Senin, 24 Maret 2014

Roh

Diposting oleh Unknown di 01.59 0 komentar

Roh

Ku telusuri setapak demi setapak jalanan terjal bebatuan di hadapanku. Terdengar decitan nyaring yang memekakkan telinga. Desahan nafas yang memburu dibelakangku mulai menampakkan sorotan matanya. Tangisan bayi mulai menjalar menyelimuti tubuhku yang mulai kaku. Deg! Sebuah tepukan keras tepat di belakang pundakku. Ingin rasanya aku berbalik, namun apa daya leherku mulai terasa dingin. Bukan! Bukan karena dinginnya malam itu, dingin ini merongrong leherku oleh tangan kasar yang akan mencekik leherku. Kuku-kukunya yang tajam siap merobek kulit leherku. Aku hanya diam pasrah menanti apa yang akan terjadi.
Aku terkesiap bangun. Mataku mengerjap-kerjap memastikan di mana aku saat ini. Kulihat tumpukan kardus bekas serta potongan kain untuk selimutku masih ada di sini. Tetesan air hujan yang menetes di dahiku karena teras toko yang bolong masih menetes dengan deras.
“Ah untung tadi hanya mimpi!” pekikku dalam hati
Kulihat mentari mulai menampakkan raganya. Itu tandanya aku harus pergi dari sini. Takut kalau nanti diusir lagi. Entah sudah berapa kali aku harus diguyur air karena tidur di emperan toko orang. Tentunya aku tak mau itu terjadi lagi.
Aku mulai menyusuri jalanan menuju terminal tempatku mengamen. Walau aku terlahir idiot, namun aku bisa menyanyi. Buktinya ada beberapa orang yang memberiku uang. Tapi entah karena suaraku indah atau karena mereka iba melihatku. Terlihat beberapa orang mulai turun dari sebuah bus jurusan Jakarta-Surabaya.
“Bismillah rejekiku hari ini banyak!” kataku dalam hati
            “Bbinn..taang.. keecil.. di…laa..ngit yyaang bi..ruuu”
            Kunyanyikan beberapa lagu yang pernah kudengar. Aku tak tahu apakah lagu itu sudah jadul atau belum, yang penting aku bisa mengamen. Ada beberapa orang yang hanya mendengarnya sebentar, lalu pergi membawa barang. Ada juga yang memberiku dua keping logam lima ratusan. Semua itu kuterima dengan ikhlas, yang penting aku bisa makan.
            Sudah berjam-jam aku berjalan di terminal ini. Rasanya sangat lelah. Hidup sendirian di dunia ini memang susah, apalagi aku idiot. Aku tahu, orang tuaku membuangku juga karena mereka tahu aku idiot. Mereka akan sangat malu memiliki anak sepertiku. Terkadang aku iri melihat anak-anak seumuranku lainnya yang berpakaian bagus, naik mobil, cantik, dan memiliki orang tua. Tapi walau begitu, aku tak pernah benci dengan orang tuaku. Aku percaya, pasti orang tuaku merindukan aku. Sama seperti aku merindukan mereka.
            Kuhitung uang hasil ngamenku hari ini. Seribu, dua ribu, delapan ribu. Yap, uang hari ini terkumpul delapan ribu. Aku beruntung memiliki teman-teman ngamen lainnya yang mau mengajariku untuk menghitung uang, mengajariku membaca dan menulis. Walau mereka ngamen sepertiku, tapi mereka masih beruntung karena masih memiliki orang tua dan masih bisa bersekolah.
            “Permisi mbak, tahu bus jurusan Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
            Kudongakkan kepalaku, astaga! Ada manusia tampan di hadapanku sekarang dan berbicara denganku!
            “Mbak, tahu jurusan Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
            Tak ada respon dariku, diulangi lagi pertanyaannya. Aku hanya bengong terkesiap melihat ketampanannya.
            “Oh, ternyata mbaknya bisu”
            “Aaa..kuu tti..dakk ta..hu” jawabku terbata-bata
            “Oh ternyata mbaknya bisa bicara. Maaf ya mbak” jawabnya sopan
            “Iiyyaa.. ti..dak a..pa apaa.. Mas..nya ma..u ke Ma..ge..lang?”
            “Iya, saya ada urusan di Magelang. Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Doni”
            Mulutku tercekat, laki-laki sesempurna itu mau berkenalan dengan wanita idiot sepertiku?
            Roh. Rohayati” ucapku pelan
            “Oh, hai Roh. Senang berkenalan denganmu. Oh ya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa Roh”
            Ia pun melenggang pergi menuju loket bus. Mulutku tercekat. Apakah aku bermimpi? Pertemuan singkat dan perkenalan pertamaku dengan seseorang yang tampan. Rasanya aku menjadi seseorang yang normal sekarang. Seseorang yang bisa merasakan arti cinta pada pandangan pertama. Kini aku baru tahu apa arti cinta. Rasa yang hampir 20 tahun tak pernah kurasakan.
***
            “Hey orang idiot!” bentak Agus, ketua pengamen di sini.
Dari dulu peraturannya, setiap pengamen harus menyetorkan dua puluh ribu untuk setiap penghasilan ngamen. Kami semua sudah lelah dengan tingkah si Agus atau lebih tepatnya si kriwil bertindik. Kami sudah sering disiksa kalau tidak memberikan sebagian uang kami. Aku pernah dipukul, ditendang, bahkan ia pernah melukai lenganku dengan rokoknya. Rasanya sakit sekali. Sejak saat itu, aku tak pernah berani lagi dengannya. Aku selalu menuruti permintaannya untuk memberikan sebagian uangku. Tapi kali ini aku harus berani menolaknya. Penghasilanku tak cukup hari ini jika harus menyetorkan uang.
            “Aa..da a..pa?” tanyaku pelan
            “Mana setoran?” kepalanya menunduk dengan tatapan mata tajam. Aku takut kalau-kalau pisau keramatnya itu menghunus perutku.
            Ba..yar be..sok bo..leh? Roh.. belum punya.. uang
            Aku menunduk. Sama sekali tidak berani menatap matanya yang penuh amarah. Jangankan matanya, hanya untuk sekedar melihat puluhan anting di telinga dan hidungnya pun aku takut.
            “Apa kamu bilang? Hey orang idiot! Sejak kapan kamu berani denganku? Bayar sekarang!”
            Roh tidak.. punya u..ang. roh.. ti..dak ma..kan” ucapku terbata-bata
            “Bodoh! Aku tak peduli idiot! Mau kau makan, atau tidak itu bukan urusanku! Berikan uangmu idiot!” bentak Agus
            Aku hanya menunduk menangis sesegukan. Aku takut jika keadaan seperti ini. Aku seperti tak berdaya membela diriku sendiri.
            “Hey orang idiot?! Apa kau tuli?! Dasar manusia tolol! Sudah bodoh, idiot, tuli, tak punya otak! Kau dengar tidak apa yang kuucapkan?! Hey bodoh!”
            “Hey preman kampung! Kau yang tak punya otak! Teganya kau meminta uangnya! Dasar preman tak punya otak!” teriak seseorang di belakangku
            “Siapa kau anak bau kencur?! Berani denganku?! Ada urusan apa hingga kau berani menghinaku?!”
            Mata Agus membulat, mukanya merah padam, dengusan nafasnya mulai memburu. Tangannya mulai menggenggam erat. Emosinya memuncak. Dalam keadaan seperti ini aku hanya terpana dengan orang itu. Jantungku serasa berhenti. Aku tak percaya dengan ini.
            “Ia juga punya perasaan! Setiap hari ia harus mengamen hanya untuk menyetorkan sebagian uangnya untukmu? Tak memiliki prikemanusiaan!!”
            “Halah, banyak omong kau anak bau kencur! Lawan aku! Aku sudah geram dengan omongan busukmu itu!”
            Agus mulai memberi ancang-ancang. Lelaki yang ternyata Doni pun member ancang-ancang. Sorak sorai suara orang-orang mulai berkerumun. Mereka tak ada yang melerai, tak ada yang membantu. Malah terlihat beberapan ratus ribuan keluar dari kantong mereka hanya untuk judi atau bahasa orang jawa “Toh-tohan”
            Perkelahian sengit tak ter-elakkan. Terlihat Agus membawa pisau dari samping celananya. Aku tak sanggup harus membayangkan betapa mirisnya jika pisau itu menembus perut Doni, orang yang kukagumi sejak pandangan pertama beberapa hari yang lalu. Kukuatkan tenaga Doni dalam doaku.
            “Ya Tuhan!!!” pekikku dalam hati
            Benar dugaanku, pisau itu berhasil menembus perut Doni. Kulihat Doni mulai mengerang kesakitan. Darah mengucur deras.
            “Doo..nii!!!!!” teriakku isak
            Orang-orang yang semula hanya menonton itu pun kini mulai memapah Doni untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Aku tak tahu harus berbuat apa. orang yang kukagumi harus sekarat demi melindungi orang idiot sepertiku. Sungguh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Rasanya aku benar-benar tak berguna di dunia ini.
            Kini apa yang harus kuperbuat Tuhan? Hanya sekedar melihat Doni tertusuk untuk melindungiku lalu aku pergi begitu saja? Menemuinya? Apa aku pantas Tuhan?
***
            Kuberanikan kakiku melangkah ke tempat ini. Rumah Sakit Bhayangkara. Sepanjang jalan orang-orang melihatku dengan perasaan jijik. Rasanya aku ingin berbalik dan lari dari tatapan mereka. Tapi tekadku sudah bulat. Aku harus menemui Doni.
            “Mbaak…” sapaku pelan pada seseorang di bagian informasi
            “Iya mbak ada yang bisa dibantu?”
            “Ru..angan Doni.. mana?” jawabku pelan
            “Doni? Doni siapa mbak? Di sini nama Doni banyak mbak”
            Kulirik wanita bagian informasi itu mulai menatapku lekat. Pandangan penuh heran atau bahkan jijik. Bagaimana orang idiot sepertiku bisa pergi sendiri. Itu yang ada di pikirannya.
            “Do..ni? tak tau.. kemarin di..tusuk pre..man” jawabku terbata-bata
            “Baik mbak tunggu sebentar. Akan saya cari tahu informasinya”
            Aku pun duduk di kursi tunggu. Satu, dua, tiga, empat mungkin ada lima kursi kosong di sebelahku. Sebagian dari mereka mulai beranjak pergi atau bahkan hanya menggeserkan badan mereka menjauhiku. Terdengar beberapa bisik hujatan yang mereka berikan padaku. Rasanya aku ingin segera berbalik dan menangis. Walaupun aku idiot, tapi aku memiliki perasaan. Aku memiliki pemikiran bagaimana mencari uang, mencari makan, mencari tempat untuk tidur, bahkan aku bisa menyukai orang pada pandangan pertama. Itu sebabnya aku bisa berada di sini.
            “Mbak, namanya Doni Saputra? Yang kemarin ditusuk preman di terminal? Ia berada di kamar Angsa nomor 70 mbak” kata wanita itu
            Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Yang kupikir sekarang, di mana kamar Angsa itu berada. Kulihat papan bertuliskan area kamar Angsa.
            “Untung aku bisa membaca” pekikku dalam hati
            Segera aku mencari kamar nomor 70. Terdapat nama Doni Saputra. Kini aku mulai bimbang. Jika aku masuk, apa yang harus kukatakan nanti? Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan-pertanyaa itu mulai berseru memasuki pikiranku. Apa aku pantas menemui Doni?
            Kubulatkan tekadku. Aku harus bilang terima kasih kepada Doni. Bagaimana pun ia sudah menyelamatkan hidupku. Entah di dalam sana aku diterima aku tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting aku harus mengucapkan terimakasih. Harus!
            Tttookk ttookkk ttookk
            Kulihat pemandangan asing di dalam sana. Terbaring Doni yang masih memakai banyak perban. Terdapat pula seorang lelaki tua yang duduk di sofa. Oh! Ada pula seorang wanita cantik yang sedang duduk di sebelah ranjang Doni. Jangan-jangan….
            “Hai Roh. Kenapa bisa sampai di sini?” kata Doni lembut
            Aku hanya terpaku di depan pintu. Pria tua dan wanita cantik itu mulai memandangku heran. Mulutku terkunci. Kata-kata yang sudah kupersiapkan semuanya bak hilang ditelan keringat dingin yang mulai mengucur deras membasahi tubuhku.
            “Iii..iyaa aku.. ingin.. mengu..capkan teri..ma ka..sih” jawabku setengah berbisik
            “Iya, sama-sama Roh. Aku juga tak suka preman itu kasar denganmu”
            Doni tersenyum. Lesung pipinya itu mulai meruntuhkan hatiku. Ingin rasanya aku segera berada di sampingnya dan memegang wajahnya. Tapii…
            “Siapa dia?” tanya wanita cantik itu pada Doni
            “Dia Rohayati. Ia pengamen di terminal. Aku bertemu dengannya waktu aku mencari informasi jadwal keberangkatan bus. Oh iya Roh, kenalkan dia Sandra”
            Kujabat tangannya erat. Ia cantik sekali. Senyumannya begitu tulus diiringin kibasan rambutnya yang hitam dan panjang. Tangannya pun putih mulus tanpa cacat sekalipun. Matanya sipit dan berbulu mata lentik. Giginya yang gingsul menambah kesempurnaannya. Sungguh, wanita ini sempurna sekali.
            “Diaa..?”
            “Iya, dia tunanganku Roh” jawab Doni lembut
            Deg! Jantungku berhenti berdetak. Tunangan? Aku tak mengetahui makna aslinya, yang kuketahui bahwa mereka akan menikah. Rasanya dunia ini mulai berhenti berputar. Dasarku berdesir menyakitkan setiap hulu. Badanku terasa ngilu tepatnya berada di perasaanku. Tubuhku kaku memutih pucat. Mulutku tercekat. Mataku tajam dengan pandangan penuh tanya.
            Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasakan ini. Rasa sakit yang sangat mendera. Rasanya ada ratusan pedang yang mulai merobek hatiku perlahan. Suara Doni memang lembut. Lembut sekali. Namun tidak untuk ucapannya. Terasa ada sesuatu yang mulai menggumpal dan berseru untuk segera turun di pelupuk mataku. Aku harus kuat! Aku tak boleh cengeng!
            “Oh.. tu..nangan..?  se..lamat” jawabku tegar
            “Nak”
            Tepuk pria tua itu pelan. Kulihat ia mulai memandangku tajam. Terlihat mata coklatnya itu mulai beradu dengan alisnya yang mulai memutih. Terasa teduh sekali.

*** 
            “Bu.. i.. bu yang.. te..nang ya.. di.. alam sa..na”
            Kuusap air mataku yang jatuh perlahan menetesi kerudung hitam kusamku. 10 tahun sudah aku hidup sebatang kara. Setelah 10 tahun ditinggal Ibu, aku tak pantang menyerah. Meski aku belum pernah mengenal Ibu dan Ayah kandungku, namun aku masih bersyukur bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu angkatku untuk 10 tahun lalu. Masih terbayang ketika Ibu bercerita dengan mengusap kepalaku penuh kasih sayang….
            “Roh, meski kamu bukan anak kandung Ibu, Ibu masih bersyukur bisa memberikan kasih sayang pada seorang anak. Ibu bersyukur pada Tuhan, mengabulkan doa Ibu bisa memiliki anak walau umur Ibu sudah tak lama lagi. Kamu harus kuat, Roh. Walau suatu saat mata Ibu terpejam, berjanjilah pada Ibu kelak kau harus menjadi perempuan tegar. Tak ada tangis dalam dirimu”
            Ibu menghela nafas sejenak, menyeka air mata yang mulai menetes membasahi pipi tuanya.
            “Ibu berharap, kau akan bertemu dengan kedua orangtua kandungmu. Kau anak yang hebat. Mengapa harus dibuang di tempat sampah? Roh, Ibu sayang kamu”
            Sekelebatan putih mulai memudar. Kata-kata Ibu masih kuingat walau termakan 10 tahun sudah. Orangtua kandung? Apa aku memilikinya? Lalu mengapa aku dibuang? Entahlah, biarlah waktu yang memutar fakta selama ini..

***

            “Roh!”
            Kucari sumber suara yang pernah kukenal. Doni. Mengapa dia di sini?
            “A..da a..pa Don?”
            Suaraku bergetar. Bukan! Bukan karena gugup bertemu pujaan hati, aku gugup karena hatiku roboh lagi. Ia menemuiku bersama bidadarinya lagi. Berdiri di dekat wanita ini semakin menunjukkan derajatku dan dia. Ia cantik, sangat cantik. Beruntung sekali Doni mendapatkan seseorang yang sempurna.
            “Kau mau ikut denganku?”
            “Bu..at apa? Roh.. ti..dak tau” jawabku
            “Sudahlah, ikut saja yuk” tukas Sandra, pacar Doni
            Aku tak bisa menjawab apa-apa. aku ikut begitu saja dengan mereka. Di dalam mobil tak ada percakapan, hening. Sesekali suara klakson berpacu dengan deru mesin. Aku tak pernah naik mobil semewah ini, paling mewah hanya naik angkot. Kuberanikan diriku untuk bertanya lagi.
            “Doni.. mau bawa Roh ke.. mana?”
            “Sudahlah, Roh. Sebentar lagi kita sampai kok” jawab Doni pelan.
            Aku tak menanyainya lagi. Aku hanya diam membisu menunggu akan kemana aku saat ini.
            Mobil Doni mulai berhenti di rumah yang besar sekali. Aku tak pernah melihat rumah seindah ini. Rumah ini seperti istana di kartun-kartun yang sering Roh lihat mencadi cover di dvd bajakan pinggir jalan.
            “Yuk Roh masuk” kata Doni
            “Roh? Masuk? Kotor.. gi..mana?”
            “Tidak, Roh. Sudahlah masuk. Sudah ditunggu Ayah”
            “Ayah? Ayahnya Do..ni?” jawabku bingung
            “Iya, sudahlah yuk masuk” jawab Sandra yang mulai tak sabar.
            Masuk rumah sebesar ini adalah pengalaman pertama hidupku. Mungkin rumah ini bertingkat tiga. Tamannya indah sekali, apalagi dalam rumah. Terdapat beberapa buku di lemari kaca. Ada pula keramik-keramik yang indah berharga jutaan rupiah seperti yang ku lihat di toko keramik samping pasar.
            “Hai, Roh. Akhirnya kau datang juga”
            Lamunanku buyar. Seseorang paruh baya yang kulihat di rumah sakit kini menyapaku dengan senyuman hangat seperti yang ia berikan saat menepuk bahuku saat itu.
            “Maaf, A..da a..pa? Roh.. di..ajak Do..ni ke..sini?”
            “Maaf, Roh. Sepanjang hari saya hanya memikirkan kamu. Saya harus berterus terang dan masuk ke inti masalah mengapa saya menyuruh Doni mengajak kamu ke sini”
            Lelaki paruh baya itu mulai duduk dengan tenang dan menghela nafasnya perlahan. Aku, Doni, dan Sandra pun duduk berhadapan. Tempat ini nyaman, senyaman pandangan lelaki itu padaku.
            “Kau memiliki Orangtua?” tanya lelaki itu
            “Puu..punya. ta..pi sudah.. meninggal” jawabku pelan
            Ia menghela nafas panjang. Seperti ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Raut mukanya berubah. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
            “Ta..pi itu Ibu angkat.. ia yang.. mene..mukan Roh di.. tempat sampah..” lanjutku
            “Oh, ya? Kamu serius Roh?” sambar Doni
            Aku mengangguk pelan. Raut wajah lelaki itu berbinar. Segera ia beranjak dari sofa dan mengambil sebuah foto. Ia menunjukkan foto itu. Seorang bayi yang manis dan memiliki tompel yang sama denganku di paha kananku.
            “Apakah.. kamu dibuang di tempat sampah di jalan Madukara? 20 tahun silam? Dan kamu memiliki tompel di paha kananmu?” sambar lelaki tua itu.
            “Iya..” jawabku bingung.
            Lelaki tua itu langsung memelukku erat. Erat sekali. Suara tangis nya beradu dengan tangis Doni. Terasa ada getaran saat lelaki ini memelukku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah… apakah dia…..
            “Rohayati. Maaf telah meninggalkanku selama 20 tahun ini. Ayah khilaf. Maafkan Ayah, anakku!” teriak lelaki tua itu
            “A..yah?” bibirku mulai bergetar.
            “Iya, kamu anakku. Maafkan Ayah yang telah berdosa. 20 tahun sudah Ayah mencarimu, Nak. Maafkan Ayah”
            “Me..ngapa.. bi..sa bi..lang Roh anak.. ba..pak?”
            “Waktu dan perasaan yang menjawab, Nak”
            Tangis lelaki itu mulai reda. Ia tersenyum dan mulai duduk kembali. Diambilnya 2 foto seorang wanita cantik. Mereka sama-sama cantik.
            “Ini, adalah foto ibu kandungmu. Namanya Aminah. Ia cantik sekali. Saat melahirkanmu, kamu memiliki kelainan di otak. Untuk melahirkanmu harus dioperasi. Dan pilihan saat itu, hanya ada dua. Yaitu kamu yang hidup atau ibumu yang meninggal”
            Aura kesedihan mulai menyelimuti diriku. Kupandangi wanita ini. Cantik sekali. Ia memiliki mata yang indah dan teduh. Tiba-tiba dadaku sesak. Butiran air mulai terjatuh dari mataku membasahi foto itu. Entah mengapa tiba-tiba perasaan ini mengganjal.
            “Dan ibumu memilihmu untuk hidup. Ia merelakan nyawanya untuk dirimu, Roh. Ia meninggal setelah 3 jam kau lahir di dunia. Ayah tak bisa merelakan ibumu saat itu. Ayah begitu mencintainya. Namun Ayah masih memilikimu. Ayah masih bertahan karenamu walau Ayah tahu, kau memiliki kelainan atau orang bilang idiot”
            Ayah menyeka air matanya. Kulihat Doni dan Sandra mulai meneteskan air matanya. Aku betul-betul tak paham mengapa kejadian ini terkuak begitu cepat?
            “Setelah tiga bulan kepergian Ibumu, adik ibumu mulai datang di kehidupan Ayah. Sebelum ia menghancurkan hidupmu”
            Ayah menyerahkan sebuah foto wanita lain. Ia juga cantik, matanya mirip sekali dengan Ibuku.
            “Namanya Aisyah. Ia begitu menyayangimu. Ia juga yang merawatmu. Saat itu Ayah befikir, bahwa kau juga harus mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu. Dan Ayah berfikir, saat itu hanya Aisyah lah yang bisa menggantikan Ibumu karena ia adik Ibumu. Maka Ayah menikah dengannya karena demi kamu, Nak”
            “Tapi semua itu tak berlangsung lama karena setelah sebulan Ayah menikah dengannya, ia mengandung seorang anak yaitu Doni. Sifatnya pun mulai terlihat. Ia sering marah, memakimu, dan bersikap kasar padamu. Tepat saat kamu berumur 5 bulan, dan Ayah pulang bekerja, Ayah tak menemukanmu. Kamu hilang dan Ayah berteriak histeris kehilangan dirimu. Dan ternyata dialah yang membuangmu. Ia mengaku malu memiliki anak tiri cacat dan idiot. Dan dia ingin hanya Doni yang kusayang” lanjut Ayah
            Angin mulai berdesir perlahan, paparan Ayah ini membuatku sedikit pusing.
            “Ayah mencarimu kemana-mana. Namun nihil. Ayah berusaha bertahan dengan sifat Aisyah yang semakin bringas. Setelah ia melahirkan Doni, Ayah sudah tak kuat. Ayah menceraikannya dan mengambil hak asuh Doni. Ayah yang selama ini merawat Doni. Sejak saat itu, Ayah tak tahu di mana keberadaan Aisyah” kata Ayah panjang lebar
            “Lalu.. kenapa Ayah tahu.. kalau Roh.. a..nak Ayah?” tanya pelan
            “Doni yang cerita tentang kamu. Selama ini pula Doni ikut mencarimu. Setelah ia bertemu denganmu, ia yakin bahwa kau kakaknya. Maka saat itu ia mulai melindungimu. Ayah harus mencari informasi baru akhir-akhir ini Ayah yakin bahwa kau memang anak Ayah”
            Kuberanikan diri memeluk Ayah. Doni tersenyum puas melihatku dan Ayah berpelukan. Kini aku sadar, bahwa dunia ini adil. Aku memiliki orangtua yang sempurna. Dan lebih tepatnya bukan mereka yang membuangku.
            “Bu, kini aku menemukan orangtua kandungku. Terimakasih, Bu sudah merawatku selama ini. Aku sayang ibu. Dan untuk Mamaku, walau aku tak pernah melihat Mama secara langsung, namun aku begitu mencintai Mama. Terimakasih, Ma sudah membiarkan Roh hidup di dunia ini. Aku cinta Ibu dan Mama” bisikku dalam hati
           
***

            Kini aku hidup bahagia. Hidup di lingkungan yang begitu kucintai. Aku beruntung memiliki Ayah yang hebat, serta adik yang hebat pula. Ehm, adik? Sesungguhnya aku masih belum bisa menghapus rasaku pada Doni, adikku sendiri. Kadang aku harus miris melihatnya kala ia berdua dengan Sandra.
            “Do..ni, ko..pi mau?” tanyaku
            “Boleh, kak. Terimakasih ya”
            Doni tersenyum simpul. Matanya indah seindah senyumannya. Biarkanlah waktu yang menghapus rasaku padanya. Biarkanlah cinta seorang kakak ke adik yang menghapus rasa cinta ini. Aku tahu aku salah, namun Tuhan. Biarkanlah aku yang merahasiannya. Cukup Tuhan dan aku yang tahu.


TAMAT




                                                           

                                                           

Senin, 24 Maret 2014

Roh


Roh

Ku telusuri setapak demi setapak jalanan terjal bebatuan di hadapanku. Terdengar decitan nyaring yang memekakkan telinga. Desahan nafas yang memburu dibelakangku mulai menampakkan sorotan matanya. Tangisan bayi mulai menjalar menyelimuti tubuhku yang mulai kaku. Deg! Sebuah tepukan keras tepat di belakang pundakku. Ingin rasanya aku berbalik, namun apa daya leherku mulai terasa dingin. Bukan! Bukan karena dinginnya malam itu, dingin ini merongrong leherku oleh tangan kasar yang akan mencekik leherku. Kuku-kukunya yang tajam siap merobek kulit leherku. Aku hanya diam pasrah menanti apa yang akan terjadi.
Aku terkesiap bangun. Mataku mengerjap-kerjap memastikan di mana aku saat ini. Kulihat tumpukan kardus bekas serta potongan kain untuk selimutku masih ada di sini. Tetesan air hujan yang menetes di dahiku karena teras toko yang bolong masih menetes dengan deras.
“Ah untung tadi hanya mimpi!” pekikku dalam hati
Kulihat mentari mulai menampakkan raganya. Itu tandanya aku harus pergi dari sini. Takut kalau nanti diusir lagi. Entah sudah berapa kali aku harus diguyur air karena tidur di emperan toko orang. Tentunya aku tak mau itu terjadi lagi.
Aku mulai menyusuri jalanan menuju terminal tempatku mengamen. Walau aku terlahir idiot, namun aku bisa menyanyi. Buktinya ada beberapa orang yang memberiku uang. Tapi entah karena suaraku indah atau karena mereka iba melihatku. Terlihat beberapa orang mulai turun dari sebuah bus jurusan Jakarta-Surabaya.
“Bismillah rejekiku hari ini banyak!” kataku dalam hati
            “Bbinn..taang.. keecil.. di…laa..ngit yyaang bi..ruuu”
            Kunyanyikan beberapa lagu yang pernah kudengar. Aku tak tahu apakah lagu itu sudah jadul atau belum, yang penting aku bisa mengamen. Ada beberapa orang yang hanya mendengarnya sebentar, lalu pergi membawa barang. Ada juga yang memberiku dua keping logam lima ratusan. Semua itu kuterima dengan ikhlas, yang penting aku bisa makan.
            Sudah berjam-jam aku berjalan di terminal ini. Rasanya sangat lelah. Hidup sendirian di dunia ini memang susah, apalagi aku idiot. Aku tahu, orang tuaku membuangku juga karena mereka tahu aku idiot. Mereka akan sangat malu memiliki anak sepertiku. Terkadang aku iri melihat anak-anak seumuranku lainnya yang berpakaian bagus, naik mobil, cantik, dan memiliki orang tua. Tapi walau begitu, aku tak pernah benci dengan orang tuaku. Aku percaya, pasti orang tuaku merindukan aku. Sama seperti aku merindukan mereka.
            Kuhitung uang hasil ngamenku hari ini. Seribu, dua ribu, delapan ribu. Yap, uang hari ini terkumpul delapan ribu. Aku beruntung memiliki teman-teman ngamen lainnya yang mau mengajariku untuk menghitung uang, mengajariku membaca dan menulis. Walau mereka ngamen sepertiku, tapi mereka masih beruntung karena masih memiliki orang tua dan masih bisa bersekolah.
            “Permisi mbak, tahu bus jurusan Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
            Kudongakkan kepalaku, astaga! Ada manusia tampan di hadapanku sekarang dan berbicara denganku!
            “Mbak, tahu jurusan Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
            Tak ada respon dariku, diulangi lagi pertanyaannya. Aku hanya bengong terkesiap melihat ketampanannya.
            “Oh, ternyata mbaknya bisu”
            “Aaa..kuu tti..dakk ta..hu” jawabku terbata-bata
            “Oh ternyata mbaknya bisa bicara. Maaf ya mbak” jawabnya sopan
            “Iiyyaa.. ti..dak a..pa apaa.. Mas..nya ma..u ke Ma..ge..lang?”
            “Iya, saya ada urusan di Magelang. Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Doni”
            Mulutku tercekat, laki-laki sesempurna itu mau berkenalan dengan wanita idiot sepertiku?
            Roh. Rohayati” ucapku pelan
            “Oh, hai Roh. Senang berkenalan denganmu. Oh ya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa Roh”
            Ia pun melenggang pergi menuju loket bus. Mulutku tercekat. Apakah aku bermimpi? Pertemuan singkat dan perkenalan pertamaku dengan seseorang yang tampan. Rasanya aku menjadi seseorang yang normal sekarang. Seseorang yang bisa merasakan arti cinta pada pandangan pertama. Kini aku baru tahu apa arti cinta. Rasa yang hampir 20 tahun tak pernah kurasakan.
***
            “Hey orang idiot!” bentak Agus, ketua pengamen di sini.
Dari dulu peraturannya, setiap pengamen harus menyetorkan dua puluh ribu untuk setiap penghasilan ngamen. Kami semua sudah lelah dengan tingkah si Agus atau lebih tepatnya si kriwil bertindik. Kami sudah sering disiksa kalau tidak memberikan sebagian uang kami. Aku pernah dipukul, ditendang, bahkan ia pernah melukai lenganku dengan rokoknya. Rasanya sakit sekali. Sejak saat itu, aku tak pernah berani lagi dengannya. Aku selalu menuruti permintaannya untuk memberikan sebagian uangku. Tapi kali ini aku harus berani menolaknya. Penghasilanku tak cukup hari ini jika harus menyetorkan uang.
            “Aa..da a..pa?” tanyaku pelan
            “Mana setoran?” kepalanya menunduk dengan tatapan mata tajam. Aku takut kalau-kalau pisau keramatnya itu menghunus perutku.
            Ba..yar be..sok bo..leh? Roh.. belum punya.. uang
            Aku menunduk. Sama sekali tidak berani menatap matanya yang penuh amarah. Jangankan matanya, hanya untuk sekedar melihat puluhan anting di telinga dan hidungnya pun aku takut.
            “Apa kamu bilang? Hey orang idiot! Sejak kapan kamu berani denganku? Bayar sekarang!”
            Roh tidak.. punya u..ang. roh.. ti..dak ma..kan” ucapku terbata-bata
            “Bodoh! Aku tak peduli idiot! Mau kau makan, atau tidak itu bukan urusanku! Berikan uangmu idiot!” bentak Agus
            Aku hanya menunduk menangis sesegukan. Aku takut jika keadaan seperti ini. Aku seperti tak berdaya membela diriku sendiri.
            “Hey orang idiot?! Apa kau tuli?! Dasar manusia tolol! Sudah bodoh, idiot, tuli, tak punya otak! Kau dengar tidak apa yang kuucapkan?! Hey bodoh!”
            “Hey preman kampung! Kau yang tak punya otak! Teganya kau meminta uangnya! Dasar preman tak punya otak!” teriak seseorang di belakangku
            “Siapa kau anak bau kencur?! Berani denganku?! Ada urusan apa hingga kau berani menghinaku?!”
            Mata Agus membulat, mukanya merah padam, dengusan nafasnya mulai memburu. Tangannya mulai menggenggam erat. Emosinya memuncak. Dalam keadaan seperti ini aku hanya terpana dengan orang itu. Jantungku serasa berhenti. Aku tak percaya dengan ini.
            “Ia juga punya perasaan! Setiap hari ia harus mengamen hanya untuk menyetorkan sebagian uangnya untukmu? Tak memiliki prikemanusiaan!!”
            “Halah, banyak omong kau anak bau kencur! Lawan aku! Aku sudah geram dengan omongan busukmu itu!”
            Agus mulai memberi ancang-ancang. Lelaki yang ternyata Doni pun member ancang-ancang. Sorak sorai suara orang-orang mulai berkerumun. Mereka tak ada yang melerai, tak ada yang membantu. Malah terlihat beberapan ratus ribuan keluar dari kantong mereka hanya untuk judi atau bahasa orang jawa “Toh-tohan”
            Perkelahian sengit tak ter-elakkan. Terlihat Agus membawa pisau dari samping celananya. Aku tak sanggup harus membayangkan betapa mirisnya jika pisau itu menembus perut Doni, orang yang kukagumi sejak pandangan pertama beberapa hari yang lalu. Kukuatkan tenaga Doni dalam doaku.
            “Ya Tuhan!!!” pekikku dalam hati
            Benar dugaanku, pisau itu berhasil menembus perut Doni. Kulihat Doni mulai mengerang kesakitan. Darah mengucur deras.
            “Doo..nii!!!!!” teriakku isak
            Orang-orang yang semula hanya menonton itu pun kini mulai memapah Doni untuk dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Aku tak tahu harus berbuat apa. orang yang kukagumi harus sekarat demi melindungi orang idiot sepertiku. Sungguh, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Rasanya aku benar-benar tak berguna di dunia ini.
            Kini apa yang harus kuperbuat Tuhan? Hanya sekedar melihat Doni tertusuk untuk melindungiku lalu aku pergi begitu saja? Menemuinya? Apa aku pantas Tuhan?
***
            Kuberanikan kakiku melangkah ke tempat ini. Rumah Sakit Bhayangkara. Sepanjang jalan orang-orang melihatku dengan perasaan jijik. Rasanya aku ingin berbalik dan lari dari tatapan mereka. Tapi tekadku sudah bulat. Aku harus menemui Doni.
            “Mbaak…” sapaku pelan pada seseorang di bagian informasi
            “Iya mbak ada yang bisa dibantu?”
            “Ru..angan Doni.. mana?” jawabku pelan
            “Doni? Doni siapa mbak? Di sini nama Doni banyak mbak”
            Kulirik wanita bagian informasi itu mulai menatapku lekat. Pandangan penuh heran atau bahkan jijik. Bagaimana orang idiot sepertiku bisa pergi sendiri. Itu yang ada di pikirannya.
            “Do..ni? tak tau.. kemarin di..tusuk pre..man” jawabku terbata-bata
            “Baik mbak tunggu sebentar. Akan saya cari tahu informasinya”
            Aku pun duduk di kursi tunggu. Satu, dua, tiga, empat mungkin ada lima kursi kosong di sebelahku. Sebagian dari mereka mulai beranjak pergi atau bahkan hanya menggeserkan badan mereka menjauhiku. Terdengar beberapa bisik hujatan yang mereka berikan padaku. Rasanya aku ingin segera berbalik dan menangis. Walaupun aku idiot, tapi aku memiliki perasaan. Aku memiliki pemikiran bagaimana mencari uang, mencari makan, mencari tempat untuk tidur, bahkan aku bisa menyukai orang pada pandangan pertama. Itu sebabnya aku bisa berada di sini.
            “Mbak, namanya Doni Saputra? Yang kemarin ditusuk preman di terminal? Ia berada di kamar Angsa nomor 70 mbak” kata wanita itu
            Aku hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Yang kupikir sekarang, di mana kamar Angsa itu berada. Kulihat papan bertuliskan area kamar Angsa.
            “Untung aku bisa membaca” pekikku dalam hati
            Segera aku mencari kamar nomor 70. Terdapat nama Doni Saputra. Kini aku mulai bimbang. Jika aku masuk, apa yang harus kukatakan nanti? Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan-pertanyaa itu mulai berseru memasuki pikiranku. Apa aku pantas menemui Doni?
            Kubulatkan tekadku. Aku harus bilang terima kasih kepada Doni. Bagaimana pun ia sudah menyelamatkan hidupku. Entah di dalam sana aku diterima aku tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting aku harus mengucapkan terimakasih. Harus!
            Tttookk ttookkk ttookk
            Kulihat pemandangan asing di dalam sana. Terbaring Doni yang masih memakai banyak perban. Terdapat pula seorang lelaki tua yang duduk di sofa. Oh! Ada pula seorang wanita cantik yang sedang duduk di sebelah ranjang Doni. Jangan-jangan….
            “Hai Roh. Kenapa bisa sampai di sini?” kata Doni lembut
            Aku hanya terpaku di depan pintu. Pria tua dan wanita cantik itu mulai memandangku heran. Mulutku terkunci. Kata-kata yang sudah kupersiapkan semuanya bak hilang ditelan keringat dingin yang mulai mengucur deras membasahi tubuhku.
            “Iii..iyaa aku.. ingin.. mengu..capkan teri..ma ka..sih” jawabku setengah berbisik
            “Iya, sama-sama Roh. Aku juga tak suka preman itu kasar denganmu”
            Doni tersenyum. Lesung pipinya itu mulai meruntuhkan hatiku. Ingin rasanya aku segera berada di sampingnya dan memegang wajahnya. Tapii…
            “Siapa dia?” tanya wanita cantik itu pada Doni
            “Dia Rohayati. Ia pengamen di terminal. Aku bertemu dengannya waktu aku mencari informasi jadwal keberangkatan bus. Oh iya Roh, kenalkan dia Sandra”
            Kujabat tangannya erat. Ia cantik sekali. Senyumannya begitu tulus diiringin kibasan rambutnya yang hitam dan panjang. Tangannya pun putih mulus tanpa cacat sekalipun. Matanya sipit dan berbulu mata lentik. Giginya yang gingsul menambah kesempurnaannya. Sungguh, wanita ini sempurna sekali.
            “Diaa..?”
            “Iya, dia tunanganku Roh” jawab Doni lembut
            Deg! Jantungku berhenti berdetak. Tunangan? Aku tak mengetahui makna aslinya, yang kuketahui bahwa mereka akan menikah. Rasanya dunia ini mulai berhenti berputar. Dasarku berdesir menyakitkan setiap hulu. Badanku terasa ngilu tepatnya berada di perasaanku. Tubuhku kaku memutih pucat. Mulutku tercekat. Mataku tajam dengan pandangan penuh tanya.
            Aku tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasakan ini. Rasa sakit yang sangat mendera. Rasanya ada ratusan pedang yang mulai merobek hatiku perlahan. Suara Doni memang lembut. Lembut sekali. Namun tidak untuk ucapannya. Terasa ada sesuatu yang mulai menggumpal dan berseru untuk segera turun di pelupuk mataku. Aku harus kuat! Aku tak boleh cengeng!
            “Oh.. tu..nangan..?  se..lamat” jawabku tegar
            “Nak”
            Tepuk pria tua itu pelan. Kulihat ia mulai memandangku tajam. Terlihat mata coklatnya itu mulai beradu dengan alisnya yang mulai memutih. Terasa teduh sekali.

*** 
            “Bu.. i.. bu yang.. te..nang ya.. di.. alam sa..na”
            Kuusap air mataku yang jatuh perlahan menetesi kerudung hitam kusamku. 10 tahun sudah aku hidup sebatang kara. Setelah 10 tahun ditinggal Ibu, aku tak pantang menyerah. Meski aku belum pernah mengenal Ibu dan Ayah kandungku, namun aku masih bersyukur bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu angkatku untuk 10 tahun lalu. Masih terbayang ketika Ibu bercerita dengan mengusap kepalaku penuh kasih sayang….
            “Roh, meski kamu bukan anak kandung Ibu, Ibu masih bersyukur bisa memberikan kasih sayang pada seorang anak. Ibu bersyukur pada Tuhan, mengabulkan doa Ibu bisa memiliki anak walau umur Ibu sudah tak lama lagi. Kamu harus kuat, Roh. Walau suatu saat mata Ibu terpejam, berjanjilah pada Ibu kelak kau harus menjadi perempuan tegar. Tak ada tangis dalam dirimu”
            Ibu menghela nafas sejenak, menyeka air mata yang mulai menetes membasahi pipi tuanya.
            “Ibu berharap, kau akan bertemu dengan kedua orangtua kandungmu. Kau anak yang hebat. Mengapa harus dibuang di tempat sampah? Roh, Ibu sayang kamu”
            Sekelebatan putih mulai memudar. Kata-kata Ibu masih kuingat walau termakan 10 tahun sudah. Orangtua kandung? Apa aku memilikinya? Lalu mengapa aku dibuang? Entahlah, biarlah waktu yang memutar fakta selama ini..

***

            “Roh!”
            Kucari sumber suara yang pernah kukenal. Doni. Mengapa dia di sini?
            “A..da a..pa Don?”
            Suaraku bergetar. Bukan! Bukan karena gugup bertemu pujaan hati, aku gugup karena hatiku roboh lagi. Ia menemuiku bersama bidadarinya lagi. Berdiri di dekat wanita ini semakin menunjukkan derajatku dan dia. Ia cantik, sangat cantik. Beruntung sekali Doni mendapatkan seseorang yang sempurna.
            “Kau mau ikut denganku?”
            “Bu..at apa? Roh.. ti..dak tau” jawabku
            “Sudahlah, ikut saja yuk” tukas Sandra, pacar Doni
            Aku tak bisa menjawab apa-apa. aku ikut begitu saja dengan mereka. Di dalam mobil tak ada percakapan, hening. Sesekali suara klakson berpacu dengan deru mesin. Aku tak pernah naik mobil semewah ini, paling mewah hanya naik angkot. Kuberanikan diriku untuk bertanya lagi.
            “Doni.. mau bawa Roh ke.. mana?”
            “Sudahlah, Roh. Sebentar lagi kita sampai kok” jawab Doni pelan.
            Aku tak menanyainya lagi. Aku hanya diam membisu menunggu akan kemana aku saat ini.
            Mobil Doni mulai berhenti di rumah yang besar sekali. Aku tak pernah melihat rumah seindah ini. Rumah ini seperti istana di kartun-kartun yang sering Roh lihat mencadi cover di dvd bajakan pinggir jalan.
            “Yuk Roh masuk” kata Doni
            “Roh? Masuk? Kotor.. gi..mana?”
            “Tidak, Roh. Sudahlah masuk. Sudah ditunggu Ayah”
            “Ayah? Ayahnya Do..ni?” jawabku bingung
            “Iya, sudahlah yuk masuk” jawab Sandra yang mulai tak sabar.
            Masuk rumah sebesar ini adalah pengalaman pertama hidupku. Mungkin rumah ini bertingkat tiga. Tamannya indah sekali, apalagi dalam rumah. Terdapat beberapa buku di lemari kaca. Ada pula keramik-keramik yang indah berharga jutaan rupiah seperti yang ku lihat di toko keramik samping pasar.
            “Hai, Roh. Akhirnya kau datang juga”
            Lamunanku buyar. Seseorang paruh baya yang kulihat di rumah sakit kini menyapaku dengan senyuman hangat seperti yang ia berikan saat menepuk bahuku saat itu.
            “Maaf, A..da a..pa? Roh.. di..ajak Do..ni ke..sini?”
            “Maaf, Roh. Sepanjang hari saya hanya memikirkan kamu. Saya harus berterus terang dan masuk ke inti masalah mengapa saya menyuruh Doni mengajak kamu ke sini”
            Lelaki paruh baya itu mulai duduk dengan tenang dan menghela nafasnya perlahan. Aku, Doni, dan Sandra pun duduk berhadapan. Tempat ini nyaman, senyaman pandangan lelaki itu padaku.
            “Kau memiliki Orangtua?” tanya lelaki itu
            “Puu..punya. ta..pi sudah.. meninggal” jawabku pelan
            Ia menghela nafas panjang. Seperti ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Raut mukanya berubah. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
            “Ta..pi itu Ibu angkat.. ia yang.. mene..mukan Roh di.. tempat sampah..” lanjutku
            “Oh, ya? Kamu serius Roh?” sambar Doni
            Aku mengangguk pelan. Raut wajah lelaki itu berbinar. Segera ia beranjak dari sofa dan mengambil sebuah foto. Ia menunjukkan foto itu. Seorang bayi yang manis dan memiliki tompel yang sama denganku di paha kananku.
            “Apakah.. kamu dibuang di tempat sampah di jalan Madukara? 20 tahun silam? Dan kamu memiliki tompel di paha kananmu?” sambar lelaki tua itu.
            “Iya..” jawabku bingung.
            Lelaki tua itu langsung memelukku erat. Erat sekali. Suara tangis nya beradu dengan tangis Doni. Terasa ada getaran saat lelaki ini memelukku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah… apakah dia…..
            “Rohayati. Maaf telah meninggalkanku selama 20 tahun ini. Ayah khilaf. Maafkan Ayah, anakku!” teriak lelaki tua itu
            “A..yah?” bibirku mulai bergetar.
            “Iya, kamu anakku. Maafkan Ayah yang telah berdosa. 20 tahun sudah Ayah mencarimu, Nak. Maafkan Ayah”
            “Me..ngapa.. bi..sa bi..lang Roh anak.. ba..pak?”
            “Waktu dan perasaan yang menjawab, Nak”
            Tangis lelaki itu mulai reda. Ia tersenyum dan mulai duduk kembali. Diambilnya 2 foto seorang wanita cantik. Mereka sama-sama cantik.
            “Ini, adalah foto ibu kandungmu. Namanya Aminah. Ia cantik sekali. Saat melahirkanmu, kamu memiliki kelainan di otak. Untuk melahirkanmu harus dioperasi. Dan pilihan saat itu, hanya ada dua. Yaitu kamu yang hidup atau ibumu yang meninggal”
            Aura kesedihan mulai menyelimuti diriku. Kupandangi wanita ini. Cantik sekali. Ia memiliki mata yang indah dan teduh. Tiba-tiba dadaku sesak. Butiran air mulai terjatuh dari mataku membasahi foto itu. Entah mengapa tiba-tiba perasaan ini mengganjal.
            “Dan ibumu memilihmu untuk hidup. Ia merelakan nyawanya untuk dirimu, Roh. Ia meninggal setelah 3 jam kau lahir di dunia. Ayah tak bisa merelakan ibumu saat itu. Ayah begitu mencintainya. Namun Ayah masih memilikimu. Ayah masih bertahan karenamu walau Ayah tahu, kau memiliki kelainan atau orang bilang idiot”
            Ayah menyeka air matanya. Kulihat Doni dan Sandra mulai meneteskan air matanya. Aku betul-betul tak paham mengapa kejadian ini terkuak begitu cepat?
            “Setelah tiga bulan kepergian Ibumu, adik ibumu mulai datang di kehidupan Ayah. Sebelum ia menghancurkan hidupmu”
            Ayah menyerahkan sebuah foto wanita lain. Ia juga cantik, matanya mirip sekali dengan Ibuku.
            “Namanya Aisyah. Ia begitu menyayangimu. Ia juga yang merawatmu. Saat itu Ayah befikir, bahwa kau juga harus mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu. Dan Ayah berfikir, saat itu hanya Aisyah lah yang bisa menggantikan Ibumu karena ia adik Ibumu. Maka Ayah menikah dengannya karena demi kamu, Nak”
            “Tapi semua itu tak berlangsung lama karena setelah sebulan Ayah menikah dengannya, ia mengandung seorang anak yaitu Doni. Sifatnya pun mulai terlihat. Ia sering marah, memakimu, dan bersikap kasar padamu. Tepat saat kamu berumur 5 bulan, dan Ayah pulang bekerja, Ayah tak menemukanmu. Kamu hilang dan Ayah berteriak histeris kehilangan dirimu. Dan ternyata dialah yang membuangmu. Ia mengaku malu memiliki anak tiri cacat dan idiot. Dan dia ingin hanya Doni yang kusayang” lanjut Ayah
            Angin mulai berdesir perlahan, paparan Ayah ini membuatku sedikit pusing.
            “Ayah mencarimu kemana-mana. Namun nihil. Ayah berusaha bertahan dengan sifat Aisyah yang semakin bringas. Setelah ia melahirkan Doni, Ayah sudah tak kuat. Ayah menceraikannya dan mengambil hak asuh Doni. Ayah yang selama ini merawat Doni. Sejak saat itu, Ayah tak tahu di mana keberadaan Aisyah” kata Ayah panjang lebar
            “Lalu.. kenapa Ayah tahu.. kalau Roh.. a..nak Ayah?” tanya pelan
            “Doni yang cerita tentang kamu. Selama ini pula Doni ikut mencarimu. Setelah ia bertemu denganmu, ia yakin bahwa kau kakaknya. Maka saat itu ia mulai melindungimu. Ayah harus mencari informasi baru akhir-akhir ini Ayah yakin bahwa kau memang anak Ayah”
            Kuberanikan diri memeluk Ayah. Doni tersenyum puas melihatku dan Ayah berpelukan. Kini aku sadar, bahwa dunia ini adil. Aku memiliki orangtua yang sempurna. Dan lebih tepatnya bukan mereka yang membuangku.
            “Bu, kini aku menemukan orangtua kandungku. Terimakasih, Bu sudah merawatku selama ini. Aku sayang ibu. Dan untuk Mamaku, walau aku tak pernah melihat Mama secara langsung, namun aku begitu mencintai Mama. Terimakasih, Ma sudah membiarkan Roh hidup di dunia ini. Aku cinta Ibu dan Mama” bisikku dalam hati
           
***

            Kini aku hidup bahagia. Hidup di lingkungan yang begitu kucintai. Aku beruntung memiliki Ayah yang hebat, serta adik yang hebat pula. Ehm, adik? Sesungguhnya aku masih belum bisa menghapus rasaku pada Doni, adikku sendiri. Kadang aku harus miris melihatnya kala ia berdua dengan Sandra.
            “Do..ni, ko..pi mau?” tanyaku
            “Boleh, kak. Terimakasih ya”
            Doni tersenyum simpul. Matanya indah seindah senyumannya. Biarkanlah waktu yang menghapus rasaku padanya. Biarkanlah cinta seorang kakak ke adik yang menghapus rasa cinta ini. Aku tahu aku salah, namun Tuhan. Biarkanlah aku yang merahasiannya. Cukup Tuhan dan aku yang tahu.


TAMAT




                                                           

                                                           
 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez