Roh
Ku telusuri setapak demi setapak jalanan terjal bebatuan di hadapanku.
Terdengar decitan nyaring yang memekakkan telinga. Desahan nafas yang memburu
dibelakangku mulai menampakkan sorotan matanya. Tangisan bayi mulai menjalar
menyelimuti tubuhku yang mulai kaku. Deg! Sebuah tepukan keras tepat di
belakang pundakku. Ingin rasanya aku berbalik, namun apa daya leherku mulai
terasa dingin. Bukan! Bukan karena dinginnya malam itu, dingin ini merongrong
leherku oleh tangan kasar yang akan mencekik leherku. Kuku-kukunya yang tajam
siap merobek kulit leherku. Aku hanya diam pasrah menanti apa yang akan
terjadi.
Aku terkesiap bangun. Mataku mengerjap-kerjap memastikan di mana aku saat
ini. Kulihat tumpukan kardus bekas serta potongan kain untuk selimutku masih ada
di sini. Tetesan air hujan yang menetes di dahiku karena teras toko yang bolong
masih menetes dengan deras.
“Ah untung tadi hanya mimpi!” pekikku dalam hati
Kulihat mentari mulai menampakkan raganya. Itu tandanya aku harus pergi
dari sini. Takut kalau nanti diusir lagi. Entah sudah berapa kali aku harus
diguyur air karena tidur di emperan toko orang. Tentunya aku tak mau itu
terjadi lagi.
Aku mulai menyusuri jalanan menuju terminal tempatku mengamen. Walau aku
terlahir idiot, namun aku bisa menyanyi. Buktinya ada beberapa orang yang
memberiku uang. Tapi entah karena suaraku indah atau karena mereka iba
melihatku. Terlihat beberapa orang mulai turun dari sebuah bus jurusan
Jakarta-Surabaya.
“Bismillah rejekiku hari ini banyak!” kataku dalam hati
“Bbinn..taang.. keecil..
di…laa..ngit yyaang bi..ruuu”
Kunyanyikan beberapa lagu yang
pernah kudengar. Aku tak tahu apakah lagu itu sudah jadul atau belum, yang
penting aku bisa mengamen. Ada beberapa orang yang hanya mendengarnya sebentar,
lalu pergi membawa barang. Ada juga yang memberiku dua keping logam lima
ratusan. Semua itu kuterima dengan ikhlas, yang penting aku bisa makan.
Sudah berjam-jam aku berjalan di
terminal ini. Rasanya sangat lelah. Hidup sendirian di dunia ini memang susah,
apalagi aku idiot. Aku tahu, orang tuaku membuangku juga karena mereka tahu aku
idiot. Mereka akan sangat malu memiliki anak sepertiku. Terkadang aku iri
melihat anak-anak seumuranku lainnya yang berpakaian bagus, naik mobil, cantik,
dan memiliki orang tua. Tapi walau begitu, aku tak pernah benci dengan orang
tuaku. Aku percaya, pasti orang tuaku merindukan aku. Sama seperti aku
merindukan mereka.
Kuhitung uang hasil ngamenku hari
ini. Seribu, dua ribu, delapan ribu. Yap, uang hari ini terkumpul delapan ribu.
Aku beruntung memiliki teman-teman ngamen lainnya yang mau mengajariku untuk
menghitung uang, mengajariku membaca dan menulis. Walau mereka ngamen
sepertiku, tapi mereka masih beruntung karena masih memiliki orang tua dan
masih bisa bersekolah.
“Permisi mbak, tahu bus jurusan
Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
Kudongakkan kepalaku, astaga! Ada
manusia tampan di hadapanku sekarang dan berbicara denganku!
“Mbak, tahu jurusan
Surabaya-Magelang berangkat jam berapa?”
Tak ada respon dariku, diulangi lagi
pertanyaannya. Aku hanya bengong terkesiap melihat ketampanannya.
“Oh, ternyata mbaknya bisu”
“Aaa..kuu tti..dakk ta..hu” jawabku
terbata-bata
“Oh ternyata mbaknya bisa bicara.
Maaf ya mbak” jawabnya sopan
“Iiyyaa.. ti..dak a..pa apaa..
Mas..nya ma..u ke Ma..ge..lang?”
“Iya, saya ada urusan di Magelang.
Oh iya, kita belum kenalan. Namaku Doni”
Mulutku tercekat, laki-laki
sesempurna itu mau berkenalan dengan wanita idiot sepertiku?
“Roh. Rohayati” ucapku pelan
“Oh, hai Roh. Senang berkenalan
denganmu. Oh ya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa Roh”
Ia pun melenggang pergi menuju loket
bus. Mulutku tercekat. Apakah aku bermimpi? Pertemuan singkat dan perkenalan
pertamaku dengan seseorang yang tampan. Rasanya aku menjadi seseorang yang
normal sekarang. Seseorang yang bisa merasakan arti cinta pada pandangan
pertama. Kini aku baru tahu apa arti cinta. Rasa yang hampir 20 tahun tak
pernah kurasakan.
***
“Hey orang idiot!” bentak Agus,
ketua pengamen di sini.
Dari dulu peraturannya, setiap pengamen harus menyetorkan dua puluh ribu
untuk setiap penghasilan ngamen. Kami semua sudah lelah dengan tingkah si Agus
atau lebih tepatnya si kriwil bertindik. Kami sudah sering disiksa kalau tidak
memberikan sebagian uang kami. Aku pernah dipukul, ditendang, bahkan ia pernah
melukai lenganku dengan rokoknya. Rasanya sakit sekali. Sejak saat itu, aku tak
pernah berani lagi dengannya. Aku selalu menuruti permintaannya untuk
memberikan sebagian uangku. Tapi kali ini aku harus berani
menolaknya. Penghasilanku tak cukup hari ini jika harus menyetorkan uang.
“Aa..da a..pa?” tanyaku pelan
“Mana setoran?” kepalanya menunduk
dengan tatapan mata tajam. Aku takut kalau-kalau pisau keramatnya itu menghunus perutku.
“Ba..yar be..sok bo..leh?
Roh.. belum punya.. uang”
Aku menunduk. Sama sekali tidak
berani menatap matanya yang penuh amarah. Jangankan matanya, hanya untuk
sekedar melihat puluhan anting di telinga dan hidungnya pun aku takut.
“Apa kamu bilang? Hey orang idiot! Sejak
kapan kamu berani denganku? Bayar sekarang!”
“Roh tidak.. punya
u..ang. roh.. ti..dak ma..kan”
ucapku terbata-bata
“Bodoh! Aku tak peduli idiot! Mau
kau makan, atau tidak itu bukan urusanku! Berikan uangmu idiot!” bentak Agus
Aku hanya menunduk menangis
sesegukan. Aku takut jika keadaan seperti ini. Aku seperti tak berdaya membela
diriku sendiri.
“Hey orang idiot?! Apa kau tuli?!
Dasar manusia tolol! Sudah bodoh, idiot, tuli, tak punya otak! Kau dengar tidak
apa yang kuucapkan?! Hey bodoh!”
“Hey preman kampung! Kau yang tak
punya otak! Teganya kau meminta uangnya! Dasar preman tak punya otak!”
teriak seseorang di belakangku
“Siapa kau anak bau kencur?! Berani
denganku?! Ada urusan apa hingga kau berani menghinaku?!”
Mata Agus membulat, mukanya merah padam,
dengusan nafasnya mulai memburu. Tangannya mulai menggenggam erat. Emosinya
memuncak. Dalam keadaan seperti ini aku hanya terpana dengan orang itu.
Jantungku serasa berhenti. Aku tak percaya dengan ini.
“Ia
juga punya perasaan! Setiap hari ia harus mengamen hanya untuk menyetorkan
sebagian uangnya untukmu?
Tak memiliki prikemanusiaan!!”
“Halah,
banyak omong kau anak bau kencur! Lawan aku! Aku sudah geram dengan omongan
busukmu itu!”
Agus
mulai memberi ancang-ancang. Lelaki yang ternyata Doni pun member
ancang-ancang. Sorak sorai suara orang-orang mulai berkerumun. Mereka tak ada
yang melerai, tak ada yang membantu. Malah terlihat beberapan ratus ribuan
keluar dari kantong mereka hanya untuk judi atau bahasa orang jawa “Toh-tohan”
Perkelahian
sengit tak ter-elakkan. Terlihat Agus membawa pisau dari samping celananya. Aku
tak sanggup harus membayangkan betapa mirisnya jika pisau itu menembus perut
Doni, orang yang kukagumi sejak pandangan pertama beberapa hari yang lalu. Kukuatkan
tenaga Doni dalam doaku.
“Ya
Tuhan!!!” pekikku dalam hati
Benar
dugaanku, pisau itu berhasil menembus perut Doni. Kulihat Doni mulai mengerang
kesakitan. Darah mengucur deras.
“Doo..nii!!!!!”
teriakku isak
Orang-orang
yang semula hanya menonton itu pun kini mulai memapah Doni untuk dibawa ke
Rumah Sakit terdekat. Aku tak tahu harus berbuat apa. orang yang kukagumi harus
sekarat demi melindungi orang idiot sepertiku. Sungguh, aku tak tahu apa yang
harus kulakukan. Rasanya aku benar-benar tak berguna di dunia ini.
Kini
apa yang harus kuperbuat Tuhan?
Hanya sekedar melihat Doni tertusuk untuk melindungiku lalu aku pergi begitu
saja? Menemuinya? Apa aku pantas Tuhan?
***
Kuberanikan
kakiku melangkah ke tempat ini. Rumah Sakit Bhayangkara. Sepanjang jalan
orang-orang melihatku dengan perasaan jijik. Rasanya aku ingin berbalik dan
lari dari tatapan mereka. Tapi tekadku sudah bulat. Aku harus menemui Doni.
“Mbaak…”
sapaku pelan pada seseorang di bagian informasi
“Iya
mbak ada yang bisa dibantu?”
“Ru..angan
Doni.. mana?” jawabku pelan
“Doni?
Doni siapa mbak? Di sini nama Doni banyak mbak”
Kulirik
wanita bagian informasi itu mulai menatapku lekat. Pandangan penuh heran atau
bahkan jijik. Bagaimana orang idiot sepertiku bisa pergi sendiri. Itu yang ada
di pikirannya.
“Do..ni?
tak tau.. kemarin di..tusuk pre..man” jawabku terbata-bata
“Baik
mbak tunggu sebentar. Akan saya cari tahu informasinya”
Aku
pun duduk di kursi tunggu. Satu, dua, tiga, empat mungkin ada lima kursi kosong
di sebelahku. Sebagian dari mereka mulai beranjak pergi atau bahkan hanya
menggeserkan badan mereka menjauhiku. Terdengar beberapa bisik hujatan yang
mereka berikan padaku. Rasanya aku ingin segera berbalik dan menangis. Walaupun
aku idiot, tapi aku memiliki perasaan. Aku memiliki pemikiran bagaimana mencari
uang, mencari makan, mencari tempat untuk tidur, bahkan aku bisa menyukai orang
pada pandangan pertama. Itu sebabnya aku bisa berada di sini.
“Mbak,
namanya Doni Saputra? Yang kemarin ditusuk preman di terminal? Ia berada di
kamar Angsa nomor 70 mbak” kata wanita itu
Aku
hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Yang kupikir sekarang, di mana
kamar Angsa itu berada. Kulihat papan bertuliskan area kamar Angsa.
“Untung
aku bisa membaca” pekikku dalam hati
Segera
aku mencari kamar nomor 70. Terdapat nama Doni Saputra. Kini aku mulai bimbang.
Jika aku masuk, apa yang harus kukatakan nanti? Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan-pertanyaa
itu mulai berseru memasuki pikiranku. Apa aku pantas menemui Doni?
Kubulatkan
tekadku. Aku harus bilang terima kasih kepada Doni. Bagaimana pun ia sudah
menyelamatkan hidupku. Entah di dalam sana aku diterima aku tidak, itu urusan
nanti. Yang terpenting aku harus mengucapkan terimakasih. Harus!
Tttookk
ttookkk ttookk
Kulihat
pemandangan asing di dalam sana. Terbaring Doni yang masih memakai banyak
perban. Terdapat pula seorang lelaki tua yang duduk di sofa. Oh! Ada pula
seorang wanita cantik yang sedang duduk di sebelah ranjang Doni.
Jangan-jangan….
“Hai
Roh. Kenapa bisa sampai di sini?” kata Doni lembut
Aku
hanya terpaku di depan pintu. Pria tua dan wanita cantik itu mulai memandangku
heran. Mulutku terkunci. Kata-kata yang sudah kupersiapkan semuanya bak hilang
ditelan keringat dingin yang mulai mengucur deras membasahi tubuhku.
“Iii..iyaa
aku.. ingin.. mengu..capkan teri..ma ka..sih” jawabku setengah berbisik
“Iya,
sama-sama Roh. Aku juga tak suka preman itu kasar denganmu”
Doni
tersenyum. Lesung pipinya itu mulai meruntuhkan hatiku. Ingin rasanya aku
segera berada di sampingnya dan memegang wajahnya. Tapii…
“Siapa
dia?” tanya wanita cantik itu pada Doni
“Dia
Rohayati. Ia pengamen di terminal. Aku bertemu dengannya waktu aku mencari
informasi jadwal keberangkatan bus. Oh iya Roh, kenalkan dia Sandra”
Kujabat
tangannya erat. Ia cantik sekali. Senyumannya begitu tulus diiringin kibasan
rambutnya yang hitam dan panjang. Tangannya pun putih mulus tanpa cacat
sekalipun. Matanya sipit dan berbulu mata lentik. Giginya yang gingsul menambah
kesempurnaannya. Sungguh, wanita ini sempurna sekali.
“Diaa..?”
“Iya,
dia tunanganku Roh” jawab Doni lembut
Deg!
Jantungku berhenti berdetak. Tunangan? Aku tak mengetahui makna aslinya, yang
kuketahui bahwa mereka akan menikah. Rasanya dunia ini mulai berhenti berputar.
Dasarku berdesir menyakitkan setiap hulu. Badanku terasa ngilu tepatnya berada
di perasaanku. Tubuhku kaku memutih pucat. Mulutku tercekat. Mataku tajam
dengan pandangan penuh tanya.
Aku
tak tahu mengapa tiba-tiba aku merasakan ini. Rasa sakit yang sangat mendera.
Rasanya ada ratusan pedang yang mulai merobek hatiku perlahan. Suara Doni
memang lembut. Lembut sekali. Namun tidak untuk ucapannya. Terasa ada sesuatu
yang mulai menggumpal dan berseru untuk segera turun di pelupuk mataku. Aku
harus kuat! Aku tak boleh cengeng!
“Oh..
tu..nangan..? se..lamat” jawabku tegar
“Nak”
Tepuk
pria tua itu pelan. Kulihat ia mulai memandangku tajam. Terlihat mata coklatnya
itu mulai beradu dengan alisnya yang mulai memutih. Terasa teduh sekali.
***
“Bu..
i.. bu yang.. te..nang ya.. di.. alam sa..na”
Kuusap
air mataku yang jatuh perlahan menetesi kerudung hitam kusamku. 10 tahun sudah
aku hidup sebatang kara. Setelah 10 tahun ditinggal Ibu, aku tak pantang
menyerah. Meski aku belum pernah mengenal Ibu dan Ayah kandungku, namun aku
masih bersyukur bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu angkatku untuk 10 tahun
lalu. Masih terbayang ketika Ibu bercerita dengan mengusap kepalaku penuh kasih
sayang….
“Roh,
meski kamu bukan anak kandung Ibu, Ibu masih bersyukur bisa memberikan kasih
sayang pada seorang anak. Ibu bersyukur pada Tuhan, mengabulkan doa Ibu bisa
memiliki anak walau umur Ibu sudah tak lama lagi. Kamu harus kuat, Roh. Walau
suatu saat mata Ibu terpejam, berjanjilah pada Ibu kelak kau harus menjadi
perempuan tegar. Tak ada tangis dalam dirimu”
Ibu
menghela nafas sejenak, menyeka air mata yang mulai menetes membasahi pipi
tuanya.
“Ibu
berharap, kau akan bertemu dengan kedua orangtua kandungmu. Kau anak yang
hebat. Mengapa harus dibuang di tempat sampah? Roh, Ibu sayang kamu”
Sekelebatan
putih mulai memudar. Kata-kata Ibu masih kuingat walau termakan 10 tahun sudah.
Orangtua kandung? Apa aku memilikinya? Lalu mengapa aku dibuang? Entahlah,
biarlah waktu yang memutar fakta selama ini..
***
“Roh!”
Kucari
sumber suara yang pernah kukenal. Doni. Mengapa dia di sini?
“A..da
a..pa Don?”
Suaraku
bergetar. Bukan! Bukan karena gugup bertemu pujaan hati, aku gugup karena
hatiku roboh lagi. Ia menemuiku bersama bidadarinya lagi. Berdiri di dekat
wanita ini semakin menunjukkan derajatku dan dia. Ia cantik, sangat cantik.
Beruntung sekali Doni mendapatkan seseorang yang sempurna.
“Kau
mau ikut denganku?”
“Bu..at
apa? Roh.. ti..dak tau” jawabku
“Sudahlah,
ikut saja yuk” tukas Sandra, pacar Doni
Aku
tak bisa menjawab apa-apa. aku ikut begitu saja dengan mereka. Di dalam mobil
tak ada percakapan, hening. Sesekali suara klakson berpacu dengan deru mesin.
Aku tak pernah naik mobil semewah ini, paling mewah hanya naik angkot.
Kuberanikan diriku untuk bertanya lagi.
“Doni..
mau bawa Roh ke.. mana?”
“Sudahlah,
Roh. Sebentar lagi kita sampai kok” jawab Doni pelan.
Aku
tak menanyainya lagi. Aku hanya diam membisu menunggu akan kemana aku saat ini.
Mobil
Doni mulai berhenti di rumah yang besar sekali. Aku tak pernah melihat rumah
seindah ini. Rumah ini seperti istana di kartun-kartun yang sering Roh lihat
mencadi cover di dvd bajakan pinggir jalan.
“Yuk
Roh masuk” kata Doni
“Roh?
Masuk? Kotor.. gi..mana?”
“Tidak,
Roh. Sudahlah masuk. Sudah ditunggu Ayah”
“Ayah?
Ayahnya Do..ni?” jawabku bingung
“Iya,
sudahlah yuk masuk” jawab Sandra yang mulai tak sabar.
Masuk
rumah sebesar ini adalah pengalaman pertama hidupku. Mungkin rumah ini
bertingkat tiga. Tamannya indah sekali, apalagi dalam rumah. Terdapat beberapa
buku di lemari kaca. Ada pula keramik-keramik yang indah berharga jutaan rupiah
seperti yang ku lihat di toko keramik samping pasar.
“Hai,
Roh. Akhirnya kau datang juga”
Lamunanku
buyar. Seseorang paruh baya yang kulihat di rumah sakit kini menyapaku dengan
senyuman hangat seperti yang ia berikan saat menepuk bahuku saat itu.
“Maaf,
A..da a..pa? Roh.. di..ajak Do..ni ke..sini?”
“Maaf,
Roh. Sepanjang hari saya hanya memikirkan kamu. Saya harus berterus terang dan
masuk ke inti masalah mengapa saya menyuruh Doni mengajak kamu ke sini”
Lelaki
paruh baya itu mulai duduk dengan tenang dan menghela nafasnya perlahan. Aku,
Doni, dan Sandra pun duduk berhadapan. Tempat ini nyaman, senyaman pandangan
lelaki itu padaku.
“Kau
memiliki Orangtua?” tanya lelaki itu
“Puu..punya.
ta..pi sudah.. meninggal” jawabku pelan
Ia
menghela nafas panjang. Seperti ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Raut
mukanya berubah. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Ta..pi
itu Ibu angkat.. ia yang.. mene..mukan Roh di.. tempat sampah..” lanjutku
“Oh,
ya? Kamu serius Roh?” sambar Doni
Aku
mengangguk pelan. Raut wajah lelaki itu berbinar. Segera ia beranjak dari sofa
dan mengambil sebuah foto. Ia menunjukkan foto itu. Seorang bayi yang manis dan
memiliki tompel yang sama denganku di paha kananku.
“Apakah..
kamu dibuang di tempat sampah di jalan Madukara? 20 tahun silam? Dan kamu
memiliki tompel di paha kananmu?” sambar lelaki tua itu.
“Iya..”
jawabku bingung.
Lelaki
tua itu langsung memelukku erat. Erat sekali. Suara tangis nya beradu dengan
tangis Doni. Terasa ada getaran saat lelaki ini memelukku. Apa yang sebenarnya
terjadi? Apakah… apakah dia…..
“Rohayati.
Maaf telah meninggalkanku selama 20 tahun ini. Ayah khilaf. Maafkan Ayah,
anakku!” teriak lelaki tua itu
“A..yah?”
bibirku mulai bergetar.
“Iya,
kamu anakku. Maafkan Ayah yang telah berdosa. 20 tahun sudah Ayah mencarimu,
Nak. Maafkan Ayah”
“Me..ngapa..
bi..sa bi..lang Roh anak.. ba..pak?”
“Waktu
dan perasaan yang menjawab, Nak”
Tangis
lelaki itu mulai reda. Ia tersenyum dan mulai duduk kembali. Diambilnya 2 foto
seorang wanita cantik. Mereka sama-sama cantik.
“Ini,
adalah foto ibu kandungmu. Namanya Aminah. Ia cantik sekali. Saat melahirkanmu,
kamu memiliki kelainan di otak. Untuk melahirkanmu harus dioperasi. Dan pilihan
saat itu, hanya ada dua. Yaitu kamu yang hidup atau ibumu yang meninggal”
Aura
kesedihan mulai menyelimuti diriku. Kupandangi wanita ini. Cantik sekali. Ia
memiliki mata yang indah dan teduh. Tiba-tiba dadaku sesak. Butiran air mulai
terjatuh dari mataku membasahi foto itu. Entah mengapa tiba-tiba perasaan ini
mengganjal.
“Dan
ibumu memilihmu untuk hidup. Ia merelakan nyawanya untuk dirimu, Roh. Ia
meninggal setelah 3 jam kau lahir di dunia. Ayah tak bisa merelakan ibumu saat
itu. Ayah begitu mencintainya. Namun Ayah masih memilikimu. Ayah masih bertahan
karenamu walau Ayah tahu, kau memiliki kelainan atau orang bilang idiot”
Ayah
menyeka air matanya. Kulihat Doni dan Sandra mulai meneteskan air matanya. Aku
betul-betul tak paham mengapa kejadian ini terkuak begitu cepat?
“Setelah
tiga bulan kepergian Ibumu, adik ibumu mulai datang di kehidupan Ayah. Sebelum
ia menghancurkan hidupmu”
Ayah
menyerahkan sebuah foto wanita lain. Ia juga cantik, matanya mirip sekali
dengan Ibuku.
“Namanya
Aisyah. Ia begitu menyayangimu. Ia juga yang merawatmu. Saat itu Ayah befikir,
bahwa kau juga harus mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu. Dan Ayah
berfikir, saat itu hanya Aisyah lah yang bisa menggantikan Ibumu karena ia adik
Ibumu. Maka Ayah menikah dengannya karena demi kamu, Nak”
“Tapi
semua itu tak berlangsung lama karena setelah sebulan Ayah menikah dengannya,
ia mengandung seorang anak yaitu Doni. Sifatnya pun mulai terlihat. Ia sering
marah, memakimu, dan bersikap kasar padamu. Tepat saat kamu berumur 5 bulan,
dan Ayah pulang bekerja, Ayah tak menemukanmu. Kamu hilang dan Ayah berteriak
histeris kehilangan dirimu. Dan ternyata dialah yang membuangmu. Ia mengaku
malu memiliki anak tiri cacat dan idiot. Dan dia ingin hanya Doni yang
kusayang” lanjut Ayah
Angin
mulai berdesir perlahan, paparan Ayah ini membuatku sedikit pusing.
“Ayah
mencarimu kemana-mana. Namun nihil. Ayah berusaha bertahan dengan sifat Aisyah
yang semakin bringas. Setelah ia melahirkan Doni, Ayah sudah tak kuat. Ayah menceraikannya
dan mengambil hak asuh Doni. Ayah yang selama ini merawat Doni. Sejak saat itu,
Ayah tak tahu di mana keberadaan Aisyah” kata Ayah panjang lebar
“Lalu..
kenapa Ayah tahu.. kalau Roh.. a..nak Ayah?” tanya pelan
“Doni
yang cerita tentang kamu. Selama ini pula Doni ikut mencarimu. Setelah ia
bertemu denganmu, ia yakin bahwa kau kakaknya. Maka saat itu ia mulai
melindungimu. Ayah harus mencari informasi baru akhir-akhir ini Ayah yakin
bahwa kau memang anak Ayah”
Kuberanikan
diri memeluk Ayah. Doni tersenyum puas melihatku dan Ayah berpelukan. Kini aku
sadar, bahwa dunia ini adil. Aku memiliki orangtua yang sempurna. Dan lebih
tepatnya bukan mereka yang membuangku.
“Bu,
kini aku menemukan orangtua kandungku. Terimakasih, Bu sudah merawatku selama
ini. Aku sayang ibu. Dan untuk Mamaku, walau aku tak pernah melihat Mama secara
langsung, namun aku begitu mencintai Mama. Terimakasih, Ma sudah membiarkan Roh
hidup di dunia ini. Aku cinta Ibu dan Mama” bisikku dalam hati
***
Kini
aku hidup bahagia. Hidup di lingkungan yang begitu kucintai. Aku beruntung
memiliki Ayah yang hebat, serta adik yang hebat pula. Ehm, adik? Sesungguhnya
aku masih belum bisa menghapus rasaku pada Doni, adikku sendiri. Kadang aku
harus miris melihatnya kala ia berdua dengan Sandra.
“Do..ni,
ko..pi mau?” tanyaku
“Boleh,
kak. Terimakasih ya”
Doni
tersenyum simpul. Matanya indah seindah senyumannya. Biarkanlah waktu yang
menghapus rasaku padanya. Biarkanlah cinta seorang kakak ke adik yang menghapus
rasa cinta ini. Aku tahu aku salah, namun Tuhan. Biarkanlah aku yang
merahasiannya. Cukup Tuhan dan aku yang tahu.
TAMAT
