Kkkrrrriiinnnggg,
kkkrrrrriinngg, kkkrrriinnngg.
Jam weker unguku
berdering. Membangunkanku dari tidur semalam. Dari mimpi buruk yang mengawali
gerimis pagi ini. Aku menyeruak dibalik selimut unguku, dingin masih merayap di
badan. Teringat jelas semua ini. Ah, tidak perlu kumembayangkannya lagi.
“Bi, Ayah dan Bunda di
mana?”
Mataku masih sembab akibat menangis semalam. Masih
merah dan membengkak. Kurasa Bibipun mengetahui hal tersebut.
“Oh, kalau Nyonya baru sarapan di bawah neng. Kalau Tuan, sepertinya sudah
bekerja. Mungkin karena tergesa-gesa, jadi tidak sempat sarapan bersama neng
Asha. Pagi ini tuan akan ke Singapura,
katanya ada meeting mendadak”
Ah, bosan! Mengapa
aku jarang bertemu Ayah? Aku kangen Ayah, tapi Ayah selalu tidak di rumah.
Memang, rumahku cukup besar dan aku memiliki banyak fasilitas di sini. Bahkan kelak
ini akan menjadi rumahku. Aku dilahirkan dari keluarga yang kaya. Ayahku direktur
bank internasional, Bundaku pemilik perusahaan asing, dan Kak Morgan kakakku
adalah seorang yang cukup pintar di sekolahnya. Saat beranjak dewasa, aku
merasa tidak ada yang menanggapku lagi. Semua orang sibuk. Sejak kepergian Kak
Morgan untuk bersekolah di Amerika, aku merasa sendiri.
“Hai Bunda”
“Hai sayang! Sudah bangun ya, ayo sarapan dengan Bunda”
Senyumannya
mengawali hari burukku. Senyuman yang kunanti-nanti dari dulu, akhirnya datang menyambutku.
“Tumben, Bunda di rumah. Biasanya
kalau Asha dari bangun sampai tidur tidak pernah bertemu. Bunda kan sibuk dengan
pekerjaan Bunda, sampai-sampai lupa dengan
anaknya”
Bunda menatap ku dalam, namun aku tidak berani
untuk menatap bola matanya. Apakah dia marah? Atau …..
“Sayang, Bunda tahu kamu kesepian. Maafkan Bunda ya, Bunda janji minggu depan
Ayah, Bunda dengan Kak Morgan akan di rumah. Kita akan berkumpul bersama”
“Benar Bunda? Bunda serius?”
“Serius sayang”
Tidak kurasa,
kata-kata itu muncul dari bibir Bunda. Kupeluk Bunda dan kuucapkan
terimakasih. Sejenak, pandangan kosong
pun berubah menjadi harapan yang akan datang.
******
Ini pertama kalinya aku berada
di SMA Xuneius, Bandung. Sebenarnya, berat harus meninggalkan sahabat-sahabatku
di Jakarta. Tetapi aku juga tidak bisa memaksa untuk tetap di Jakarta. Ayah
harus tinggal di Bandung. Terpaksa kami
sekeluarga harus ikut di Bandung. Toh, di Bandung pun aku tidak rugi aku tetap
bebas. Aku tetap bisa jalan-jalan dengan mobil ungu kesayangannku. Aku tetap
bisa pergi dengan temanku. Tidak ada yang mengekangku, semua terserah apa mauku.
Mobilku terhenti di Gerbang SMA Xuneius. Terpampang jelas gerbang berwarna emas
itu dan waw ! SMA ini lumayan besar. Dengan arsitektur modern bertingkat 4. Halamannya
lumayan bersih dan luas. Rumput-rumput itu terpotong rapi berjajar. Ada juga semacam bonsai yang dibentuk indah serta
dipotong membentuk tulisan SMA Xuneius. Mungkin aku akan betah di sini.
Entahlah, semua tergantung keinginanku. Ada juga pahatan-pahatan bentuk
arsitektur SMA Xuneius. Menarik, lantai
mushollanya juga bersih sekali, sejuk.
Kualihkan pandanganku sejenak dan kuparkirkan mobilku di parkiran samping
lapangan basket. Rata-rata di sini anak orang kaya. Aku bisa berfikiran begitu
karena mereka sebagian besar naik mobil atau motor keren dan sebangsanya.
Entahlah tidak terlalu penting bagiku. Hari ini, akanku mulai hariku beranjak
di SMA, di kota lain. Di sini aku harus merubah sifat burukku. Aku selalu iri
jika seseorang bisa menyaingiku. Aku tidak suka itu. Maka di sinilah, aku harus
merubah image burukku. Fantastic!
Kutelusuri lorong SMA ini,
cantik. Aku berhenti di kelas X A dan ternyata pelajaran hampir dimulai. Semua
mata tertuju padaku. Mungkin mereka merasa ada yang asing, karena mereka baru
melihatku. Aku segera duduk di bangku kosong di samping perempuan yang berparas
cantik, putih, tinggi, dan lucu. Dia tersenyum, dan aku membalasnya.
“Pagi anak-anak”
“Pagi Bu”
Kulepaskan
pandanganku ke guru itu, mungkin umurnya masih sekitar 30-an, dengan style yang lumayan cantik, berbalut rok
ungu dan jas ungu yang berpadu padan menarik.
“Nama saya Nurinta, saya mengajar bahasa Jepang di sini. Ada sebagian murid
yang sudah kenal saya kan ? Tetapi ada murid baru pindahan di sini. Silahkan Asha,
bisa berdiri di depan, dan perkenalkan dirimu”
Dengan malu-malu, akupun menlangkah ke depan kelas dan memandang satu
persatu wajah teman-teman baruku. Kebetulan aku memang cukup pandai dalam
Bahasa Jepang dan kuperkenalkan diriku dengan Bahasa Jepang.
“Konichiwa yujin” ( Hai teman-teman )
“Konichiwa yuko o” ( Hai juga )
Jawab mereka
serempak.
“Watashi no namae wa Pasha Anndyta Jihan. Anata wa watashi Asha. Yobidasu
koto ga dekimasu. Watashi wa shuto Tunas Harapan 1 Jakarta. No izure ka o
negatte imasu. Watashi wa, jutako no burokku bango Andryta 14 ni sunde iru.
Watashi no chici wa, bandon ni aru jobu o henko shitanode, watashi wa koko ni
ido. Watashi no sumi wa suiei to katsudo shite iru. Watashi no shokai no yo ni
oku no. Dare mo watashi nitsuite no shosai o shitsumon shiyou to suru baai,
Watashi to issho ni jibun, jishin ni toute kudasai. Watashi wa anata-tachi kara
no shitsumon ni kotaeru jinbi ga dekite imasu. Kansha”
( Nama saya Pasha Anndyta Jihan, kalian bisa
panggil saya Asha. Saya dari SMP Tunas Harapan 1 Jakarta. Saya tinggal di Perumahan
Andryta blok A no 14. Saya pindah ke sini karena Ayah saya pindah kerja di
Bandung. Hobby saya renang dan main acting.
Sekian perkenalan dari saya, jika ada yang mau bertanya lebih jauh tentang saya,
silahkan bertanya pada jam istirahat. Saya siap menjawab pertanyaan dari
kalian. Terimakasih )
Kupandangi satu persatu wajah teman baruku. Sebagian dari mereka mungkin
hanya mengandalkan style, atau hanya dianggap
ajang kecantikan. Menurutku, aku turut memperhatikan style, tetapi sekolah bukanlah ajang untuk bergaya. Seperti di
Singapura, di sebuah tempat untuk menuntut ilmu mereka tak pandang bulu. Ada
yang memakai celana rumah, kaos, dan hot
plant. Bahkan, untuk mengerjakan tugas bersama walaupun berlawan jenis,
mereka di sana biasa saja di anggap teman, bukan seperti disini, ngobrol atau
berjalan bareng saja dianggap ada hubungan yang spesial. Aku tak mengerti jalan pikiran
anak di sini. Bu Nurinta pun membuyarkan lamunanku, beliau menyuruhku untuk
kembali ke tempat. Aku kembali ke bangkuku. Pelajaran pertama di Bandung, resmi
kumulai .........
******
Ternyata , temanku yang satu
bangku denganku bernama Lyli. Dia tinggi, cantik, putih, humoris, dan terutama
baik hati. Baru kenal 20 menit yang lalu saja aku selalu terpingkal-pingkal jika ngobrol
dengan dia, semoga saja dia bisa menjadi sahabatku di Bandung ini. Saatnya
istirahat, aku dan Lyli menuju kantin sekolah. Aku juga diajak Lyli berkeliling
SMA ini dan sudah kuduga, sekolah ini memang indah. Dibagian belakang ada taman
yang menyerupai green house. Ada
bangku panjang yang di letakkan di bawah naungan pohon akasia, teduh sekali. Banyak
warna-warni bunga yang berwarna ungu disana. Apakah bangunan ini habis
direnovasi, catnya terlihat masih baru. Bangunannya juga bagus. Aku akan nyaman
disini. Seluruh ruangan bahkan di toiletnya pun bersih. Tak sia-sia aku pindah ke
Paris Van Java ini. Udara disini juga cukup segar. Tidak seperti di Jakarta, penuh
polusi. Di Bandung juga sering melakukan penanaman pohon . Dan itu sangat tepat
untuk mengurangi global warming. pengetahuanku cukup luas tentang Bandung dalam
5 hari ini.
“Yuk, duduk di
bawah pohon itu saja, pesan makanan”
Ajak Lyli sambil menarik tanganku.
“Iya Lyli , sabar dong”
“Bu Kantin !”
Teriak Lyli
memanggil Ibu yang menjaga Kantin SMA Xuneius.
“Iya neng , mau pesen apa ?”
“Oh , kalau aku mau pesen bakso aja, minumnya
juice alpukat. Kalau kamu apa Sha ?”
..........................(
hening )..................................
“Hello ? Sha ?”
Lyli membuyarkan lamunanku.
“Oh ya Ly, ada apa ?”
“Ngelamunnin apa
sih ? mau pesen apa ?”
Lyli sepertinya heran, aku seperti tidak conect waktu itu.
“Emm, aku pesan
kentang goreng dan minumnya juice melon saja deh” Kataku dengan meyakinkan Lyli
tidak terjadi apa-apa.
“Sha, ada apa sih ? cerita dong sama aku”
Mata Lyli menatapku
dalam. Ada rasa keingintahuan tentang aku.
“Lyli, aku tidak
ngalamunin apa-apa kok”
“Sha, please”
Aku tak bisa
mengelak. Dia menyuruhku untuk bercerita. Dengan terpaksa aku akan bercerita. Jujur,
aku tak ingin menceritakan masalahku ini ke orang yang baru saja ku kenal.
Tapi, bagaimana lagi dialah satu-satunya teman yang dekat dengan ku di Bandung
ini. Matanya memancar menatapku tajam. Sepertinya dia siap untuk mendengarkan
ceritaku. Aku tak tega membuat dia menunggu lama. Aku diam sejenak untuk
mengatur nafas, dialah satu-satunya orang yang tau masalahku di Bandung ini.
“Jadi begini Ly,
aku memiliki masalah yang berat. Amat sangat berat. Sampai 2 minggu ini, aku
susah tidur karena memikirkan masalah ini. Ada yang mengganjal dihatiku”
Aku hela nafas
ku sekali lagi dan dia masih setia mendengarkan curhatku.
“Aku memiliki
beberapa masalah yang tidak bisa ku atasi”
Pembicaraanku
terhenti karena hidangan kami telah datang. Kutatap matanya, dia tak menyentuh
makanannya sedikitpun. Dia masih seperti tadi tanpa bergerak sedikitpun. Dia
antusias mendengarkan cerita ku, dan ku lanjutkan ceritaku karena mungkin dia
ingin mengenal aku lebih dalam.
“Masalahku yang pertama,
Aku kehilangan seorang kekasih bernama Aryo, dia selingkuh dengan sahabatku,
Lyani. Sampai saat ini aku masih encintainya, namun harus ku pendam dalam hati.
Padahal aku sangat mencintainya. Masalahku yang ke 2, adalah kejujuran. Aku ....
Aku pernah mencuri kunci laci meja Kepsek, agar Kepsek tidak bisa membuka laci
mejanya. Aku mempunyai masalah waktu SMP, sewaktu itu aku pernah ketahuan
merokok. Tapi sumpah pertama kali coba, aku tak mengetahui apa itu. Aku hanya diajak
temanku untuk mencobanya, aku bebas dirumah. Tidak ada yang mengekangku. Dari
sanalah aku mencoba-coba, Kepsek tau dari temanku. Beliau menggeledah tasku dan
menemukan 2 batang rokok. Beliau menyita rokok itu sebagai bukti tuk diserahkan
kepada orang tuaku. Aku tidak ingin mereka tau, aku malu. Aku juga tidak mau
membuat mereka sedih. Maka dari itu, aku mencuri kunci laci beliau agar tak
bisa membuktikan. Dan, aku masih merasa bersalah hingga hari ini. Kamu tau kan,
bagaimana perasaanku ? Aku tak kuat lagi. Apa yang ku lakukan semua tak berguna”
Mulut Lyli bergerak perlahan seperti akan mengatakan sesuatu. Panas juga
pantatku duduk serius dari tadi. Dan mungkin makananku telah dingin. Aku tidak
menghiraukan itu.
“Asha, aku tau
bagaimana perasaanmu. Walaupun baru 4 jam aku mengenal mu, tapi aku tau kamu
itu perempuan tegar. Menurutku cukup banyak dan cukup berat masalahmu tadi
untuk anak SMA. Kau hanya di beri Tuhan cobaan. Kau tau sobat, Tuhan tidak akan
memberikan cobaan kepada umatnya yang melebihi batas kemampuannya. Kau hanya
berada di kebingungan sementara. Sekarang kau tidak lagi di SMP Asha, kamu sudah
SMA. Lupakan itu semua. Menurutku masalahmu tadi banyak jalan keluarnya. Yang
pertama, soal kekasihmu. Ayo Sha, dia kamu itu cantik, baik, pintar, banyak
yang suka denganmu. Kamu pasti dapat menemukan yang lebih baik dari Aryo. Itu membuktikan
bahwa dia bukan laki-laki yang setia.tidak usah perdulikan dia. Suatu hari
nanti, dia pasti sadar apa yang dia
perbuat. Yang ke 2, lebih baik kamu mengaku saja. Minta maaf lah dengan Kepsek
SMP mu. Lakukan yang ingin kamu lakukan selagi itu positif . Banyak hal yang
bisa kamu lakukan disini. Aku akan membantumu selagi aku mampu. Aku selalu
disisimu. Bagaimana cantik ? setuju ?”
Di ulurkannya
kelingking manisnya di hadapanku , dan ku gapai kelingking itu
“Setuju Lyli, makasih
ya, eh ayo dong dimakan. Keburu dingin. Kalau Aku lapar nanti aku kering
kerontang bertandus lagi ”
Ku cairkan suasana tadi dengan gurau, semoga
yang dikatakan Lyli akan menjadi motivasiku d sini.
******
● Hallo Para Siswa
!! Ada Drama Musical Putra Putri Xuneius lho ! Untuk Ajang Pementasan Pensi .
Ayo Daftarkan Dirimu Di Sekretaris Osis Paling Lambat tanggal 5 Agustus !!
Tunjukan Aksimu Lewat Gayamu ●
Panitia
Ketua Osis
“Lyli !”
Dia menoleh
kepadaku. Dia menghampiriku dengan 2 pita di rambutnya. Lucu juga menurutku.
“Kamu liat tidak
? pengumuman ini ?”
Aku menunjuk
pengumuman itu. Dia menyeruak tanganku dan terdiam membacanya.
“Wah, kamu kan
hobi banget maen akting, ikutan sana ! siapa tau bisa masuk”
“Aku ikut kalau kamu ikut”
Aku berjalan
menyusuri lorong kelas ku. Teman-teman
sudah menyapaku. Aku duduk di bangku samping Lyli.
“Wah, aku tidak
bisa main akting ! percuma aku ikut. Pasti kalah”
“Lyli, jangan pesimis dulu. Pokoknya kamu
harus ikut ! aku daftarkan kamu di Sekretaris OSIS”
Dengan sedikit
paksaan akhirnya Lyli mau juga. Aku tak perlu kesepian saat audisi itu. Ada
Lyli sahabatku.
******
Audisi hampir dimulai. Aku
melihat kurang lebih 88 siswa yang berminat mengikuti audisi ini. Aku semakin
antusias. Aku mendapat nomor dada 3 dan Lyli 4. Dengan berbekal pengalaman
akting ku yang dulu, aku siap mengikutinya dan semoga saja aku dapat masuk
untuk mengisi pensi. Aku melihat mimik muka para peserta yang lain. Sebagian
dari mereka pucat. Mungkin demam
panggung. Peserta ke 2 telah selesai. Saatnya aku memberikan yang terbaik. Aku
mulai gugup. Tanganku sudah dingin.
“Semangat Asha !
tunjukkan kamu yang terbaik !”
Kata-kata itu
menjadi motivasi ku. Ya , aku yang terbaik. Aku mulai di atas panggung dan
memberikan hormat kepada dewan juri. Aku meragakan sebagai Cinderella. Tepuk
gemuruh bergetar di ruangan itu setelah aku selesai. Aku tersenyum dan aku
yakin . Hanya aku yang masuk jadi pemain utama !
“Nomor dada 4 ..
Lyliani Sarah Cardyna”
Dewan juri sudah memanggil nama Lyli. Mukanya
juga merah. Selama aku melihat akting nya, aku rasa lebih bagus aktingku. Tepuk
tangan pun tak ada hingga dia selesai. Aku semakin yakin aku adalah pemeran
terbaik. Tak ada yang pantas. Hanya aku.
******
Setelah menunggu selama 2 hari, pengumuman
yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga. Aku sangat siap mendengarnya, kalian
tau kenapa ? aku tau, aku yang berhasil.
“Ly, aku gugup”
“Tidak perlu gugup Asha, kamu pasti terpilih,
percayalah”
“Semoga kau benar Ly”
Aku semakin erat
menggenggam tangannya . Padahal waktu itu ruangan tak ber-AC. Kulihat
pengumuman itu. Ku cari namaku dan .... Astaga ! aku tak terpilih sama sekali !
dan yang lebih membuatku shock, Lyli.
Lyli sahabatku menjadi pemeran utama ! aku berlari meninggalkan Lyli yang saat
itu juga tertegun mengapa dia bisa menjadi pemeran utama. Padahal dia tak bisa
akting sama sekali. Aku yang mengajarkannya. Mengapa aku kalah dengannya ? aku
tak habis pikir dengan dewan juri ! tak adil ! aku yang berhak ! bukan Lyli !
aku benci !
******
Tok tok ,, tok tok ,,
“Masuk, tidak di kunci”
Kata ku di balik pintu kamarku. Aku masih
sedih dengan kejadian tadi siang.
“Neng, ada temannya eneng di luar”
Bibi masuk
perlahan ke kamarku. Temanku ? siapa ? apa temanku dari jakarta ?
“Eemmpp Bi, teman ku siapa ?”
Tanya ku
keheranan. Maklum, sejak pindah kesini tak ada temanku yang berkunjung
kerumahku.
“Anak nya
tinggi, putih, cantik non. Namanya siapa ya .. eemmpp .. li li, siapa ya
non”
“Lyli ?!”
Aku tersentak. Apa
mungkin Lyli ? lalu apa tujuan dia kerumahku ?
“Iya non !
namanya Lyli”
Jawab bibi
setelah ingat nama Lyli.
“Tanya, untuk
apa dia kesini. Untuk mencemooh aku karena aku tak lolos audisi. Atau hanya
ingin pamer”
Aku kembali
memainkan i-phone ku. Peduli banget sama Lyli. Dia udah hancurin harapanku.
“Sha, ini aku Lyli. Aku mau ngomong”
Terdengar suara di balik pintu kamarku. Suara
itu tak asing. Lyli. Aku baru sadar kalau aku pernah memberinya alamat rumahku.
Tak heran dia mengetahui rumahku.
“Buat apa kamu kesini?!”
“Sha, please
aku mau ngomong”
Aku mulai membukakan pintu kamarku dan
menyuruhnya masuk.
“Ada apa?”
Sebenarnya
canggung berbicara ketus seperti ini. Apalagi dengan sahabatku sendiri. Tapi
aku terlampau kesal.
“Aku tau, kamu
kecewa tidak jadi pemeran disitu. Dan aku tau kamu pasti sangat terpukul
mengetahui aku terpilih. Ini juga diluar dugaanku Sha. Aku sengaja mengundurkan
diri. Aku tak mau menyakiti mu”
Kata-kata itu
terlontar dari bibir Lyli.
“Sungguh ?”
“Iya sha”
Aku memeluknya erat. Aku sangat beruntung
memiliki sahabat seperti dia.
“Tapi Ly, aku masih benci aku tak terpilih.
Aku akan membatalkan acara itu. Aku tak suka kalau itu bukan aku yang
memerankan !”
“Sha, itu tidak baik !”
Lyli terkejut dengan ucapanku. Ya memang, aku
benci pensi itu. Aku yang akan menghancurkan. Sekali aku benci, tetap benci.
******
‘Hhmmpp, aku harus mulai
menjalankan misi ini. Aku akan hancurkan semua’
aku bergumam
dalam hati. Acara telah dimulai. Semua penonton memenuhi tempat duduk.
‘Yeah, aku
berhasil menyusup di dalam ruang kostum. Dengan api ini, aku bisa aja
menghanguskan semuanya. Sebenarnya aku tak ingin membuat keributan. Tapi sayang,
bukan aku yang dipilih untuk memeriahkan pensi ini, jadi sebentar lagi akan
hancur. Ups, api nya jatuh. Selamat bersenang-senang’
Aku beranjak
dari tempat itu dan menyusup keluar. Api berkobar dan dalam sekejap telah
musnah. Aku tertawa kecil melihatnya.
******
“Sha, yang menyebabkan kebakaran kamu kan ?”
Lyli bertanya padaku. Dengan enteng pula aku
menjawab ya.
“Gila kamu itu.
Kalau kepsek tau bagaimana ?! hancur hidupmu !”
“Sha ! kamu di
panggil kepsek !”
teriak Marsha di belakang pintu BP. Aku gugup.
Apakah aku ketahuan ? tapi tak ada orang di ruang make up dan tempat kostum itu
selain aku. Dengan tenang aku menemui kepala sekolah itu.
“Selamat siang
pak, bapak memanggil saya?”
Aku memasuki ruangan kepsek. Ngeri juga waktu
inget kejadian waktu SMP.
“Ya, saya memanggil kamu. Saya tau, kamu yang
menyebabkan ruang pensi kebakaran kan !”
Apa ? kepsek tau
? mati deh riwayatku. Dari mana dia tau ?
“Maaf pak sebelumnya, dari mana bapak bisa
memvonis saya seperti itu ? apa bapak punya bukti ?”
Ku beranikan aku mengelak dan bersikap tak ada
kesalahan.
“Ini”
Astaga !
ternyata di ruangan itu ada CCTV ! dan tak terbakar ! aku tak tau apa yang
harus ku lakukan. Banyak saksi disitu.
“Maaf pak, saya
jujur memang saya. Saya iri pak melihat
saya tidak terpilih dalam audisi tersebut. Maafkan saya pak”
“Ini kesalahan
fatal Asha. Pihak sekolah rugi besar. Saya tetap memberimu hukuman”
“Maafkan saya
pak, saya khilaf”
Ku titik kan air
mata disitu. Aku tak habis pikir akan terjadi seperti ini.
“Saya hanya ada
2 pilihan Asha. Kamu boleh memilihnya”
“Apa itu pak ?”
“Keluar dari
sekolah ini atau setiap hari membersihkan ruangan pensi sampai kamu lulus !!
TAMAT
