Rabu, 06 Februari 2013

Titian Angsa

Diposting oleh Unknown di 01.38 0 komentar

Kkkrrrriiinnnggg, kkkrrrrriinngg, kkkrrriinnngg.
Jam weker unguku berdering. Membangunkanku dari tidur semalam. Dari mimpi buruk yang mengawali gerimis pagi ini. Aku menyeruak dibalik selimut unguku, dingin masih merayap di badan. Teringat jelas semua ini. Ah, tidak perlu kumembayangkannya lagi.
           “Bi, Ayah dan Bunda di mana?”
 Mataku masih sembab akibat menangis semalam. Masih merah dan membengkak. Kurasa Bibipun mengetahui hal tersebut.
“Oh, kalau Nyonya baru sarapan di bawah neng. Kalau Tuan, sepertinya sudah bekerja. Mungkin karena tergesa-gesa, jadi tidak sempat sarapan bersama neng Asha.  Pagi ini tuan akan ke Singapura, katanya ada meeting mendadak”
Ah, bosan! Mengapa aku jarang bertemu Ayah? Aku kangen Ayah, tapi Ayah selalu tidak di rumah. Memang, rumahku cukup besar dan aku memiliki banyak fasilitas di sini. Bahkan kelak ini akan menjadi rumahku. Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur bank internasional, Bundaku pemilik perusahaan asing, dan Kak Morgan kakakku adalah seorang yang cukup pintar di sekolahnya. Saat beranjak dewasa, aku merasa tidak ada yang menanggapku lagi. Semua orang sibuk. Sejak kepergian Kak Morgan untuk bersekolah di Amerika, aku merasa sendiri.
“Hai Bunda”
“Hai sayang! Sudah bangun ya, ayo sarapan dengan Bunda”
Senyumannya mengawali hari burukku. Senyuman yang kunanti-nanti dari dulu, akhirnya datang menyambutku.
“Tumben,  Bunda di rumah. Biasanya kalau Asha dari bangun sampai tidur tidak pernah bertemu. Bunda kan sibuk dengan pekerjaan Bunda,  sampai-sampai lupa dengan anaknya”
 Bunda menatap ku dalam, namun aku tidak berani untuk menatap bola matanya. Apakah dia marah? Atau …..
“Sayang, Bunda tahu kamu kesepian. Maafkan Bunda ya, Bunda janji minggu depan Ayah, Bunda dengan Kak Morgan akan di rumah. Kita akan berkumpul bersama”
“Benar Bunda? Bunda serius?”
 “Serius sayang”
Tidak kurasa, kata-kata itu muncul dari bibir Bunda. Kupeluk Bunda dan kuucapkan terimakasih.  Sejenak, pandangan kosong pun berubah menjadi harapan yang akan datang.

                   ******

                   Ini pertama kalinya aku berada di SMA Xuneius, Bandung. Sebenarnya, berat harus meninggalkan sahabat-sahabatku di Jakarta. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di Jakarta. Ayah harus tinggal di Bandung. Terpaksa  kami sekeluarga harus ikut di Bandung. Toh, di Bandung pun aku tidak rugi aku tetap bebas. Aku tetap bisa jalan-jalan dengan mobil ungu kesayangannku. Aku tetap bisa pergi dengan temanku. Tidak ada yang mengekangku, semua terserah apa mauku.  
Mobilku terhenti di Gerbang SMA Xuneius. Terpampang jelas gerbang berwarna emas itu dan waw ! SMA ini lumayan besar. Dengan arsitektur modern bertingkat 4. Halamannya lumayan bersih dan luas. Rumput-rumput itu terpotong rapi berjajar.  Ada juga semacam bonsai yang dibentuk indah serta dipotong membentuk tulisan SMA Xuneius. Mungkin aku akan betah di sini. Entahlah, semua tergantung keinginanku. Ada juga pahatan-pahatan bentuk arsitektur SMA Xuneius.  Menarik, lantai mushollanya juga bersih sekali, sejuk.
Kualihkan pandanganku sejenak dan kuparkirkan mobilku di parkiran samping lapangan basket. Rata-rata di sini anak orang kaya. Aku bisa berfikiran begitu karena mereka sebagian besar naik mobil atau motor keren dan sebangsanya. Entahlah tidak terlalu penting bagiku. Hari ini, akanku mulai hariku beranjak di SMA, di kota lain. Di sini aku harus merubah sifat burukku. Aku selalu iri jika seseorang bisa menyaingiku. Aku tidak suka itu. Maka di sinilah, aku harus merubah image burukku. Fantastic!
                   Kutelusuri lorong SMA ini, cantik. Aku berhenti di kelas X A dan ternyata pelajaran hampir dimulai. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka merasa ada yang asing, karena mereka baru melihatku. Aku segera duduk di bangku kosong di samping perempuan yang berparas cantik, putih, tinggi, dan lucu. Dia tersenyum, dan aku  membalasnya.  
“Pagi anak-anak” 
“Pagi Bu”
Kulepaskan pandanganku ke guru itu, mungkin umurnya masih sekitar 30-an, dengan style yang lumayan cantik, berbalut rok ungu dan jas ungu yang berpadu padan menarik.
“Nama saya Nurinta, saya mengajar bahasa Jepang di sini. Ada sebagian murid yang sudah kenal saya kan ? Tetapi ada murid baru pindahan di sini. Silahkan Asha, bisa berdiri di depan, dan perkenalkan dirimu”
Dengan malu-malu, akupun menlangkah ke depan kelas dan memandang satu persatu wajah teman-teman baruku. Kebetulan aku memang cukup pandai dalam Bahasa Jepang dan kuperkenalkan diriku dengan Bahasa Jepang.
“Konichiwa yujin”  ( Hai teman-teman )
“Konichiwa yuko o” ( Hai juga )
Jawab mereka serempak.
“Watashi no namae wa Pasha Anndyta Jihan. Anata wa watashi Asha. Yobidasu koto ga dekimasu. Watashi wa shuto Tunas Harapan 1 Jakarta. No izure ka o negatte imasu. Watashi wa, jutako no burokku bango Andryta 14 ni sunde iru. Watashi no chici wa, bandon ni aru jobu o henko shitanode, watashi wa koko ni ido. Watashi no sumi wa suiei to katsudo shite iru. Watashi no shokai no yo ni oku no. Dare mo watashi nitsuite no shosai o shitsumon shiyou to suru baai, Watashi to issho ni jibun, jishin ni toute kudasai. Watashi wa anata-tachi kara no shitsumon ni kotaeru jinbi ga dekite imasu. Kansha”
 ( Nama saya Pasha Anndyta Jihan, kalian bisa panggil saya Asha. Saya dari SMP Tunas Harapan 1 Jakarta. Saya tinggal di Perumahan Andryta blok A no 14. Saya pindah ke sini karena Ayah saya pindah kerja di Bandung. Hobby saya renang dan main acting. Sekian perkenalan dari saya, jika ada yang mau bertanya lebih jauh tentang saya, silahkan bertanya pada jam istirahat. Saya siap menjawab pertanyaan dari kalian. Terimakasih )  
Kupandangi satu persatu wajah teman baruku. Sebagian dari mereka mungkin hanya mengandalkan style, atau hanya dianggap ajang kecantikan. Menurutku, aku turut memperhatikan style, tetapi sekolah bukanlah ajang untuk bergaya. Seperti di Singapura, di sebuah tempat untuk menuntut ilmu mereka tak pandang bulu. Ada yang memakai celana rumah, kaos, dan hot plant. Bahkan, untuk mengerjakan tugas bersama walaupun berlawan jenis, mereka di sana biasa saja di anggap teman, bukan seperti disini, ngobrol atau berjalan bareng saja dianggap ada hubungan  yang spesial. Aku tak mengerti jalan pikiran anak di sini. Bu Nurinta pun membuyarkan lamunanku, beliau menyuruhku untuk kembali ke tempat. Aku kembali ke bangkuku. Pelajaran pertama di Bandung, resmi kumulai .........

                   ******

                   Ternyata , temanku yang satu bangku denganku bernama Lyli. Dia tinggi, cantik, putih, humoris, dan terutama baik hati. Baru kenal 20 menit yang lalu saja  aku selalu terpingkal-pingkal jika ngobrol dengan dia, semoga saja dia bisa menjadi sahabatku di Bandung ini. Saatnya istirahat, aku dan Lyli menuju kantin sekolah. Aku juga diajak Lyli berkeliling SMA ini dan sudah kuduga, sekolah ini memang indah. Dibagian belakang ada taman yang menyerupai green house. Ada bangku panjang yang di letakkan di bawah naungan pohon akasia, teduh sekali. Banyak warna-warni bunga yang berwarna ungu disana. Apakah bangunan ini habis direnovasi, catnya terlihat masih baru. Bangunannya juga bagus. Aku akan nyaman disini. Seluruh ruangan bahkan di toiletnya pun bersih. Tak sia-sia aku pindah ke Paris Van Java ini. Udara disini juga cukup segar. Tidak seperti di Jakarta, penuh polusi. Di Bandung juga sering melakukan penanaman pohon . Dan itu sangat tepat untuk mengurangi global warming. pengetahuanku cukup luas tentang Bandung dalam 5 hari ini.
“Yuk, duduk di bawah pohon itu saja, pesan makanan”
 Ajak Lyli sambil menarik tanganku.
 “Iya Lyli , sabar dong”
 “Bu Kantin !”
Teriak Lyli memanggil Ibu yang menjaga Kantin SMA Xuneius.
 “Iya neng , mau pesen apa ?”
 “Oh , kalau aku mau pesen bakso aja, minumnya juice alpukat. Kalau kamu apa Sha ?”

..........................( hening )..................................
“Hello ? Sha ?” Lyli membuyarkan lamunanku.
 “Oh ya Ly, ada apa ?” 
“Ngelamunnin apa sih ? mau pesen apa ?”
 Lyli sepertinya heran, aku seperti tidak conect waktu itu.
“Emm, aku pesan kentang goreng dan minumnya juice melon saja deh” Kataku dengan meyakinkan Lyli tidak terjadi apa-apa.
 “Sha, ada apa sih ? cerita dong sama aku”
Mata Lyli menatapku dalam. Ada rasa keingintahuan tentang aku.
“Lyli, aku tidak ngalamunin apa-apa kok”
 “Sha, please”
Aku tak bisa mengelak. Dia menyuruhku untuk bercerita. Dengan terpaksa aku akan bercerita. Jujur, aku tak ingin menceritakan masalahku ini ke orang yang baru saja ku kenal. Tapi, bagaimana lagi dialah satu-satunya teman yang dekat dengan ku di Bandung ini. Matanya memancar menatapku tajam. Sepertinya dia siap untuk mendengarkan ceritaku. Aku tak tega membuat dia menunggu lama. Aku diam sejenak untuk mengatur nafas, dialah satu-satunya orang yang tau masalahku di Bandung ini.
“Jadi begini Ly, aku memiliki masalah yang berat. Amat sangat berat. Sampai 2 minggu ini, aku susah tidur karena memikirkan masalah ini. Ada yang mengganjal dihatiku”
Aku hela nafas ku sekali lagi dan dia masih setia mendengarkan curhatku.
“Aku memiliki beberapa masalah yang tidak bisa ku atasi”
Pembicaraanku terhenti karena hidangan kami telah datang. Kutatap matanya, dia tak menyentuh makanannya sedikitpun. Dia masih seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun. Dia antusias mendengarkan cerita ku, dan ku lanjutkan ceritaku karena mungkin dia ingin mengenal aku lebih dalam.
“Masalahku yang pertama, Aku kehilangan seorang kekasih bernama Aryo, dia selingkuh dengan sahabatku, Lyani. Sampai saat ini aku masih encintainya, namun harus ku pendam dalam hati. Padahal aku sangat mencintainya. Masalahku yang ke 2, adalah kejujuran. Aku .... Aku pernah mencuri kunci laci meja Kepsek, agar Kepsek tidak bisa membuka laci mejanya. Aku mempunyai masalah waktu SMP, sewaktu itu aku pernah ketahuan merokok. Tapi sumpah pertama kali coba, aku tak mengetahui apa itu. Aku hanya diajak temanku untuk mencobanya, aku bebas dirumah. Tidak ada yang mengekangku. Dari sanalah aku mencoba-coba, Kepsek tau dari temanku. Beliau menggeledah tasku dan menemukan 2 batang rokok. Beliau menyita rokok itu sebagai bukti tuk diserahkan kepada orang tuaku. Aku tidak ingin mereka tau, aku malu. Aku juga tidak mau membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku mencuri kunci laci beliau agar tak bisa membuktikan. Dan, aku masih merasa bersalah hingga hari ini. Kamu tau kan, bagaimana perasaanku ? Aku tak kuat lagi. Apa yang ku lakukan semua tak berguna”
 Mulut Lyli bergerak perlahan  seperti akan mengatakan sesuatu. Panas juga pantatku duduk serius dari tadi. Dan mungkin makananku telah dingin. Aku tidak menghiraukan itu.
“Asha, aku tau bagaimana perasaanmu. Walaupun baru 4 jam aku mengenal mu, tapi aku tau kamu itu perempuan tegar. Menurutku cukup banyak dan cukup berat masalahmu tadi untuk anak SMA. Kau hanya di beri Tuhan cobaan. Kau tau sobat, Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya yang melebihi batas kemampuannya. Kau hanya berada di kebingungan sementara. Sekarang kau tidak lagi di SMP Asha, kamu sudah SMA. Lupakan itu semua. Menurutku masalahmu tadi banyak jalan keluarnya. Yang pertama, soal kekasihmu. Ayo Sha, dia kamu itu cantik, baik, pintar, banyak yang suka denganmu. Kamu pasti dapat menemukan yang lebih baik dari Aryo. Itu membuktikan bahwa dia bukan laki-laki yang setia.tidak usah perdulikan dia. Suatu hari nanti, dia pasti  sadar apa yang dia perbuat. Yang ke 2, lebih baik kamu mengaku saja. Minta maaf lah dengan Kepsek SMP mu. Lakukan yang ingin kamu lakukan selagi itu positif . Banyak hal yang bisa kamu lakukan disini. Aku akan membantumu selagi aku mampu. Aku selalu disisimu. Bagaimana cantik ? setuju ?”
Di ulurkannya kelingking manisnya di hadapanku , dan ku gapai kelingking itu
“Setuju Lyli, makasih ya, eh ayo dong dimakan. Keburu dingin. Kalau Aku lapar nanti aku kering kerontang bertandus lagi ”
 Ku cairkan suasana tadi dengan gurau, semoga yang dikatakan Lyli akan menjadi motivasiku d sini.

          ******

  Hallo Para Siswa !! Ada Drama Musical Putra Putri Xuneius lho ! Untuk Ajang Pementasan Pensi . Ayo Daftarkan Dirimu Di Sekretaris Osis Paling Lambat tanggal 5 Agustus !! Tunjukan Aksimu Lewat Gayamu

                                    Panitia
           
                                 Ketua Osis

                        “Lyli !”
Dia menoleh kepadaku. Dia menghampiriku dengan 2 pita di rambutnya. Lucu juga menurutku.
“Kamu liat tidak ? pengumuman ini ?”
Aku menunjuk pengumuman itu. Dia menyeruak tanganku dan terdiam membacanya.
“Wah, kamu kan hobi banget maen akting, ikutan sana ! siapa tau bisa masuk”
 “Aku ikut kalau kamu ikut”
Aku berjalan menyusuri lorong kelas ku.  Teman-teman sudah menyapaku. Aku duduk di bangku samping Lyli.
“Wah, aku tidak bisa main akting ! percuma aku ikut. Pasti kalah”
 “Lyli, jangan pesimis dulu. Pokoknya kamu harus ikut ! aku daftarkan kamu di Sekretaris OSIS”
Dengan sedikit paksaan akhirnya Lyli mau juga. Aku tak perlu kesepian saat audisi itu. Ada Lyli sahabatku.

                   ******

                   Audisi hampir dimulai. Aku melihat kurang lebih 88 siswa yang berminat mengikuti audisi ini. Aku semakin antusias. Aku mendapat nomor dada 3 dan Lyli 4. Dengan berbekal pengalaman akting ku yang dulu, aku siap mengikutinya dan semoga saja aku dapat masuk untuk mengisi pensi. Aku melihat mimik muka para peserta yang lain. Sebagian dari mereka pucat.  Mungkin demam panggung. Peserta ke 2 telah selesai. Saatnya aku memberikan yang terbaik. Aku mulai gugup. Tanganku sudah dingin.
“Semangat Asha ! tunjukkan kamu yang terbaik !”
Kata-kata itu menjadi motivasi ku. Ya , aku yang terbaik. Aku mulai di atas panggung dan memberikan hormat kepada dewan juri. Aku meragakan sebagai Cinderella. Tepuk gemuruh bergetar di ruangan itu setelah aku selesai. Aku tersenyum dan aku yakin . Hanya aku yang masuk jadi pemain utama !
“Nomor dada 4 .. Lyliani Sarah Cardyna”
 Dewan juri sudah memanggil nama Lyli. Mukanya juga merah. Selama aku melihat akting nya, aku rasa lebih bagus aktingku. Tepuk tangan pun tak ada hingga dia selesai. Aku semakin yakin aku adalah pemeran terbaik. Tak ada yang pantas. Hanya aku.

                   ******
          Setelah menunggu selama 2 hari, pengumuman yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sangat siap mendengarnya, kalian tau kenapa ? aku tau, aku yang berhasil.
 “Ly, aku gugup”
 “Tidak perlu gugup Asha, kamu pasti terpilih, percayalah”
 “Semoga kau benar Ly”
Aku semakin erat menggenggam tangannya . Padahal waktu itu ruangan tak ber-AC. Kulihat pengumuman itu. Ku cari namaku dan .... Astaga ! aku tak terpilih sama sekali ! dan yang lebih membuatku shock, Lyli. Lyli sahabatku menjadi pemeran utama ! aku berlari meninggalkan Lyli yang saat itu juga tertegun mengapa dia bisa menjadi pemeran utama. Padahal dia tak bisa akting sama sekali. Aku yang mengajarkannya. Mengapa aku kalah dengannya ? aku tak habis pikir dengan dewan juri ! tak adil ! aku yang berhak ! bukan Lyli ! aku benci !

                   ******

Tok tok ,, tok tok ,,
 “Masuk, tidak di kunci”
 Kata ku di balik pintu kamarku. Aku masih sedih dengan kejadian tadi siang.
 “Neng, ada temannya eneng di luar”
Bibi masuk perlahan ke kamarku. Temanku ? siapa ? apa temanku dari jakarta ?
 “Eemmpp Bi, teman ku siapa ?”
Tanya ku keheranan. Maklum, sejak pindah kesini tak ada temanku yang berkunjung kerumahku.
“Anak nya tinggi, putih, cantik non. Namanya siapa ya .. eemmpp .. li li, siapa ya non”  
“Lyli ?!”
Aku tersentak. Apa mungkin Lyli ? lalu apa tujuan dia kerumahku ?
“Iya non ! namanya Lyli”
Jawab bibi setelah ingat nama Lyli.
“Tanya, untuk apa dia kesini. Untuk mencemooh aku karena aku tak lolos audisi. Atau hanya ingin pamer”
Aku kembali memainkan i-phone ku. Peduli banget sama Lyli. Dia udah hancurin harapanku.
 “Sha, ini aku Lyli. Aku mau ngomong”
 Terdengar suara di balik pintu kamarku. Suara itu tak asing. Lyli. Aku baru sadar kalau aku pernah memberinya alamat rumahku. Tak heran dia mengetahui rumahku.
 “Buat apa kamu kesini?!”
 “Sha, please aku mau ngomong”
 Aku mulai membukakan pintu kamarku dan menyuruhnya masuk.
 “Ada apa?”
Sebenarnya canggung berbicara ketus seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri. Tapi aku terlampau kesal.
“Aku tau, kamu kecewa tidak jadi pemeran disitu. Dan aku tau kamu pasti sangat terpukul mengetahui aku terpilih. Ini juga diluar dugaanku Sha. Aku sengaja mengundurkan diri. Aku tak mau menyakiti mu”
Kata-kata itu terlontar dari bibir Lyli.
 “Sungguh ?”
  “Iya sha”
 Aku memeluknya erat. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia.
 “Tapi Ly, aku masih benci aku tak terpilih. Aku akan membatalkan acara itu. Aku tak suka kalau itu bukan aku yang memerankan !”
 “Sha, itu tidak baik !”
 Lyli terkejut dengan ucapanku. Ya memang, aku benci pensi itu. Aku yang akan menghancurkan. Sekali aku benci, tetap benci.

                   ******

                   ‘Hhmmpp, aku harus mulai menjalankan misi ini. Aku akan hancurkan semua’
aku bergumam dalam hati. Acara telah dimulai. Semua penonton memenuhi tempat duduk.
‘Yeah, aku berhasil menyusup di dalam ruang kostum. Dengan api ini, aku bisa aja menghanguskan semuanya. Sebenarnya aku tak ingin membuat keributan. Tapi sayang, bukan aku yang dipilih untuk memeriahkan pensi ini, jadi sebentar lagi akan hancur. Ups, api nya jatuh. Selamat bersenang-senang’
Aku beranjak dari tempat itu dan menyusup keluar. Api berkobar dan dalam sekejap telah musnah. Aku tertawa kecil melihatnya.

                   ******

                   “Sha, yang menyebabkan  kebakaran kamu kan ?”
 Lyli bertanya padaku. Dengan enteng pula aku menjawab ya.
“Gila kamu itu. Kalau kepsek tau bagaimana ?! hancur hidupmu !”
“Sha ! kamu di panggil kepsek !”
 teriak Marsha di belakang pintu BP. Aku gugup. Apakah aku ketahuan ? tapi tak ada orang di ruang make up dan tempat kostum itu selain aku. Dengan tenang aku menemui kepala sekolah itu.
“Selamat siang pak, bapak memanggil saya?”
 Aku memasuki ruangan kepsek. Ngeri juga waktu inget kejadian waktu SMP.
 “Ya, saya memanggil kamu. Saya tau, kamu yang menyebabkan ruang pensi kebakaran kan !”
Apa ? kepsek tau ? mati deh riwayatku. Dari mana dia tau ?
 “Maaf pak sebelumnya, dari mana bapak bisa memvonis saya seperti itu ? apa bapak punya bukti ?”
 Ku beranikan aku mengelak dan bersikap tak ada kesalahan.
“Ini”
Astaga ! ternyata di ruangan itu ada CCTV ! dan tak terbakar ! aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Banyak saksi disitu.
“Maaf pak, saya jujur  memang saya. Saya iri pak melihat saya tidak terpilih dalam audisi tersebut. Maafkan saya pak”
“Ini kesalahan fatal Asha. Pihak sekolah rugi besar. Saya tetap memberimu hukuman”
“Maafkan saya pak, saya khilaf”
Ku titik kan air mata disitu. Aku tak habis pikir akan terjadi seperti ini.
“Saya hanya ada 2 pilihan Asha. Kamu boleh memilihnya”
“Apa itu pak ?”
“Keluar dari sekolah ini atau setiap hari membersihkan ruangan pensi sampai kamu lulus !!
TAMAT

Langkah Tertahan

Diposting oleh Unknown di 01.37 0 komentar

“Cheecy, ayo sayang, nanti kamu di tunggu Fiolind Dance lho”
“Iya-iya, tunggu  sebentar Darrell sayang, aku mau ambil tas dulu. Nanti aku pulangnya bareng kamu atau aku naik mobil sendiri ? kalau aku bareng kamu, nanti aku nelfon Mang Ujang  suruh ambil mobilku”
“Kasihan Mang Ujang sayang, harus bolak-balik. Ya sudah gini saja, kamu aku anter di Aula Dance, tapi kamu pulangnya sendiri tidak apa-apa kan ? bukannya Darrell tidak mau mengantar kamu, tapi kasihan sama Mang Ujang. Besok saja ya, kita pulang bareng sekalian ke Mall”
Ku anggukkan kepala ku ringan dan aku pun melenggang pergi meninggalkan Darrell, kekasihku sesampainya aku di Aula Dance.
Aku menyusuri lorong ruangan dance itu. Kepala ku pening. Entah kenapa. Mungkin karena pelajaran Matematika, Pak Dandy tadi atau karena aku..... Ah, tidak ku hiraukan, yang penting, aku sudah siap untuk berlatih dance hari ini dan semoga saja itu tidak akan kembali didiriku.
“Lama banget sih Cy”
Aku tersenyum melihat wajah Sari yang cemberut itu. Ku letakkan tas pinggangku dan menyapa yang lain. Ya, kami terdiri dari 5 anggota Fiolind Dance. Dance terpopuler dan sampai di tingkat nasional. Kalian tau apa yang membuat ku sangat bangga ? memang, Ketua Dance ini adalah aku. Aku cukup bertanggung jawab dan populer di SMA ini.
“Maaf ya. Tadi di kelasku ada les tambahan oleh Pak Dandy. Kalian sudah menunggu lama ya ? sekali lagi maaf ya”
Aku duduk di kursi dance samping tipe. Ku dekati Sari yang sering cemberut tidak  jelas. Namun, jika aku jadi Sari pun aku pasti bosan. Karena hampir 2 jam menunggu.
“Ya sudah deh, tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau telat kan kamu bisa sms aku”
“Lho, bukankah peraturan di SMA ini tidak boleh membawa handphone ? aku tak mau melanggar peraturan itu.”
“Oh iya ya, aku baru inget. Cheecy kok di ajak melanggar peraturan, ya pasti tidak mau lah. Kalau ada lomba tidak pernah disiplin, aku pasti menang, sedangkan kau, sudah tereliminasi saat mendaftar”
Gelak tawa menggelegar. Memang, Sari, sahabat ku satu ini sifatnya kadang menyebalkan, kadang juga lucu. Ah, dasar Sari. Sebenarnya dia bisa di bilang yatim piatu. Cerita eyangnya, dia itu dari lahir sudah ditinggal ayahnya menikah lagi di luar negeri. Dan saat ibunya melahirkan Sari, ibunya meninggal. Itu yang membuat kami simpatik dengan dia, walaupun kadang rasa sebal dengannya melanda kami. Namun, dia anak yang baik. Aku suka kepribadiaanya. Lucu, menyebalkan, baik hati, pintar, supel, suka menolong. Beda denganku. Aku lebih cenderung mengurung diri di kamar untuk  menciptakan gerakan-gerakan baru, mencari lagu dance, membuat komik, novel, main game, twitter, atau yang berhubungan dengan hobbyku. Aku tak bisa seperti Verend yang atlit renang, seperti Sandra yang jago bersepeda dan mendapat juara nasional, ataupun Sari yang sering membantu eyangnya bekerja di restaurant. Yaah, inilah hidupku. Penuh membosankan. Mungkin jika aku tidak memohon pada Papi untuk mengikuti Dance di sekolah, aku hanya jadi pemurung. Semua aktivitasku tergantung ini semua. Andai aku dapat memohon kepada Tuhan, aku ingin semua ini di ambil saja. Aku bangga dengan semua prestasi ku, aku bangga memiliki orang tua yang penyayang, dan pengertian, aku senang dengan semua sahabat ku dan guru yang selalu di sampingku, aku bersyukur memiliki kekasih yang mencintai dan melindungiku, aku selalu bersyukur dengan semua yang kumiliki. Namun tidak untuk satu hal ini, aku selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa harus Cheecy yang merasakan. Cheecy memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Cheecy tidak ingin semua nya hancur lenyap akibat ini. Dan aku mohon, ini akan selalu baik denganku.
“Yuk, latihan”
Aku mengambil handuk ungu dan ku sampirkan di leherku. Aku berada di posisi paling depan, kedua Sari, ketiga Angel, keempat Vita, dan kelima Ajeng. Ya, mereka sahabatku sekaligus patnerku.
“Tunggu Cy !  kamu mimisan !!”
Angel berteriak memberitahuku. Semua memandangku dengan menyeritkan alis. Ku usap hidungku dengan handuk tadi, benar darah mengalir di rongga hidungku. Angel dan Sari segera membantuku berjalan menuju ruang UKS. Sedangkan Ajeng dan Vita beranjak ke ruang guru untuk memberitahuku kalau penyakitku kumat. Aku telah sampai di UKS di temani kedua sahabatku. Aku pun merebahkan diri di kasur itu. Kepalaku terasa pening, pandanganku buram dan hitam. Aku tak merasakan apa-apa, terasa ringan.

******             

“Alhamdulillah, sudah siuman. Kamu tidak apa-apa kan sayang ?”
Ku buka mataku perlahan. Disini aku melihat alat untuk bernafas, detak jantung, pengukur suhu, selang, infus, dan alat-alat dokter yang tidak ku ketahui namanya. Yeah, aku kenal tempat ini. Jika aku mimisan dan pinsan, tempat ini lah yang ku lihat pertama kali. Rumah Sakit Karfa, ya aku bosan disini.
“Cheecy tidak kenapa-kenapa kok Pi”
Aku tersenyum meyakinkan Papi dan Mami ku kalau aku baik-baik saja. Mereka selalu cemas denganku. Mereka sering meninggalkan pekerjaan yang lumayan untuk keperluan hidup sehari-hari demi menemaniku di rumah sakit membosankan ini. Aku sangat sedih jika mengetahui Papi di telfon dan di marahi oleh client nya dengan alasan sering menunda meeting, ataupun karena atasannya. Atau Mami, yang selalu sedih jika Bakerry Brownis nya sering tutup karena beliau sering menemaniku disini. Mami memiliki pegawai yang tidak dapat di andalkan.
“Kalau kamu sering sakit begini, Papi tidak mau mengambil resiko sayang. Kamu harus merelakan Dance mu.”
“Iya Cheecy, Mami tidak mau. Semenjak 8 bulan terakhir ini, kamu sering sekali keluar masuk rumah sakit. Kata Dokter, Leukimia mu nanti bertambah parah kalau kamu sering kecapean.”
Aku menghela nafas sejenak. Ku pandangi bola mata berair Mami. Aku tidak mungkin harus meninggalkan Dance. Dance adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ku lakukan selain harus berdiam diri di kamar. Namun, aku juga tidak dapat memaksakan ego ku. Aku harus tetap sehat dan membahagiakan Mami dan Papi. Aku anak semata wayang mereka, jika suatu hari kelak aku meninggalkan mereka lebih awal, mereka sangat terpukul, tapi........
“Tapi Mi, maaf. Cheecy tidak dapat meninggalkan ini semua. Cheecy juga memiliki aktivitas selama Cheecy masih hidup. Tidak harus berdiam diri di kamar. Cheecy tau, Papi dan Mami pasti sangat terpukul. Maafkan Cheecy Mi, Pi”
“Tapi Cheecy, kamu kan memiliki.....”
“Iya Pi, Cheecy tau. Semua fasilitas Cheecy terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Cheecy bisa di kamar bermain i-Phone, membaca novel, membuat cerpen, memasak, dan lain-lain. Bahkan, Papi membolehkan Cheecy memiliki pacar untuk menemani Cheecy. Tapi Pi, Cheecy  ingin sekali meneruskan ekstra Dance itu. Papi dan Mami tau kan, berapa kejuaraan yang di dapat Fiolind Dance ? Cheecy mohon Pi, Mi”
Ku teteskan air mata perlahan. Penyakit ini, menyita waktuku untuk kegiatan seperti anak yang lain, yang bisa berenang, volly, basket, climbing, ataupun badmintont. Itu akan menguras penuh sisa-sisa hidupku. Aku ingin hidup wajar seperti mereka. Aku pernah, sekali berenang di belakang rumah tanpa diketahui siapapun. Dan baru 20 menit, aku sudah pinsan. Entah, apa gunanya dirumah ada kolam renang besar jika aku tidak dapat memakainya ? aku ingin itu.
“Saaayyyaaannngg”
Mataku tertuju di pintu ruangan ku. Seseorang memakai jaket putih dengan T-Shirt putih dan jeans. Darrell Putra ! yeah, dia kekasihku. Dia sangat perhatian denganku. Dia tidak pernah mengeluh soal penyakitku ini. Aku beruntung memilikinya, dialah separuh nafasku. Dia selalu menemaniku, membimbingku, menasehatiku, menjagaku, mengajariku, dan mencintaiku dengan cara yang sempurna.
“Kamu tidak apa-apa kan ?”
Raut wajah kekhawatirannya memusatkan perhatianku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Aku menggelengkan kepala.
“Oh, syukurlah. Tadi aku di beritahu Angel, kalau kamu dirumah sakit. Aku cemas dengan keadaanmu.”
“Iya, makasih ya. Lho, bukannya kamu ada jadwal latihan basket ?”
“Iya, tapi aku izin sama Pak Oscar, untuk menemani kamu disini”
Aku tersenyum. Begitu besar rasa sayang semua orang yang berada di dekat ku. Pintu Ruangan ku terbuka, ternyata guru dan sahabat-sahabat ku yang terdiri dari Fiolind Dance. Mereka menjengukku. Aku merasa semua sayang padaku.
“Hai Cy, bagaimana kabar mu”
“Seperti yang kamu lihat Ri, lemas dan pucat. Tapi aku tetap semangat untuk berlatih Dance kembali”
Bu Nadin tersenyum dan memberiku parsel buah, dia menatapku dalam lalu menatap teman-temanku. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Dia menanggukkan kepalanya kepada Sari dan teman-temanku. Teman-temanku hanya menunduk tidak berani merespon. Suasana hening entah beberapa menit. Aku tidak mengerti, apa yang mereka maksud.
“Maaf sebelumnya, apakah saya dapat meminta waktu Papinya Cheecy sebentar ?”
Papi menanggukkan kepala dan pergi disudut ruangan bersama Bu Nadin. Raut wajah mereka serius sekali. Aku tidak mendengar apa yang di bicarakan. Namun pada akhir nya, sepertinya Papi mengucapkan
“Baiklah Bu, akan saya usahakan, semoga dia mau mendengarkan kita”
“Ada apa Pi ?”
Papi diam seribu bahasa. Ada apa ini ? semua beranjak minggir dari ranjangku. Hanya Darrell yang tidak beranjak dan tetap di samping ku memegang tanganku.
“Maaf Cy, sebelumnya. Maksud Bu Nadin dan teman-teman disini untuk....”
“Untuk memberitahuku jika ada lomba Dance tingkat Asia ya ? waahh, Cheecy sudah tau. Kapan Bu Latihannya ? Cheecy sangat siap”
Ia menyeritkan kening. Lagi-lagi Bu Nadin diam. Apa ada yang salah dengan perkataan ku ? apa dia tersinggung ?
“Bukan itu Cheecy, maafkan ibu sebelumnya. Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Tapi ibu mohon, jangan sedih ya”
Aku hanya tersenyum. Entah apa yang akan dikatakan.
“Berhubung melihat kondisi kamu seperti ini, dan sebentar lagi Fiolind Dance akan ke tingkat Asia, ini bukan sembarang lomba. Butuh latihan ekstra dan ketahanan fisik yang tangguh, dengan berat hati, ibu akan keluarkan kamu dari Fiolind Dance. Kamu tidak mungkin mengikuti lomba sedangkan kamu sakit-sakit an seperti ini. Lomba ini sudah di nanti-nantikan sekolah kita. Dan, ibu mau harus yang terbaik”
Kata Bu Nadin.
“Apa ?! Cheecy dikeluarkan ? ibu yakin ? apa selama ini Cheecy kurang memuaskan ? Cheecy janji Bu, Cheecy akan berusaha yang sebaik mungkin”
“Cheecy, Bu Nadin benar. Kamu tidak usah mengikuti lomba ini. Kamu akan sakit terus menerus. Dan kamu adalah ketua Dance terbaik. Papi, Mami dan semua orang selalu puas dengan prestasi mu.”
Ayah membelai rambut ku yang dari tadi sesegukan. Aku tidak mau  meninggalkan Dance. Aku tidak bisa
“Bu, Cheecy mohon. Sekali ini saja. Ibu tau kan, umur Cheecy tidak akan berlangsung lama, apa ibu tega melihat saya berpisah dengan dunia ini ? saya senang dengan hidup saya. Dari kecil, saya sering melihat club Dance yang hebat. Saya ingin, tapi penyakit ini berkata tidak mungkin. Namun saya tau, saya bisa melakukannya selagi itu mampu. Dan sekarang ? dengan penyakit ini, saya mampu bertahan walaupun saya sering letih berlatih Dance. Apa itu tidak cukup pengorbanan saya bu ? bu, saya mohon.  Saya mengabdi di dunia ini untuk hidup dalam dunia Tuhan dan sosialisasi pendidikan. Dan di akhirat nanti, saya mengabdi untuk Tuhan sepenuhnya. Bahkan ibu pun tau, saya sering sakit. Para guru menganjurkan saya membawa handpone jika sewaktu-waktu saya sakit, tapi ? tidak pernah sekalipun saya membawanya. Sekali peraturan, tetap peraturan. Apa ibu tega ? bu, saya mohon saya ingin mengikuti itu. Saya janji, saya akan membawa piala kemenangan untuk sekolah kita”
Tidak ku lanjutkan kata-kataku, semua orang menangis sesegukan karena kata-kataku. Hanya Darrell yang setia di sampingku, menatap ku tanpa memperlihatkan kesedihannya. Walaupun aku tau, dia menangis di dalam hatinya.
“Cheecy, Ibu mohon maaf sekali lagi, ini peraturan sekolah. ibu tetap akan.....”
“Tetap menerima mu di Fiolind Dance. Tunjukkan prestasi mu yang terbaik nak, janji mu selalu bapak pegang. Dan perlihatkan bahwa kamu, Cheecy murid disiplin, pintar, tegar, dan satu kuat”
Di pintu utama terdapat bapak-bapak separuh baya tersenyum dengan menyambung kata-kata Bu Nadin tadi. Ya, dia Pak Slamet. Kepala sekolah ku.
“Pak Slamet”
“Iya Cheecy, kamu tetap mengikuti lomba tersebut. Kami dewan guru telah mendengar pembicaraan kalian di belakang pintu. Ayo Cheecy, kamu siswa paling berprestasi !!”
“Maaf sebelumnya Para Dewan guru, khususnya Pak Slamet. Tapi dia sakit pak, apa dia mampu ?”
Aku tidak dapat menepis rasa bahagiaku. Rasa bersyukur karena selalu di beri Allah perlindungan.
“Pasti Bu Nadin. Cheecy selalu bisa melakukannya. Saya tau, dia anak yang kuat”
Sahabat-sahabat ku pun berteriak dan memelukku. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk meneruskan hidupku kembali. Akan ku buktikan perkataan Pak Slamet tadi. Aku akan terus berusaha, dan tidak membuatnya kecewa. Ya, aku pasti bisa !!
                        *****

                        “Ayo Fiolind Dance !! tinggal 2 club Dance lagi, kita baru memulai di atas panggung besar itu di hadapan entah berapa ribu penonton disini. Siapkan mental masing-masing, karena aku tau ini tidak mudah. Kita sudah tidak berlomba dengan antar provinsi, melainkan negara !! motivasikan diri kita, yakinlah bahwa kita yang terbaik. Aku tau, pasti kalian akan demam panggung begitu juga aku. Namun disana, ada orang tua, guru, kepala sekolah, kekasih, dan kita sahabat selalu bersama. Buat sekolah kita yang terbaik ! tunjukkan itu !! Fiolind Dance !! Latihan kita selama 7 bulan kemarin memang terlampau singkat untuk lomba semacam ini, ini juga karena aku sering sakit, latihan sering di tunda. Lihat orang-orang yang kita sayang, mereka pasti juga harap-harap cemas menunggu kita. Berikan yang terbaik untuk mereka. Patahkan rasa cemas mereka saat melihat Dance kita yang begitu indahnya. Siap Fiolind Dance !!???”
“Siap !!”
Kita pun saling berpelukan dengan menyiapkan mental masing-masing. Dan aku tau, aku berada di paling depan. Aku, akan tunjukkan pada seluruh di Negara, kalau aku wanita kuat.
Next, the serial of 22 Fiolind Dance groups from Senior High School 1 Jakarta from Indonesia”
Sorak sorai gemuruh memekikkan telinga, pembawa acara telah memanggil Fiolind Dance untuk maju kedepan. Rasa gemetar, ragu, senang, was-was, bercampur menjadi satu di hatiku. Kelompokku pun maju di selingi sorak-sorai nama Fiolind Dance, aku pun yakin, ini pembuktian selama ini. Musik campuran Lady Gaga – Paparazi, Lady Gaga – Just Dance, Toxic, dan lainnya tertata dengan apik seperti latihan semula. Ku gerakkan badanku mengikuti irama yang sudah ku hafal sejak 7 bulan yang lalu. Ku lihat Darrell berteriak memanggil namaku. Begitupun orang tuaku, aku tersenyum meyakinkan bahwa aku bisa tanpa ragu sedikitpun. 5 menit telah berlalu Fiolind Dance dengan rasa cemas. Akhirnya selesai juga. Kami pun mengucapkan salam dan mengibarkan spanduk FIOLIND DANCE JUNIOR HIGH SCHOOL 1 JAKARTA !! . Saat berbalik arah menuju ke belakang, tiba-tiba kepala ku terasa pening, apakah aku kecapean karena perjalanan ke Singapura, sering memaksa latihan atau hanya nerveouse. Tiba-tiba semuanya gelap. Aku hanya melihat sesosok manusia baik hati yang datang menemaniku. Mengajakku bermain di tamannya. Aku menolak, karena aku belum berpamitan dengan orang yang ku sayang.
“Maaf ya kak, Cheecy belum berpamitan dengan orang tua Cheecy. Kalau Cheecy sudah mendapat kata boleh pergi, pasti Cheecy akan kesini kembali, bermain dengan kakak. Tunggu Cheecy ya kak, passti Cheecy kembali”
Aku tersadar dan bangun di tempat yang tidak asing bagiku. Di sampingku banyak orang yang melantunkan yassiinn. Aku tidak mengerti maksud ini semua. Ku lirik ada orang tuaku, sahabat-sahabat ku, Pak Slamet, dan Darrell. Mereka menangis tak terkendali.
“Papi, Mami”
Suara lirih menyerbu tenggorokanku. Rasanya sangat tercekat. Mereka semua mendongakkan kepalanya dan dengan cepat memelukku.
“Ada apa Pi, Mi ? apakah Cheecy pinsan lagi ? sudah lah, jangan menangis. Cheecy baik-baik saja”
Aku mencoba tersenyum di hadapan mereka. Aku tak ingin memperlihatkan wajah sedihku, bahkan rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan.
“Sayang, kamu tidak pinsan sembarang pinsan. Kamu sudah koma 7 hari. Bahkan dokter sudah menyerah. Hanya berdoa yang dapat kami lakukan”
“Aku sudah koma 7 hari ? maaf ya, aku tidur panjang”
Aku meringis dengan menunjukkan senyuman kesedihanku.
“Cy, ini ada sesuatu untukmu”
Bu Nadin memberiku sebuah benda yang tak asing bagiku. Ya, piala !!
“Piala ? piala apa Bu ? kenapa piala saya di bawa ke sini ?  bukankah semua piala saya berada di kamar saya ?”
“Cy, ini bukan piala seperti biasanya, ini piala kemenangan kita !! Fiolind Dance !! waktu koma, sudah ada pengumuman. Kau tau Cy, kita mendapat juara berapa ?! ke 2 Cy !”
Apa benar ? ya Allah, terimakasih telah mengabulkan doa ku. Aku, seorang yang penuh penyakit dapat menang dan menjadi ketua sebagai juara 2 Dance tingkat Asia !! Tuhan, inikah kebesaran-MU ? terimakasih ya Allah, terimakasih. Aku memeluk semua sahabatku. Tangis bahagia, haru, sedih, semua menjadi pelengkap detik-detik asa ku.
Semua menangis pilu ketika aku sudah tak kuat memegang piala kebanggan ku. Badanku lemah. Aku tersenyum melihat kekasihku yang menangis memegang tangan kecilku, aku begitu mencintainya. Sanggupkah aku meninggalkannya ?
“Mami, Papi, Bu Nadin, Pak Slamet, Sahabat-sahabatku, dan khususnya Darrell, aku mau minta maaf atas segala kesalahanku. Aku juga mau berterimakasih atas dukungannya selama ini. Berkat kalian, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku tidak bisa mengucapkan bagaimana bahagianya aku. Terimakasih. Aku hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal. Mata ku lelah, aku ingin tidur kembali”
“Cy, kamu itu ngomong apa ? Mami tidak mau kamu harus meninggalkan kita”
“Mami, Mami tau kan kalau Cheecy sayang Mami ? Mi, Cheecy lelah”
“Sayang, kuat ya”
Ku teteskan air mata perlahan membasahi wajah pucatku. Ku anggukkan kepala ku sejenak kepada Darrell.
“Semuanya, aku ingin tidur kembali. Aku sudah ingin pergi ke Taman Indah lagi. Untuk Mami dan Papi, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk Cheecy. Untuk Darrell, aku selalu mencintai mu sampai kita bertemu kembali dan untuk semua terimakasih, tanpa kalian hidupku tak berarti. Aku selalu menyayangi kalian”
Ku tutup mataku perlahan dengan dekapan tangan Darrell yang menemaniku. Entah, apakah aku sudah meninggal atau belum. Yang kurasa hanya tangisan, teriakan, tertekan, dan rasa sakit dalam tubuhku.
Pppiiippp, pppiiiipppp, ccciiittt, ppppiiippp pppiiippp, ccciiiittt
Hanya itu yang melekat di telingaku. Suara alat dokter. Entah apa itu.
Dan kata dokter, sisa umur ku 15 % lagi.
Jika aku meninggal, akan ku usap satu persatu tangisan itu walau lewat mimpi, namun jika Tuhan belum mau menjemputku, aku akan membalas kebaikan mereka semua dengan senyuman
           
            TAMAT

Rabu, 06 Februari 2013

Titian Angsa


Kkkrrrriiinnnggg, kkkrrrrriinngg, kkkrrriinnngg.
Jam weker unguku berdering. Membangunkanku dari tidur semalam. Dari mimpi buruk yang mengawali gerimis pagi ini. Aku menyeruak dibalik selimut unguku, dingin masih merayap di badan. Teringat jelas semua ini. Ah, tidak perlu kumembayangkannya lagi.
           “Bi, Ayah dan Bunda di mana?”
 Mataku masih sembab akibat menangis semalam. Masih merah dan membengkak. Kurasa Bibipun mengetahui hal tersebut.
“Oh, kalau Nyonya baru sarapan di bawah neng. Kalau Tuan, sepertinya sudah bekerja. Mungkin karena tergesa-gesa, jadi tidak sempat sarapan bersama neng Asha.  Pagi ini tuan akan ke Singapura, katanya ada meeting mendadak”
Ah, bosan! Mengapa aku jarang bertemu Ayah? Aku kangen Ayah, tapi Ayah selalu tidak di rumah. Memang, rumahku cukup besar dan aku memiliki banyak fasilitas di sini. Bahkan kelak ini akan menjadi rumahku. Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur bank internasional, Bundaku pemilik perusahaan asing, dan Kak Morgan kakakku adalah seorang yang cukup pintar di sekolahnya. Saat beranjak dewasa, aku merasa tidak ada yang menanggapku lagi. Semua orang sibuk. Sejak kepergian Kak Morgan untuk bersekolah di Amerika, aku merasa sendiri.
“Hai Bunda”
“Hai sayang! Sudah bangun ya, ayo sarapan dengan Bunda”
Senyumannya mengawali hari burukku. Senyuman yang kunanti-nanti dari dulu, akhirnya datang menyambutku.
“Tumben,  Bunda di rumah. Biasanya kalau Asha dari bangun sampai tidur tidak pernah bertemu. Bunda kan sibuk dengan pekerjaan Bunda,  sampai-sampai lupa dengan anaknya”
 Bunda menatap ku dalam, namun aku tidak berani untuk menatap bola matanya. Apakah dia marah? Atau …..
“Sayang, Bunda tahu kamu kesepian. Maafkan Bunda ya, Bunda janji minggu depan Ayah, Bunda dengan Kak Morgan akan di rumah. Kita akan berkumpul bersama”
“Benar Bunda? Bunda serius?”
 “Serius sayang”
Tidak kurasa, kata-kata itu muncul dari bibir Bunda. Kupeluk Bunda dan kuucapkan terimakasih.  Sejenak, pandangan kosong pun berubah menjadi harapan yang akan datang.

                   ******

                   Ini pertama kalinya aku berada di SMA Xuneius, Bandung. Sebenarnya, berat harus meninggalkan sahabat-sahabatku di Jakarta. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di Jakarta. Ayah harus tinggal di Bandung. Terpaksa  kami sekeluarga harus ikut di Bandung. Toh, di Bandung pun aku tidak rugi aku tetap bebas. Aku tetap bisa jalan-jalan dengan mobil ungu kesayangannku. Aku tetap bisa pergi dengan temanku. Tidak ada yang mengekangku, semua terserah apa mauku.  
Mobilku terhenti di Gerbang SMA Xuneius. Terpampang jelas gerbang berwarna emas itu dan waw ! SMA ini lumayan besar. Dengan arsitektur modern bertingkat 4. Halamannya lumayan bersih dan luas. Rumput-rumput itu terpotong rapi berjajar.  Ada juga semacam bonsai yang dibentuk indah serta dipotong membentuk tulisan SMA Xuneius. Mungkin aku akan betah di sini. Entahlah, semua tergantung keinginanku. Ada juga pahatan-pahatan bentuk arsitektur SMA Xuneius.  Menarik, lantai mushollanya juga bersih sekali, sejuk.
Kualihkan pandanganku sejenak dan kuparkirkan mobilku di parkiran samping lapangan basket. Rata-rata di sini anak orang kaya. Aku bisa berfikiran begitu karena mereka sebagian besar naik mobil atau motor keren dan sebangsanya. Entahlah tidak terlalu penting bagiku. Hari ini, akanku mulai hariku beranjak di SMA, di kota lain. Di sini aku harus merubah sifat burukku. Aku selalu iri jika seseorang bisa menyaingiku. Aku tidak suka itu. Maka di sinilah, aku harus merubah image burukku. Fantastic!
                   Kutelusuri lorong SMA ini, cantik. Aku berhenti di kelas X A dan ternyata pelajaran hampir dimulai. Semua mata tertuju padaku. Mungkin mereka merasa ada yang asing, karena mereka baru melihatku. Aku segera duduk di bangku kosong di samping perempuan yang berparas cantik, putih, tinggi, dan lucu. Dia tersenyum, dan aku  membalasnya.  
“Pagi anak-anak” 
“Pagi Bu”
Kulepaskan pandanganku ke guru itu, mungkin umurnya masih sekitar 30-an, dengan style yang lumayan cantik, berbalut rok ungu dan jas ungu yang berpadu padan menarik.
“Nama saya Nurinta, saya mengajar bahasa Jepang di sini. Ada sebagian murid yang sudah kenal saya kan ? Tetapi ada murid baru pindahan di sini. Silahkan Asha, bisa berdiri di depan, dan perkenalkan dirimu”
Dengan malu-malu, akupun menlangkah ke depan kelas dan memandang satu persatu wajah teman-teman baruku. Kebetulan aku memang cukup pandai dalam Bahasa Jepang dan kuperkenalkan diriku dengan Bahasa Jepang.
“Konichiwa yujin”  ( Hai teman-teman )
“Konichiwa yuko o” ( Hai juga )
Jawab mereka serempak.
“Watashi no namae wa Pasha Anndyta Jihan. Anata wa watashi Asha. Yobidasu koto ga dekimasu. Watashi wa shuto Tunas Harapan 1 Jakarta. No izure ka o negatte imasu. Watashi wa, jutako no burokku bango Andryta 14 ni sunde iru. Watashi no chici wa, bandon ni aru jobu o henko shitanode, watashi wa koko ni ido. Watashi no sumi wa suiei to katsudo shite iru. Watashi no shokai no yo ni oku no. Dare mo watashi nitsuite no shosai o shitsumon shiyou to suru baai, Watashi to issho ni jibun, jishin ni toute kudasai. Watashi wa anata-tachi kara no shitsumon ni kotaeru jinbi ga dekite imasu. Kansha”
 ( Nama saya Pasha Anndyta Jihan, kalian bisa panggil saya Asha. Saya dari SMP Tunas Harapan 1 Jakarta. Saya tinggal di Perumahan Andryta blok A no 14. Saya pindah ke sini karena Ayah saya pindah kerja di Bandung. Hobby saya renang dan main acting. Sekian perkenalan dari saya, jika ada yang mau bertanya lebih jauh tentang saya, silahkan bertanya pada jam istirahat. Saya siap menjawab pertanyaan dari kalian. Terimakasih )  
Kupandangi satu persatu wajah teman baruku. Sebagian dari mereka mungkin hanya mengandalkan style, atau hanya dianggap ajang kecantikan. Menurutku, aku turut memperhatikan style, tetapi sekolah bukanlah ajang untuk bergaya. Seperti di Singapura, di sebuah tempat untuk menuntut ilmu mereka tak pandang bulu. Ada yang memakai celana rumah, kaos, dan hot plant. Bahkan, untuk mengerjakan tugas bersama walaupun berlawan jenis, mereka di sana biasa saja di anggap teman, bukan seperti disini, ngobrol atau berjalan bareng saja dianggap ada hubungan  yang spesial. Aku tak mengerti jalan pikiran anak di sini. Bu Nurinta pun membuyarkan lamunanku, beliau menyuruhku untuk kembali ke tempat. Aku kembali ke bangkuku. Pelajaran pertama di Bandung, resmi kumulai .........

                   ******

                   Ternyata , temanku yang satu bangku denganku bernama Lyli. Dia tinggi, cantik, putih, humoris, dan terutama baik hati. Baru kenal 20 menit yang lalu saja  aku selalu terpingkal-pingkal jika ngobrol dengan dia, semoga saja dia bisa menjadi sahabatku di Bandung ini. Saatnya istirahat, aku dan Lyli menuju kantin sekolah. Aku juga diajak Lyli berkeliling SMA ini dan sudah kuduga, sekolah ini memang indah. Dibagian belakang ada taman yang menyerupai green house. Ada bangku panjang yang di letakkan di bawah naungan pohon akasia, teduh sekali. Banyak warna-warni bunga yang berwarna ungu disana. Apakah bangunan ini habis direnovasi, catnya terlihat masih baru. Bangunannya juga bagus. Aku akan nyaman disini. Seluruh ruangan bahkan di toiletnya pun bersih. Tak sia-sia aku pindah ke Paris Van Java ini. Udara disini juga cukup segar. Tidak seperti di Jakarta, penuh polusi. Di Bandung juga sering melakukan penanaman pohon . Dan itu sangat tepat untuk mengurangi global warming. pengetahuanku cukup luas tentang Bandung dalam 5 hari ini.
“Yuk, duduk di bawah pohon itu saja, pesan makanan”
 Ajak Lyli sambil menarik tanganku.
 “Iya Lyli , sabar dong”
 “Bu Kantin !”
Teriak Lyli memanggil Ibu yang menjaga Kantin SMA Xuneius.
 “Iya neng , mau pesen apa ?”
 “Oh , kalau aku mau pesen bakso aja, minumnya juice alpukat. Kalau kamu apa Sha ?”

..........................( hening )..................................
“Hello ? Sha ?” Lyli membuyarkan lamunanku.
 “Oh ya Ly, ada apa ?” 
“Ngelamunnin apa sih ? mau pesen apa ?”
 Lyli sepertinya heran, aku seperti tidak conect waktu itu.
“Emm, aku pesan kentang goreng dan minumnya juice melon saja deh” Kataku dengan meyakinkan Lyli tidak terjadi apa-apa.
 “Sha, ada apa sih ? cerita dong sama aku”
Mata Lyli menatapku dalam. Ada rasa keingintahuan tentang aku.
“Lyli, aku tidak ngalamunin apa-apa kok”
 “Sha, please”
Aku tak bisa mengelak. Dia menyuruhku untuk bercerita. Dengan terpaksa aku akan bercerita. Jujur, aku tak ingin menceritakan masalahku ini ke orang yang baru saja ku kenal. Tapi, bagaimana lagi dialah satu-satunya teman yang dekat dengan ku di Bandung ini. Matanya memancar menatapku tajam. Sepertinya dia siap untuk mendengarkan ceritaku. Aku tak tega membuat dia menunggu lama. Aku diam sejenak untuk mengatur nafas, dialah satu-satunya orang yang tau masalahku di Bandung ini.
“Jadi begini Ly, aku memiliki masalah yang berat. Amat sangat berat. Sampai 2 minggu ini, aku susah tidur karena memikirkan masalah ini. Ada yang mengganjal dihatiku”
Aku hela nafas ku sekali lagi dan dia masih setia mendengarkan curhatku.
“Aku memiliki beberapa masalah yang tidak bisa ku atasi”
Pembicaraanku terhenti karena hidangan kami telah datang. Kutatap matanya, dia tak menyentuh makanannya sedikitpun. Dia masih seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun. Dia antusias mendengarkan cerita ku, dan ku lanjutkan ceritaku karena mungkin dia ingin mengenal aku lebih dalam.
“Masalahku yang pertama, Aku kehilangan seorang kekasih bernama Aryo, dia selingkuh dengan sahabatku, Lyani. Sampai saat ini aku masih encintainya, namun harus ku pendam dalam hati. Padahal aku sangat mencintainya. Masalahku yang ke 2, adalah kejujuran. Aku .... Aku pernah mencuri kunci laci meja Kepsek, agar Kepsek tidak bisa membuka laci mejanya. Aku mempunyai masalah waktu SMP, sewaktu itu aku pernah ketahuan merokok. Tapi sumpah pertama kali coba, aku tak mengetahui apa itu. Aku hanya diajak temanku untuk mencobanya, aku bebas dirumah. Tidak ada yang mengekangku. Dari sanalah aku mencoba-coba, Kepsek tau dari temanku. Beliau menggeledah tasku dan menemukan 2 batang rokok. Beliau menyita rokok itu sebagai bukti tuk diserahkan kepada orang tuaku. Aku tidak ingin mereka tau, aku malu. Aku juga tidak mau membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku mencuri kunci laci beliau agar tak bisa membuktikan. Dan, aku masih merasa bersalah hingga hari ini. Kamu tau kan, bagaimana perasaanku ? Aku tak kuat lagi. Apa yang ku lakukan semua tak berguna”
 Mulut Lyli bergerak perlahan  seperti akan mengatakan sesuatu. Panas juga pantatku duduk serius dari tadi. Dan mungkin makananku telah dingin. Aku tidak menghiraukan itu.
“Asha, aku tau bagaimana perasaanmu. Walaupun baru 4 jam aku mengenal mu, tapi aku tau kamu itu perempuan tegar. Menurutku cukup banyak dan cukup berat masalahmu tadi untuk anak SMA. Kau hanya di beri Tuhan cobaan. Kau tau sobat, Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya yang melebihi batas kemampuannya. Kau hanya berada di kebingungan sementara. Sekarang kau tidak lagi di SMP Asha, kamu sudah SMA. Lupakan itu semua. Menurutku masalahmu tadi banyak jalan keluarnya. Yang pertama, soal kekasihmu. Ayo Sha, dia kamu itu cantik, baik, pintar, banyak yang suka denganmu. Kamu pasti dapat menemukan yang lebih baik dari Aryo. Itu membuktikan bahwa dia bukan laki-laki yang setia.tidak usah perdulikan dia. Suatu hari nanti, dia pasti  sadar apa yang dia perbuat. Yang ke 2, lebih baik kamu mengaku saja. Minta maaf lah dengan Kepsek SMP mu. Lakukan yang ingin kamu lakukan selagi itu positif . Banyak hal yang bisa kamu lakukan disini. Aku akan membantumu selagi aku mampu. Aku selalu disisimu. Bagaimana cantik ? setuju ?”
Di ulurkannya kelingking manisnya di hadapanku , dan ku gapai kelingking itu
“Setuju Lyli, makasih ya, eh ayo dong dimakan. Keburu dingin. Kalau Aku lapar nanti aku kering kerontang bertandus lagi ”
 Ku cairkan suasana tadi dengan gurau, semoga yang dikatakan Lyli akan menjadi motivasiku d sini.

          ******

  Hallo Para Siswa !! Ada Drama Musical Putra Putri Xuneius lho ! Untuk Ajang Pementasan Pensi . Ayo Daftarkan Dirimu Di Sekretaris Osis Paling Lambat tanggal 5 Agustus !! Tunjukan Aksimu Lewat Gayamu

                                    Panitia
           
                                 Ketua Osis

                        “Lyli !”
Dia menoleh kepadaku. Dia menghampiriku dengan 2 pita di rambutnya. Lucu juga menurutku.
“Kamu liat tidak ? pengumuman ini ?”
Aku menunjuk pengumuman itu. Dia menyeruak tanganku dan terdiam membacanya.
“Wah, kamu kan hobi banget maen akting, ikutan sana ! siapa tau bisa masuk”
 “Aku ikut kalau kamu ikut”
Aku berjalan menyusuri lorong kelas ku.  Teman-teman sudah menyapaku. Aku duduk di bangku samping Lyli.
“Wah, aku tidak bisa main akting ! percuma aku ikut. Pasti kalah”
 “Lyli, jangan pesimis dulu. Pokoknya kamu harus ikut ! aku daftarkan kamu di Sekretaris OSIS”
Dengan sedikit paksaan akhirnya Lyli mau juga. Aku tak perlu kesepian saat audisi itu. Ada Lyli sahabatku.

                   ******

                   Audisi hampir dimulai. Aku melihat kurang lebih 88 siswa yang berminat mengikuti audisi ini. Aku semakin antusias. Aku mendapat nomor dada 3 dan Lyli 4. Dengan berbekal pengalaman akting ku yang dulu, aku siap mengikutinya dan semoga saja aku dapat masuk untuk mengisi pensi. Aku melihat mimik muka para peserta yang lain. Sebagian dari mereka pucat.  Mungkin demam panggung. Peserta ke 2 telah selesai. Saatnya aku memberikan yang terbaik. Aku mulai gugup. Tanganku sudah dingin.
“Semangat Asha ! tunjukkan kamu yang terbaik !”
Kata-kata itu menjadi motivasi ku. Ya , aku yang terbaik. Aku mulai di atas panggung dan memberikan hormat kepada dewan juri. Aku meragakan sebagai Cinderella. Tepuk gemuruh bergetar di ruangan itu setelah aku selesai. Aku tersenyum dan aku yakin . Hanya aku yang masuk jadi pemain utama !
“Nomor dada 4 .. Lyliani Sarah Cardyna”
 Dewan juri sudah memanggil nama Lyli. Mukanya juga merah. Selama aku melihat akting nya, aku rasa lebih bagus aktingku. Tepuk tangan pun tak ada hingga dia selesai. Aku semakin yakin aku adalah pemeran terbaik. Tak ada yang pantas. Hanya aku.

                   ******
          Setelah menunggu selama 2 hari, pengumuman yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sangat siap mendengarnya, kalian tau kenapa ? aku tau, aku yang berhasil.
 “Ly, aku gugup”
 “Tidak perlu gugup Asha, kamu pasti terpilih, percayalah”
 “Semoga kau benar Ly”
Aku semakin erat menggenggam tangannya . Padahal waktu itu ruangan tak ber-AC. Kulihat pengumuman itu. Ku cari namaku dan .... Astaga ! aku tak terpilih sama sekali ! dan yang lebih membuatku shock, Lyli. Lyli sahabatku menjadi pemeran utama ! aku berlari meninggalkan Lyli yang saat itu juga tertegun mengapa dia bisa menjadi pemeran utama. Padahal dia tak bisa akting sama sekali. Aku yang mengajarkannya. Mengapa aku kalah dengannya ? aku tak habis pikir dengan dewan juri ! tak adil ! aku yang berhak ! bukan Lyli ! aku benci !

                   ******

Tok tok ,, tok tok ,,
 “Masuk, tidak di kunci”
 Kata ku di balik pintu kamarku. Aku masih sedih dengan kejadian tadi siang.
 “Neng, ada temannya eneng di luar”
Bibi masuk perlahan ke kamarku. Temanku ? siapa ? apa temanku dari jakarta ?
 “Eemmpp Bi, teman ku siapa ?”
Tanya ku keheranan. Maklum, sejak pindah kesini tak ada temanku yang berkunjung kerumahku.
“Anak nya tinggi, putih, cantik non. Namanya siapa ya .. eemmpp .. li li, siapa ya non”  
“Lyli ?!”
Aku tersentak. Apa mungkin Lyli ? lalu apa tujuan dia kerumahku ?
“Iya non ! namanya Lyli”
Jawab bibi setelah ingat nama Lyli.
“Tanya, untuk apa dia kesini. Untuk mencemooh aku karena aku tak lolos audisi. Atau hanya ingin pamer”
Aku kembali memainkan i-phone ku. Peduli banget sama Lyli. Dia udah hancurin harapanku.
 “Sha, ini aku Lyli. Aku mau ngomong”
 Terdengar suara di balik pintu kamarku. Suara itu tak asing. Lyli. Aku baru sadar kalau aku pernah memberinya alamat rumahku. Tak heran dia mengetahui rumahku.
 “Buat apa kamu kesini?!”
 “Sha, please aku mau ngomong”
 Aku mulai membukakan pintu kamarku dan menyuruhnya masuk.
 “Ada apa?”
Sebenarnya canggung berbicara ketus seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri. Tapi aku terlampau kesal.
“Aku tau, kamu kecewa tidak jadi pemeran disitu. Dan aku tau kamu pasti sangat terpukul mengetahui aku terpilih. Ini juga diluar dugaanku Sha. Aku sengaja mengundurkan diri. Aku tak mau menyakiti mu”
Kata-kata itu terlontar dari bibir Lyli.
 “Sungguh ?”
  “Iya sha”
 Aku memeluknya erat. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dia.
 “Tapi Ly, aku masih benci aku tak terpilih. Aku akan membatalkan acara itu. Aku tak suka kalau itu bukan aku yang memerankan !”
 “Sha, itu tidak baik !”
 Lyli terkejut dengan ucapanku. Ya memang, aku benci pensi itu. Aku yang akan menghancurkan. Sekali aku benci, tetap benci.

                   ******

                   ‘Hhmmpp, aku harus mulai menjalankan misi ini. Aku akan hancurkan semua’
aku bergumam dalam hati. Acara telah dimulai. Semua penonton memenuhi tempat duduk.
‘Yeah, aku berhasil menyusup di dalam ruang kostum. Dengan api ini, aku bisa aja menghanguskan semuanya. Sebenarnya aku tak ingin membuat keributan. Tapi sayang, bukan aku yang dipilih untuk memeriahkan pensi ini, jadi sebentar lagi akan hancur. Ups, api nya jatuh. Selamat bersenang-senang’
Aku beranjak dari tempat itu dan menyusup keluar. Api berkobar dan dalam sekejap telah musnah. Aku tertawa kecil melihatnya.

                   ******

                   “Sha, yang menyebabkan  kebakaran kamu kan ?”
 Lyli bertanya padaku. Dengan enteng pula aku menjawab ya.
“Gila kamu itu. Kalau kepsek tau bagaimana ?! hancur hidupmu !”
“Sha ! kamu di panggil kepsek !”
 teriak Marsha di belakang pintu BP. Aku gugup. Apakah aku ketahuan ? tapi tak ada orang di ruang make up dan tempat kostum itu selain aku. Dengan tenang aku menemui kepala sekolah itu.
“Selamat siang pak, bapak memanggil saya?”
 Aku memasuki ruangan kepsek. Ngeri juga waktu inget kejadian waktu SMP.
 “Ya, saya memanggil kamu. Saya tau, kamu yang menyebabkan ruang pensi kebakaran kan !”
Apa ? kepsek tau ? mati deh riwayatku. Dari mana dia tau ?
 “Maaf pak sebelumnya, dari mana bapak bisa memvonis saya seperti itu ? apa bapak punya bukti ?”
 Ku beranikan aku mengelak dan bersikap tak ada kesalahan.
“Ini”
Astaga ! ternyata di ruangan itu ada CCTV ! dan tak terbakar ! aku tak tau apa yang harus ku lakukan. Banyak saksi disitu.
“Maaf pak, saya jujur  memang saya. Saya iri pak melihat saya tidak terpilih dalam audisi tersebut. Maafkan saya pak”
“Ini kesalahan fatal Asha. Pihak sekolah rugi besar. Saya tetap memberimu hukuman”
“Maafkan saya pak, saya khilaf”
Ku titik kan air mata disitu. Aku tak habis pikir akan terjadi seperti ini.
“Saya hanya ada 2 pilihan Asha. Kamu boleh memilihnya”
“Apa itu pak ?”
“Keluar dari sekolah ini atau setiap hari membersihkan ruangan pensi sampai kamu lulus !!
TAMAT

Langkah Tertahan


“Cheecy, ayo sayang, nanti kamu di tunggu Fiolind Dance lho”
“Iya-iya, tunggu  sebentar Darrell sayang, aku mau ambil tas dulu. Nanti aku pulangnya bareng kamu atau aku naik mobil sendiri ? kalau aku bareng kamu, nanti aku nelfon Mang Ujang  suruh ambil mobilku”
“Kasihan Mang Ujang sayang, harus bolak-balik. Ya sudah gini saja, kamu aku anter di Aula Dance, tapi kamu pulangnya sendiri tidak apa-apa kan ? bukannya Darrell tidak mau mengantar kamu, tapi kasihan sama Mang Ujang. Besok saja ya, kita pulang bareng sekalian ke Mall”
Ku anggukkan kepala ku ringan dan aku pun melenggang pergi meninggalkan Darrell, kekasihku sesampainya aku di Aula Dance.
Aku menyusuri lorong ruangan dance itu. Kepala ku pening. Entah kenapa. Mungkin karena pelajaran Matematika, Pak Dandy tadi atau karena aku..... Ah, tidak ku hiraukan, yang penting, aku sudah siap untuk berlatih dance hari ini dan semoga saja itu tidak akan kembali didiriku.
“Lama banget sih Cy”
Aku tersenyum melihat wajah Sari yang cemberut itu. Ku letakkan tas pinggangku dan menyapa yang lain. Ya, kami terdiri dari 5 anggota Fiolind Dance. Dance terpopuler dan sampai di tingkat nasional. Kalian tau apa yang membuat ku sangat bangga ? memang, Ketua Dance ini adalah aku. Aku cukup bertanggung jawab dan populer di SMA ini.
“Maaf ya. Tadi di kelasku ada les tambahan oleh Pak Dandy. Kalian sudah menunggu lama ya ? sekali lagi maaf ya”
Aku duduk di kursi dance samping tipe. Ku dekati Sari yang sering cemberut tidak  jelas. Namun, jika aku jadi Sari pun aku pasti bosan. Karena hampir 2 jam menunggu.
“Ya sudah deh, tidak apa-apa. Tapi lain kali, kalau telat kan kamu bisa sms aku”
“Lho, bukankah peraturan di SMA ini tidak boleh membawa handphone ? aku tak mau melanggar peraturan itu.”
“Oh iya ya, aku baru inget. Cheecy kok di ajak melanggar peraturan, ya pasti tidak mau lah. Kalau ada lomba tidak pernah disiplin, aku pasti menang, sedangkan kau, sudah tereliminasi saat mendaftar”
Gelak tawa menggelegar. Memang, Sari, sahabat ku satu ini sifatnya kadang menyebalkan, kadang juga lucu. Ah, dasar Sari. Sebenarnya dia bisa di bilang yatim piatu. Cerita eyangnya, dia itu dari lahir sudah ditinggal ayahnya menikah lagi di luar negeri. Dan saat ibunya melahirkan Sari, ibunya meninggal. Itu yang membuat kami simpatik dengan dia, walaupun kadang rasa sebal dengannya melanda kami. Namun, dia anak yang baik. Aku suka kepribadiaanya. Lucu, menyebalkan, baik hati, pintar, supel, suka menolong. Beda denganku. Aku lebih cenderung mengurung diri di kamar untuk  menciptakan gerakan-gerakan baru, mencari lagu dance, membuat komik, novel, main game, twitter, atau yang berhubungan dengan hobbyku. Aku tak bisa seperti Verend yang atlit renang, seperti Sandra yang jago bersepeda dan mendapat juara nasional, ataupun Sari yang sering membantu eyangnya bekerja di restaurant. Yaah, inilah hidupku. Penuh membosankan. Mungkin jika aku tidak memohon pada Papi untuk mengikuti Dance di sekolah, aku hanya jadi pemurung. Semua aktivitasku tergantung ini semua. Andai aku dapat memohon kepada Tuhan, aku ingin semua ini di ambil saja. Aku bangga dengan semua prestasi ku, aku bangga memiliki orang tua yang penyayang, dan pengertian, aku senang dengan semua sahabat ku dan guru yang selalu di sampingku, aku bersyukur memiliki kekasih yang mencintai dan melindungiku, aku selalu bersyukur dengan semua yang kumiliki. Namun tidak untuk satu hal ini, aku selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa harus Cheecy yang merasakan. Cheecy memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Cheecy tidak ingin semua nya hancur lenyap akibat ini. Dan aku mohon, ini akan selalu baik denganku.
“Yuk, latihan”
Aku mengambil handuk ungu dan ku sampirkan di leherku. Aku berada di posisi paling depan, kedua Sari, ketiga Angel, keempat Vita, dan kelima Ajeng. Ya, mereka sahabatku sekaligus patnerku.
“Tunggu Cy !  kamu mimisan !!”
Angel berteriak memberitahuku. Semua memandangku dengan menyeritkan alis. Ku usap hidungku dengan handuk tadi, benar darah mengalir di rongga hidungku. Angel dan Sari segera membantuku berjalan menuju ruang UKS. Sedangkan Ajeng dan Vita beranjak ke ruang guru untuk memberitahuku kalau penyakitku kumat. Aku telah sampai di UKS di temani kedua sahabatku. Aku pun merebahkan diri di kasur itu. Kepalaku terasa pening, pandanganku buram dan hitam. Aku tak merasakan apa-apa, terasa ringan.

******             

“Alhamdulillah, sudah siuman. Kamu tidak apa-apa kan sayang ?”
Ku buka mataku perlahan. Disini aku melihat alat untuk bernafas, detak jantung, pengukur suhu, selang, infus, dan alat-alat dokter yang tidak ku ketahui namanya. Yeah, aku kenal tempat ini. Jika aku mimisan dan pinsan, tempat ini lah yang ku lihat pertama kali. Rumah Sakit Karfa, ya aku bosan disini.
“Cheecy tidak kenapa-kenapa kok Pi”
Aku tersenyum meyakinkan Papi dan Mami ku kalau aku baik-baik saja. Mereka selalu cemas denganku. Mereka sering meninggalkan pekerjaan yang lumayan untuk keperluan hidup sehari-hari demi menemaniku di rumah sakit membosankan ini. Aku sangat sedih jika mengetahui Papi di telfon dan di marahi oleh client nya dengan alasan sering menunda meeting, ataupun karena atasannya. Atau Mami, yang selalu sedih jika Bakerry Brownis nya sering tutup karena beliau sering menemaniku disini. Mami memiliki pegawai yang tidak dapat di andalkan.
“Kalau kamu sering sakit begini, Papi tidak mau mengambil resiko sayang. Kamu harus merelakan Dance mu.”
“Iya Cheecy, Mami tidak mau. Semenjak 8 bulan terakhir ini, kamu sering sekali keluar masuk rumah sakit. Kata Dokter, Leukimia mu nanti bertambah parah kalau kamu sering kecapean.”
Aku menghela nafas sejenak. Ku pandangi bola mata berair Mami. Aku tidak mungkin harus meninggalkan Dance. Dance adalah satu-satunya kegiatan yang dapat ku lakukan selain harus berdiam diri di kamar. Namun, aku juga tidak dapat memaksakan ego ku. Aku harus tetap sehat dan membahagiakan Mami dan Papi. Aku anak semata wayang mereka, jika suatu hari kelak aku meninggalkan mereka lebih awal, mereka sangat terpukul, tapi........
“Tapi Mi, maaf. Cheecy tidak dapat meninggalkan ini semua. Cheecy juga memiliki aktivitas selama Cheecy masih hidup. Tidak harus berdiam diri di kamar. Cheecy tau, Papi dan Mami pasti sangat terpukul. Maafkan Cheecy Mi, Pi”
“Tapi Cheecy, kamu kan memiliki.....”
“Iya Pi, Cheecy tau. Semua fasilitas Cheecy terpenuhi, bahkan lebih dari cukup. Cheecy bisa di kamar bermain i-Phone, membaca novel, membuat cerpen, memasak, dan lain-lain. Bahkan, Papi membolehkan Cheecy memiliki pacar untuk menemani Cheecy. Tapi Pi, Cheecy  ingin sekali meneruskan ekstra Dance itu. Papi dan Mami tau kan, berapa kejuaraan yang di dapat Fiolind Dance ? Cheecy mohon Pi, Mi”
Ku teteskan air mata perlahan. Penyakit ini, menyita waktuku untuk kegiatan seperti anak yang lain, yang bisa berenang, volly, basket, climbing, ataupun badmintont. Itu akan menguras penuh sisa-sisa hidupku. Aku ingin hidup wajar seperti mereka. Aku pernah, sekali berenang di belakang rumah tanpa diketahui siapapun. Dan baru 20 menit, aku sudah pinsan. Entah, apa gunanya dirumah ada kolam renang besar jika aku tidak dapat memakainya ? aku ingin itu.
“Saaayyyaaannngg”
Mataku tertuju di pintu ruangan ku. Seseorang memakai jaket putih dengan T-Shirt putih dan jeans. Darrell Putra ! yeah, dia kekasihku. Dia sangat perhatian denganku. Dia tidak pernah mengeluh soal penyakitku ini. Aku beruntung memilikinya, dialah separuh nafasku. Dia selalu menemaniku, membimbingku, menasehatiku, menjagaku, mengajariku, dan mencintaiku dengan cara yang sempurna.
“Kamu tidak apa-apa kan ?”
Raut wajah kekhawatirannya memusatkan perhatianku. Dia terlihat sangat mencintaiku. Aku menggelengkan kepala.
“Oh, syukurlah. Tadi aku di beritahu Angel, kalau kamu dirumah sakit. Aku cemas dengan keadaanmu.”
“Iya, makasih ya. Lho, bukannya kamu ada jadwal latihan basket ?”
“Iya, tapi aku izin sama Pak Oscar, untuk menemani kamu disini”
Aku tersenyum. Begitu besar rasa sayang semua orang yang berada di dekat ku. Pintu Ruangan ku terbuka, ternyata guru dan sahabat-sahabat ku yang terdiri dari Fiolind Dance. Mereka menjengukku. Aku merasa semua sayang padaku.
“Hai Cy, bagaimana kabar mu”
“Seperti yang kamu lihat Ri, lemas dan pucat. Tapi aku tetap semangat untuk berlatih Dance kembali”
Bu Nadin tersenyum dan memberiku parsel buah, dia menatapku dalam lalu menatap teman-temanku. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Dia menanggukkan kepalanya kepada Sari dan teman-temanku. Teman-temanku hanya menunduk tidak berani merespon. Suasana hening entah beberapa menit. Aku tidak mengerti, apa yang mereka maksud.
“Maaf sebelumnya, apakah saya dapat meminta waktu Papinya Cheecy sebentar ?”
Papi menanggukkan kepala dan pergi disudut ruangan bersama Bu Nadin. Raut wajah mereka serius sekali. Aku tidak mendengar apa yang di bicarakan. Namun pada akhir nya, sepertinya Papi mengucapkan
“Baiklah Bu, akan saya usahakan, semoga dia mau mendengarkan kita”
“Ada apa Pi ?”
Papi diam seribu bahasa. Ada apa ini ? semua beranjak minggir dari ranjangku. Hanya Darrell yang tidak beranjak dan tetap di samping ku memegang tanganku.
“Maaf Cy, sebelumnya. Maksud Bu Nadin dan teman-teman disini untuk....”
“Untuk memberitahuku jika ada lomba Dance tingkat Asia ya ? waahh, Cheecy sudah tau. Kapan Bu Latihannya ? Cheecy sangat siap”
Ia menyeritkan kening. Lagi-lagi Bu Nadin diam. Apa ada yang salah dengan perkataan ku ? apa dia tersinggung ?
“Bukan itu Cheecy, maafkan ibu sebelumnya. Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Tapi ibu mohon, jangan sedih ya”
Aku hanya tersenyum. Entah apa yang akan dikatakan.
“Berhubung melihat kondisi kamu seperti ini, dan sebentar lagi Fiolind Dance akan ke tingkat Asia, ini bukan sembarang lomba. Butuh latihan ekstra dan ketahanan fisik yang tangguh, dengan berat hati, ibu akan keluarkan kamu dari Fiolind Dance. Kamu tidak mungkin mengikuti lomba sedangkan kamu sakit-sakit an seperti ini. Lomba ini sudah di nanti-nantikan sekolah kita. Dan, ibu mau harus yang terbaik”
Kata Bu Nadin.
“Apa ?! Cheecy dikeluarkan ? ibu yakin ? apa selama ini Cheecy kurang memuaskan ? Cheecy janji Bu, Cheecy akan berusaha yang sebaik mungkin”
“Cheecy, Bu Nadin benar. Kamu tidak usah mengikuti lomba ini. Kamu akan sakit terus menerus. Dan kamu adalah ketua Dance terbaik. Papi, Mami dan semua orang selalu puas dengan prestasi mu.”
Ayah membelai rambut ku yang dari tadi sesegukan. Aku tidak mau  meninggalkan Dance. Aku tidak bisa
“Bu, Cheecy mohon. Sekali ini saja. Ibu tau kan, umur Cheecy tidak akan berlangsung lama, apa ibu tega melihat saya berpisah dengan dunia ini ? saya senang dengan hidup saya. Dari kecil, saya sering melihat club Dance yang hebat. Saya ingin, tapi penyakit ini berkata tidak mungkin. Namun saya tau, saya bisa melakukannya selagi itu mampu. Dan sekarang ? dengan penyakit ini, saya mampu bertahan walaupun saya sering letih berlatih Dance. Apa itu tidak cukup pengorbanan saya bu ? bu, saya mohon.  Saya mengabdi di dunia ini untuk hidup dalam dunia Tuhan dan sosialisasi pendidikan. Dan di akhirat nanti, saya mengabdi untuk Tuhan sepenuhnya. Bahkan ibu pun tau, saya sering sakit. Para guru menganjurkan saya membawa handpone jika sewaktu-waktu saya sakit, tapi ? tidak pernah sekalipun saya membawanya. Sekali peraturan, tetap peraturan. Apa ibu tega ? bu, saya mohon saya ingin mengikuti itu. Saya janji, saya akan membawa piala kemenangan untuk sekolah kita”
Tidak ku lanjutkan kata-kataku, semua orang menangis sesegukan karena kata-kataku. Hanya Darrell yang setia di sampingku, menatap ku tanpa memperlihatkan kesedihannya. Walaupun aku tau, dia menangis di dalam hatinya.
“Cheecy, Ibu mohon maaf sekali lagi, ini peraturan sekolah. ibu tetap akan.....”
“Tetap menerima mu di Fiolind Dance. Tunjukkan prestasi mu yang terbaik nak, janji mu selalu bapak pegang. Dan perlihatkan bahwa kamu, Cheecy murid disiplin, pintar, tegar, dan satu kuat”
Di pintu utama terdapat bapak-bapak separuh baya tersenyum dengan menyambung kata-kata Bu Nadin tadi. Ya, dia Pak Slamet. Kepala sekolah ku.
“Pak Slamet”
“Iya Cheecy, kamu tetap mengikuti lomba tersebut. Kami dewan guru telah mendengar pembicaraan kalian di belakang pintu. Ayo Cheecy, kamu siswa paling berprestasi !!”
“Maaf sebelumnya Para Dewan guru, khususnya Pak Slamet. Tapi dia sakit pak, apa dia mampu ?”
Aku tidak dapat menepis rasa bahagiaku. Rasa bersyukur karena selalu di beri Allah perlindungan.
“Pasti Bu Nadin. Cheecy selalu bisa melakukannya. Saya tau, dia anak yang kuat”
Sahabat-sahabat ku pun berteriak dan memelukku. Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan aku untuk meneruskan hidupku kembali. Akan ku buktikan perkataan Pak Slamet tadi. Aku akan terus berusaha, dan tidak membuatnya kecewa. Ya, aku pasti bisa !!
                        *****

                        “Ayo Fiolind Dance !! tinggal 2 club Dance lagi, kita baru memulai di atas panggung besar itu di hadapan entah berapa ribu penonton disini. Siapkan mental masing-masing, karena aku tau ini tidak mudah. Kita sudah tidak berlomba dengan antar provinsi, melainkan negara !! motivasikan diri kita, yakinlah bahwa kita yang terbaik. Aku tau, pasti kalian akan demam panggung begitu juga aku. Namun disana, ada orang tua, guru, kepala sekolah, kekasih, dan kita sahabat selalu bersama. Buat sekolah kita yang terbaik ! tunjukkan itu !! Fiolind Dance !! Latihan kita selama 7 bulan kemarin memang terlampau singkat untuk lomba semacam ini, ini juga karena aku sering sakit, latihan sering di tunda. Lihat orang-orang yang kita sayang, mereka pasti juga harap-harap cemas menunggu kita. Berikan yang terbaik untuk mereka. Patahkan rasa cemas mereka saat melihat Dance kita yang begitu indahnya. Siap Fiolind Dance !!???”
“Siap !!”
Kita pun saling berpelukan dengan menyiapkan mental masing-masing. Dan aku tau, aku berada di paling depan. Aku, akan tunjukkan pada seluruh di Negara, kalau aku wanita kuat.
Next, the serial of 22 Fiolind Dance groups from Senior High School 1 Jakarta from Indonesia”
Sorak sorai gemuruh memekikkan telinga, pembawa acara telah memanggil Fiolind Dance untuk maju kedepan. Rasa gemetar, ragu, senang, was-was, bercampur menjadi satu di hatiku. Kelompokku pun maju di selingi sorak-sorai nama Fiolind Dance, aku pun yakin, ini pembuktian selama ini. Musik campuran Lady Gaga – Paparazi, Lady Gaga – Just Dance, Toxic, dan lainnya tertata dengan apik seperti latihan semula. Ku gerakkan badanku mengikuti irama yang sudah ku hafal sejak 7 bulan yang lalu. Ku lihat Darrell berteriak memanggil namaku. Begitupun orang tuaku, aku tersenyum meyakinkan bahwa aku bisa tanpa ragu sedikitpun. 5 menit telah berlalu Fiolind Dance dengan rasa cemas. Akhirnya selesai juga. Kami pun mengucapkan salam dan mengibarkan spanduk FIOLIND DANCE JUNIOR HIGH SCHOOL 1 JAKARTA !! . Saat berbalik arah menuju ke belakang, tiba-tiba kepala ku terasa pening, apakah aku kecapean karena perjalanan ke Singapura, sering memaksa latihan atau hanya nerveouse. Tiba-tiba semuanya gelap. Aku hanya melihat sesosok manusia baik hati yang datang menemaniku. Mengajakku bermain di tamannya. Aku menolak, karena aku belum berpamitan dengan orang yang ku sayang.
“Maaf ya kak, Cheecy belum berpamitan dengan orang tua Cheecy. Kalau Cheecy sudah mendapat kata boleh pergi, pasti Cheecy akan kesini kembali, bermain dengan kakak. Tunggu Cheecy ya kak, passti Cheecy kembali”
Aku tersadar dan bangun di tempat yang tidak asing bagiku. Di sampingku banyak orang yang melantunkan yassiinn. Aku tidak mengerti maksud ini semua. Ku lirik ada orang tuaku, sahabat-sahabat ku, Pak Slamet, dan Darrell. Mereka menangis tak terkendali.
“Papi, Mami”
Suara lirih menyerbu tenggorokanku. Rasanya sangat tercekat. Mereka semua mendongakkan kepalanya dan dengan cepat memelukku.
“Ada apa Pi, Mi ? apakah Cheecy pinsan lagi ? sudah lah, jangan menangis. Cheecy baik-baik saja”
Aku mencoba tersenyum di hadapan mereka. Aku tak ingin memperlihatkan wajah sedihku, bahkan rasa sakit ini lebih sakit dari yang kurasakan.
“Sayang, kamu tidak pinsan sembarang pinsan. Kamu sudah koma 7 hari. Bahkan dokter sudah menyerah. Hanya berdoa yang dapat kami lakukan”
“Aku sudah koma 7 hari ? maaf ya, aku tidur panjang”
Aku meringis dengan menunjukkan senyuman kesedihanku.
“Cy, ini ada sesuatu untukmu”
Bu Nadin memberiku sebuah benda yang tak asing bagiku. Ya, piala !!
“Piala ? piala apa Bu ? kenapa piala saya di bawa ke sini ?  bukankah semua piala saya berada di kamar saya ?”
“Cy, ini bukan piala seperti biasanya, ini piala kemenangan kita !! Fiolind Dance !! waktu koma, sudah ada pengumuman. Kau tau Cy, kita mendapat juara berapa ?! ke 2 Cy !”
Apa benar ? ya Allah, terimakasih telah mengabulkan doa ku. Aku, seorang yang penuh penyakit dapat menang dan menjadi ketua sebagai juara 2 Dance tingkat Asia !! Tuhan, inikah kebesaran-MU ? terimakasih ya Allah, terimakasih. Aku memeluk semua sahabatku. Tangis bahagia, haru, sedih, semua menjadi pelengkap detik-detik asa ku.
Semua menangis pilu ketika aku sudah tak kuat memegang piala kebanggan ku. Badanku lemah. Aku tersenyum melihat kekasihku yang menangis memegang tangan kecilku, aku begitu mencintainya. Sanggupkah aku meninggalkannya ?
“Mami, Papi, Bu Nadin, Pak Slamet, Sahabat-sahabatku, dan khususnya Darrell, aku mau minta maaf atas segala kesalahanku. Aku juga mau berterimakasih atas dukungannya selama ini. Berkat kalian, aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku tidak bisa mengucapkan bagaimana bahagianya aku. Terimakasih. Aku hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal. Mata ku lelah, aku ingin tidur kembali”
“Cy, kamu itu ngomong apa ? Mami tidak mau kamu harus meninggalkan kita”
“Mami, Mami tau kan kalau Cheecy sayang Mami ? Mi, Cheecy lelah”
“Sayang, kuat ya”
Ku teteskan air mata perlahan membasahi wajah pucatku. Ku anggukkan kepala ku sejenak kepada Darrell.
“Semuanya, aku ingin tidur kembali. Aku sudah ingin pergi ke Taman Indah lagi. Untuk Mami dan Papi, terimakasih sudah menjadi orang tua terbaik untuk Cheecy. Untuk Darrell, aku selalu mencintai mu sampai kita bertemu kembali dan untuk semua terimakasih, tanpa kalian hidupku tak berarti. Aku selalu menyayangi kalian”
Ku tutup mataku perlahan dengan dekapan tangan Darrell yang menemaniku. Entah, apakah aku sudah meninggal atau belum. Yang kurasa hanya tangisan, teriakan, tertekan, dan rasa sakit dalam tubuhku.
Pppiiippp, pppiiiipppp, ccciiittt, ppppiiippp pppiiippp, ccciiiittt
Hanya itu yang melekat di telingaku. Suara alat dokter. Entah apa itu.
Dan kata dokter, sisa umur ku 15 % lagi.
Jika aku meninggal, akan ku usap satu persatu tangisan itu walau lewat mimpi, namun jika Tuhan belum mau menjemputku, aku akan membalas kebaikan mereka semua dengan senyuman
           
            TAMAT

 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez