itu indah, beruntunglah orang yang pernah merasakan cinta. 
Cinta itu murni, halus, namun susah untuk kurebut kembali.
Bukan kah cinta sekedar menemaninya setiap saat?
Bukankah cinta sekedar bantal untuk bersandar?
Bukankah cinta sekedar perban untuk menutup luka pada masa lalunya?
Andai itu yang dinamakan cinta, mungkin rasaku padamu bukan arti cinta yang kau maksud.
Aku mencintaimu, tak pernah kutau apa alasanku.
Walau kau memintaku 1 alasan saja, takkan pernah bisa.
Cinta lebih dari sekedar perhatian, lebih dari sekedar menemani.
Tapi cinta itu tulus, cinta selalu ada, cinta selalu berkorban.
Cinta tak pernah memaksakan kehendak. Walau ku tahu, kau selalu memaksakan kehendakku
Cinta selalu ada. Ya, bukan hanya saat kita butuh teman, atau kita butuh perlindungan.
Cinta selalu ada disaat kita lelah berlari. Cinta selalu ada di mata, fikiran, dan hati
Walau tak ada dirimu yg ada, namun ada cinta

Cinta yg terasa manis.


                                                                                                                                        -Jihan Pasha-

Move on, girls!

Hai cantik, buat apa kamu menangis? Menangisi seseorang yg sudah membuatmu kecewa?
Untuk apa? Kamu cantik, kamu bisa dengan mudah mendapatkan seseorang yg benar2 bisa memperjuangkanmu.
Cinta? Akutahu, seberapa besar cintamu untuknya.
Tp cobalah kamu pikir sejenak, untuk apa kamu berlari mengejarnya, yg jelas2 dia sendiri mengejar org lain? Apakah itu tidak menyakitkan?
Nyaman? Kau tahu, sebelum kamu mendapatkannya, kamu pun bisa nyaman dengan orang lain bukan? Mengapa kamu harus memperjuangkan zona nyamanmu hanya kepadanya?
Memperjuangkan tak se-simpel itu. Aku juga perempuan, dan aku pernah merasakan itu.
Dulu aku pun sempat berkaca, kurang apakah aku? Kurang cantik? Sexy? Pintar? Atau aku bawel?
Sempat aku berfikir bahwa dia hanya bermain sebentar, lalu pulang ke pelukanku. Tp setelah penantian sia-sia itu, kini aku sadar.
Sempat aku depresi berat, menangisinya tiap hari, menyalahkan diri sendiri, bahkan tak mau melakukan apapun kecuali mendapatkannya kembali.
Namun, bukankah Tuhan sayang denganku? Sehingga ia mematahkan hatiku sekarang terhadap org yg salah?
Tuhan tak ingin aku terlalu lama dalam cinta ini, dan saat aku terpisahkan nanti rasanya lebih sakit dari ini?
Aku tak munafik, aku masih sering merindukannya. Aku masih sangat menyayanginya. Aku masih sering menyelipkan doaku untuknya.
Hati wanita sangat sensitive, sangat mudah sakit apalagi terhadap org yg amat dicintainya.
Girls, wanita memang mudah menangis, tapi wanita hanya pantas menangis bahagia. Tunjukkan kepadanya bahwa kamu kuat.
Bahwa kamu bisa hidup tanpanya, bahwa kamu pantas mendapatkan lelaki lain yg lebih baik
Dan yg terpenting, agar ia tahu bahwa wanita juga memiliki rasa lelah. Wanita yg seharusnya diperjuangkan, buat berjuang.
Girls, karma pasti ada. Karma pasti berlaku untuk semua wanita yg pernah disakiti.
Mungkin tidak hari ini, ataupun besok. Namun suatu hari nanti.
Saat ia benar2 sendiri, ia benar2 dikecewakan oleh wanita lain yg ia perjuangkan, ia akan tersadar.
Bahwa ia telah meninggalkan harta yg paling berharga untuknya, ia akan tahu rasanya bagaimana merasakan kehilangan.
Saat ia akan kembali mengambil hartanya, takkan ada lagi harta itu. Karna ia tersadar, harta itu telah ia tinggalkan sekian tahun lamanya, dan takkan pernah kembali .
Sekalipun kembali, takkan pernah ada lagi cerita cinta yg sama dan sempurna seperti dulu.


                                                                                                                                       


                                                                                                                                                                                                                                                                                                               - Jihan Pasha-
 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez