Rabu, 06 Februari 2013

Lembaran Sendu Tak Berujung

Diposting oleh Unknown di 00.09


        “Ah, sudah pukul enam pagi. Bisa terlambat ke sekolah aku”
          Kutepuk dahiku.
Capek juga seharian membersihkan kamar. Banyak sekali debu yang menumpuk.
          Ppplllaaakkk !
Kuamati ada sesuatu benda yang terjatuh. Surat ungu berpita pink.
       
Vivi sayang, jika Bunda sudah tidur untuk selama-lamanya, jangan pernah berfikir Bunda jahat. Karena apa ? Bunda tertidur untuk keabadian menjaga Vivi. Vivi sayang kan dengan Bunda ? memang, Vivi tak akan pernah lagi melihat Bunda. Itu karena Bunda dihati Vivi. Jaga Ayah dan Kak Sisi ya, jangan kecewakan mereka. Bunda sayang Vivi, Ayah,dan Sisi. I Love you.
                                                                Salam Cinta
                                                                Bunda

Dua bulan  sudah selembar kertas ini berada di kamarku.teringat tepatnya 4 Februari lalu saat truk menabrakku bersama Bunda di dalam mobil yang kami kendarai. Beruntung bagikiu karena Tuhan masih mengijinkanku untuk tetap hidup walau kata dokter aku kehilangan satu ginjalku. Ginjalku pecah. Aku tak tau mampu sampai kapan aku hidup dengan satu ginjal ini. Naas bagi Bunda, ia harus meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku berharap, setelah kejadian ini tak ada lagi masalah dalam hidupku. Namun Tuhan berkata lain. Masalah terus muncul menggerogoti hati dan pikiranku.
Kutemukan sebuah album saat aku bersama Bunda. Teringat kembali olehku. Saat itu, aku yang duduk di sebelah Bunda........
“Bunda tadi belanja apa ?”
Bunda tersenyum, aku lupa untuk tidak mengobrol dengan Bunda saat ia menyetir. Akupun ikut tersenyum. Teringat saat itu, apakah Bunda sudah membelikanku kaus kaki atau belum. Kuberanikan diri untuk bertanya dengan Bunda kembali.
“Bunda, apakah Bunda sudah membelikanku kaus kaki ?”
“Entahlah sayang, coba cari”
Akupun menghadap ke belakang dan mencari kaus kaki. Tak kutemukan.
“Di mana Bunda ? tak ada”
Bunda pun ikut menengok ke belakang memastikan diplastik mana kaus kakiku.
“Bbbbuunnnddaa !! aawwaass ttrruuuukk !!”
Ccciiittt. Cahaya putih seperti menorobos tubuhku. Pertama, yang kurasakan denyutan nadiku hampir berhenti. Kedua, kurasakan pula benturan keras mengenai kaki dan kepalaku. Setelah itu dalam mimpiku aku melangkah di dalam ruangan gelap tak berujung. Aku berteriak memanggil Bunda dan Kak Sisi. Aku menangis di sudut pintu yang entah keberapa ribu kubuka.
“Sayang, mengapa menangis ?”
“Bunda !!”
Akupun memeluk Bunda. Tak lama berselang, Bunda melepaskan pelukanku. “Mengapa Bunda melepaskan pelukan Vivi ?”
Bunda terseenyum dan berkata “ Bangunlah sayang, kau akan tau apa yang terjadi. Ayo sayang, Bunda antar. Bangun sayang”
Kepalaku terasa pening. Terlebih saat aku mengetahui berada di rumah sakit. Ttookk, tookk, tookk. Ketukan pintu itu membuyarkan lamunanku. Sungguh tragis jika terus diingat. Kubuka pintu kamarku. Terlihat jelas wajah sayu orang yang sharusnya kupanggil “AYAH”. Dia memang Ayahku. Ayah yang membesarkanku, dan menjagaku dari kecil. Dialah sosok idolaku saat kecil. Namun dia sendiri yang membuatku sebelah mata melihatnya.
          “Mengapa ? ada apa lagi ?”
Aku memang tak suka dengan orang ini. Saat umurku 12 tahun, kulihat ia bersama wanita lain yang bukan Bundaku. 5 tahun sudah ia tak pernah pulang ke rumah. Itu membuatku, Bunda, dan Kak Sisi frustasi. 5 tahun itupun kami belajar melupakan sosok Ayah. Tiba-tiba, kami mendengar berita bahwa Ayah tertimpa bangunan saat ia bekerja. Itu membuatnya kaki nya patah. Ia juga telah ditinggal kekasihnya karena ia sudah tak kaya. Dengan senang hati Bunda mau menerima Ayah lagi. Namun aku tak seperti Bunda. Aku gila karena Ayah.
“Mau sarapan apa pagi ini ?” tanya Ayah.
“Sejak kapan kau peduli denganku ?”
Ia tersentum dan berkata “Mau sarapan apa ?”
Ah, itu senyum palsu.ia hanya ingin mengambil hatiku. Tak kujawab pertanyaannya. Kututup pintu dengan keras. Dduuuaaarr !
“Sayang, Ayah bertanya ! mengapa tak kau jawab ?”
“sejak kapan kau peduli denganku ? sejak kapan kau menyayangiku, Bunda, dan Kak Sisi ? Urusi perempuan itu ! aku bukan siapa-siapamu !”
Aku menangis sejadi-jadinya.
“Baiklah.” Jawab Ayah
“Jika kau berkata begitu, aku tak melarangmu tuk membenciku. Aku memang salah. Salah besar ! tapi aku khilaf nak. Kumohon, akusudah tak dapat membahagiakan Bunda kalian. Ijinkan Ayah membahagiakan anak-anak Ayah. Tenangkanlah dirimu sayang”
Terdengar alat bantu berjalannya menuruni anak tangga. Aku tak kuat dengan semua ini.
          Aku telah sampai di sekolah. Selalu saja telat jika harus bertengkar dengan Ayah terlebih dahulu.
“Pagi Bu, maaf saya terlambat”
“Lain kali kamu terlambat lagi, awas kamu !”
Kuanggukkan kepalaku dan akupun ke tempat dudukku.
“Kok telat lagi ?” tanya temanku
“Berantem” jawabku singkat
          Bel istirahat berbunyi. Aku menuju kantin. Sejak pagi aku belum sarapan. Kutengok dompetku. Masih tersisa dua puluh ribu. Kuambil handphoneku dan segera menelfon Kak Sisi untuk membawakan makanan.
“Halo kak”
“Iya, halo dek. Ada apa ?” jawab Kak Sisi disebrang telefon.
“Bawain adek bekal dong. Uang adek habis nih.”
“Iya-iya,bawel ah adek kakak ini.ok, tunggu ya 20 menitan”
“Makasih sayang Sisi”
Kututup handphoneku.
“Hai Vivi”
Kutoleh siapa yang memegang pundakku. Bermata sipit, berhidung mancung, dan berkulit sawo matang. Febrian. Kakak kelasku seorang atlit renang.
“Oh hai kak ada apa ?”
“Tak ada apa-apa. Kulihat kamu sendirian, jadi aku temani deh” jawabnya.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ngomong-ngomong, kamu nungguin siapa ?”
Orang ini perhatian sekali, tak salah aku menganggap kakak kelas spesial.
“Kakakku. Dia mau mengantar bekal untuk makan siangku”
Kulanjutkan mengobrol dengannya. orangnya asik juga. Enak diajak ngobrol. Pembicaraan kami pun terhenti karena terlihat sosok lelaki pincang membawa kotak makan ungu. Kuusap mataku dan berharap lelaki itu hilang. Namun semakin lama, lelaki yang ternyata Ayahku itu semakin dekat. Mau ditaruh dimana mukaku. Disitu ada Febrian seorang yang spesial untukku. Aku menyuruh Kak Sisi, mengapa yang datang malah Ayah !
“Ehm kak, maaf tiba-tiba perutku sakit. Aku harus pergi sekarang”
Saat aku akan meninggalkan Febrian, Ayah tiba-tiba memanggilku.
“Vivi ! kemari nak. Ini Ayah bawakan bekal”
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan !
“Vi, itu siapamu ?” Tanya Kak Febrian. Aku menggelengkan kepala. Aku malu memiliki Ayah yang cacat dan tukang selingkuh. Aku bingung, dalam keadaan terdesak seperti ini, aku harus mengutamakan Ayah atau reputasiku.
“Eeehhhmm, siapa kau ?”
Aku mencoba berpura-pura tak mengenalnya. Dorongan kebencianku terus menghasutku untuk terus mengusirnya.
“Vivi ! ada apa denganmu ? kau tak mengenaliku ?”
“Tidak ! aku tak pernah memiliki Ayah ! aku hanya memiliki Bunda dan Kak Sisi ! Bunda adalah orang tuaku satu-satunya yang telah meninggalkanku !”
Tak dapat kutahan tangisku. Aku tau aku salah. Aku tau aku berdosa. Tapi ini adalah aku. Vivi Meisandra. Selalu benci terhadap orang yang membuatku hancur.
“Vivi ! dengar Ayah ! selama ini kamu boleh menghina Ayah, mencacimaki Ayah ! Ayah tau, Ayah salah selama ini. Ayah membuat kalian hancur ! tapi Ayah khilaf. Ayah sadar Ayah salah. Maafkan Ayah.”
Ayah menghela nafasnya, kemudian melanjutkan kembali
“Vivi boleh tak menyayangi Ayah. Ayah rela. Tapi Ayah mohon, maafkan Ayah”
Tak kujawab permintaan Ayah. Aku ingin kembali ke kelas. Namun sayang, truk bangunan menghantamku. Sekolahku memang sedang membangun musholla. Tak terasa lagi sakit ini. Sangat perih.
          Kubuka mataku perlahan. Dengan jelas kulihat hanya Kak Sisi yang menemaniku. Dimana Ayah ?
“Kak”
“Adik ! kamu sudah bangun ! Terimakasih Tuhan ! Kau masih mengijinkanku memiliki teman hidup”
Kulihat butiran air menetes dari mata Kak Sisi. Mengapa ia menangis ? seingatku, bukankan aku hanya pinsan beberapa jam saja setelah tabrakan itu ?
“Kak, mengapa menangis ?”
Dipeluknya tubuhku. Aku tau aku ia sangat menyayangiku. Maka tak heran jika ia memelukku. Namun ini lain, pelukannya mengisyaratkan sesuatu.
“Ada apa kak ? eemm, mana Ayah ?”
Entah apa yang merasuki jiwaku sehingga aku sangat ingin bertemu Ayah. Aku sangat ingin meminta maaf kepadanya. Aku tau selama ini tak ada manusia yang sempurna. Aku tau ia sangat menyayangiku. Aku ingin memeluknya.
“Ayaahh.. Ayyaahh beradaa di UGD sayang”
“Hah ? mengapa Kak ? Ayah sakit apa ?”
Tak dijawabnya pertanyaanku. Diambilnya DVD dan diputarkannya sosok Ayah yang sangat lemah berbaring di UGD.
“Sayangku, jika kamu menonton video ini, berarti kamu sudah siuman. Ayah sangat senang jika kamu sudah baik. Ayah hanya ingin menungkapkan sesuatu nak. Kamu kemarin tertabrak truk dan mengakibatkan ginjalmu satu-satunya rusak. Butuh seseorang yang rela mendonorkan ginjalnya. Ayah tau, Ayah sangat mencintaimu. Ayah rela mendonorkan satu ginjal Ayah untukmu. Jaga ginjal Ayah baik-baik ya. Ayah saat ini baik-baik saja di UGD. Ayah sangat ingin bertemu denganmu. Namun dokter melarang Ayah karena kondisi Ayah sangat lemah dan tak memungkinkan keluar dari ruangan ini. Maka, Ayah mohon Vivi. Ayah mohhooonn sekali. Jika Vivi sudah benar-benar baik, datanglah kemari. Ayah ingin bertemu denganmu. Ayah mohon Vi. Baiklah, Ayah sudah ngantuk. Semoga amanat Ayah tetap Vivi patuhi ya. Ayah sayang Vivi dan Sisi”
Video berdurasi 5 menit tersebut telah menguras seluruh air mataku. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain menemuinya. Aku ingin meminta maaf sebelum semua terlambat. Aku ingin bersamanya dan Kak Sisi. Aku tak mau kehilangannya. Dia pahlawan untukku. Aku tak ingin menjadi yatim piatu.
“Kak Sisi, bawa Vivi menemui Ayah”
“Iya Vi, pasti”
          Kulihat dari balik kaca Ayah terbaring lemah. Ku dekati dia dan terlihat wajah pucat menghiasi nya.
“Ayaah, bangun yaah. Ini Vivi”
Kupegang tangannya. Dingin. Kuteteskan air mata ditangannya. Pengalaman masa lalu tergambar jelas saat itu juga.
“Vivi ! kamu mau menjenguk Ayah ?”
Dipeluknya tubuhku. Pelukan yang hampir kulupakan bertahun-tahun yang lalu. Yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
“Ayah, maafkan Vivi.vivi tau, selama ini Vivi jahat dengan Ayah. Vivi egois, maafkan Vivi yah. Tak aku telah durhaka terhadap Ayah. Maafkan Vivi yaah”
Tubuhnya sangat emas. Ringkih. Tak tega kumelihat Ayah seperti ini.
“Terimakasih Vivi, maafkan Ayah juga. Selama ini Ayah salah. Tapi Ayaahh...”
Monitor detak jantungnya tidak labil. Aku takut Ayah kenapa-kenapa. Aku tak ingin Ayah meninggalkanku. Aku sayang Ayah. Tuhan, tolong jangan ambil Ayahku. Jangan kau buat kedua orang tuaku meninggalkanku !
“Dokter !! tolong Ayah saya !!!”
                                                                                                                                                       

0 komentar on "Lembaran Sendu Tak Berujung"

Posting Komentar

Rabu, 06 Februari 2013

Lembaran Sendu Tak Berujung



        “Ah, sudah pukul enam pagi. Bisa terlambat ke sekolah aku”
          Kutepuk dahiku.
Capek juga seharian membersihkan kamar. Banyak sekali debu yang menumpuk.
          Ppplllaaakkk !
Kuamati ada sesuatu benda yang terjatuh. Surat ungu berpita pink.
       
Vivi sayang, jika Bunda sudah tidur untuk selama-lamanya, jangan pernah berfikir Bunda jahat. Karena apa ? Bunda tertidur untuk keabadian menjaga Vivi. Vivi sayang kan dengan Bunda ? memang, Vivi tak akan pernah lagi melihat Bunda. Itu karena Bunda dihati Vivi. Jaga Ayah dan Kak Sisi ya, jangan kecewakan mereka. Bunda sayang Vivi, Ayah,dan Sisi. I Love you.
                                                                Salam Cinta
                                                                Bunda

Dua bulan  sudah selembar kertas ini berada di kamarku.teringat tepatnya 4 Februari lalu saat truk menabrakku bersama Bunda di dalam mobil yang kami kendarai. Beruntung bagikiu karena Tuhan masih mengijinkanku untuk tetap hidup walau kata dokter aku kehilangan satu ginjalku. Ginjalku pecah. Aku tak tau mampu sampai kapan aku hidup dengan satu ginjal ini. Naas bagi Bunda, ia harus meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku berharap, setelah kejadian ini tak ada lagi masalah dalam hidupku. Namun Tuhan berkata lain. Masalah terus muncul menggerogoti hati dan pikiranku.
Kutemukan sebuah album saat aku bersama Bunda. Teringat kembali olehku. Saat itu, aku yang duduk di sebelah Bunda........
“Bunda tadi belanja apa ?”
Bunda tersenyum, aku lupa untuk tidak mengobrol dengan Bunda saat ia menyetir. Akupun ikut tersenyum. Teringat saat itu, apakah Bunda sudah membelikanku kaus kaki atau belum. Kuberanikan diri untuk bertanya dengan Bunda kembali.
“Bunda, apakah Bunda sudah membelikanku kaus kaki ?”
“Entahlah sayang, coba cari”
Akupun menghadap ke belakang dan mencari kaus kaki. Tak kutemukan.
“Di mana Bunda ? tak ada”
Bunda pun ikut menengok ke belakang memastikan diplastik mana kaus kakiku.
“Bbbbuunnnddaa !! aawwaass ttrruuuukk !!”
Ccciiittt. Cahaya putih seperti menorobos tubuhku. Pertama, yang kurasakan denyutan nadiku hampir berhenti. Kedua, kurasakan pula benturan keras mengenai kaki dan kepalaku. Setelah itu dalam mimpiku aku melangkah di dalam ruangan gelap tak berujung. Aku berteriak memanggil Bunda dan Kak Sisi. Aku menangis di sudut pintu yang entah keberapa ribu kubuka.
“Sayang, mengapa menangis ?”
“Bunda !!”
Akupun memeluk Bunda. Tak lama berselang, Bunda melepaskan pelukanku. “Mengapa Bunda melepaskan pelukan Vivi ?”
Bunda terseenyum dan berkata “ Bangunlah sayang, kau akan tau apa yang terjadi. Ayo sayang, Bunda antar. Bangun sayang”
Kepalaku terasa pening. Terlebih saat aku mengetahui berada di rumah sakit. Ttookk, tookk, tookk. Ketukan pintu itu membuyarkan lamunanku. Sungguh tragis jika terus diingat. Kubuka pintu kamarku. Terlihat jelas wajah sayu orang yang sharusnya kupanggil “AYAH”. Dia memang Ayahku. Ayah yang membesarkanku, dan menjagaku dari kecil. Dialah sosok idolaku saat kecil. Namun dia sendiri yang membuatku sebelah mata melihatnya.
          “Mengapa ? ada apa lagi ?”
Aku memang tak suka dengan orang ini. Saat umurku 12 tahun, kulihat ia bersama wanita lain yang bukan Bundaku. 5 tahun sudah ia tak pernah pulang ke rumah. Itu membuatku, Bunda, dan Kak Sisi frustasi. 5 tahun itupun kami belajar melupakan sosok Ayah. Tiba-tiba, kami mendengar berita bahwa Ayah tertimpa bangunan saat ia bekerja. Itu membuatnya kaki nya patah. Ia juga telah ditinggal kekasihnya karena ia sudah tak kaya. Dengan senang hati Bunda mau menerima Ayah lagi. Namun aku tak seperti Bunda. Aku gila karena Ayah.
“Mau sarapan apa pagi ini ?” tanya Ayah.
“Sejak kapan kau peduli denganku ?”
Ia tersentum dan berkata “Mau sarapan apa ?”
Ah, itu senyum palsu.ia hanya ingin mengambil hatiku. Tak kujawab pertanyaannya. Kututup pintu dengan keras. Dduuuaaarr !
“Sayang, Ayah bertanya ! mengapa tak kau jawab ?”
“sejak kapan kau peduli denganku ? sejak kapan kau menyayangiku, Bunda, dan Kak Sisi ? Urusi perempuan itu ! aku bukan siapa-siapamu !”
Aku menangis sejadi-jadinya.
“Baiklah.” Jawab Ayah
“Jika kau berkata begitu, aku tak melarangmu tuk membenciku. Aku memang salah. Salah besar ! tapi aku khilaf nak. Kumohon, akusudah tak dapat membahagiakan Bunda kalian. Ijinkan Ayah membahagiakan anak-anak Ayah. Tenangkanlah dirimu sayang”
Terdengar alat bantu berjalannya menuruni anak tangga. Aku tak kuat dengan semua ini.
          Aku telah sampai di sekolah. Selalu saja telat jika harus bertengkar dengan Ayah terlebih dahulu.
“Pagi Bu, maaf saya terlambat”
“Lain kali kamu terlambat lagi, awas kamu !”
Kuanggukkan kepalaku dan akupun ke tempat dudukku.
“Kok telat lagi ?” tanya temanku
“Berantem” jawabku singkat
          Bel istirahat berbunyi. Aku menuju kantin. Sejak pagi aku belum sarapan. Kutengok dompetku. Masih tersisa dua puluh ribu. Kuambil handphoneku dan segera menelfon Kak Sisi untuk membawakan makanan.
“Halo kak”
“Iya, halo dek. Ada apa ?” jawab Kak Sisi disebrang telefon.
“Bawain adek bekal dong. Uang adek habis nih.”
“Iya-iya,bawel ah adek kakak ini.ok, tunggu ya 20 menitan”
“Makasih sayang Sisi”
Kututup handphoneku.
“Hai Vivi”
Kutoleh siapa yang memegang pundakku. Bermata sipit, berhidung mancung, dan berkulit sawo matang. Febrian. Kakak kelasku seorang atlit renang.
“Oh hai kak ada apa ?”
“Tak ada apa-apa. Kulihat kamu sendirian, jadi aku temani deh” jawabnya.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ngomong-ngomong, kamu nungguin siapa ?”
Orang ini perhatian sekali, tak salah aku menganggap kakak kelas spesial.
“Kakakku. Dia mau mengantar bekal untuk makan siangku”
Kulanjutkan mengobrol dengannya. orangnya asik juga. Enak diajak ngobrol. Pembicaraan kami pun terhenti karena terlihat sosok lelaki pincang membawa kotak makan ungu. Kuusap mataku dan berharap lelaki itu hilang. Namun semakin lama, lelaki yang ternyata Ayahku itu semakin dekat. Mau ditaruh dimana mukaku. Disitu ada Febrian seorang yang spesial untukku. Aku menyuruh Kak Sisi, mengapa yang datang malah Ayah !
“Ehm kak, maaf tiba-tiba perutku sakit. Aku harus pergi sekarang”
Saat aku akan meninggalkan Febrian, Ayah tiba-tiba memanggilku.
“Vivi ! kemari nak. Ini Ayah bawakan bekal”
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan !
“Vi, itu siapamu ?” Tanya Kak Febrian. Aku menggelengkan kepala. Aku malu memiliki Ayah yang cacat dan tukang selingkuh. Aku bingung, dalam keadaan terdesak seperti ini, aku harus mengutamakan Ayah atau reputasiku.
“Eeehhhmm, siapa kau ?”
Aku mencoba berpura-pura tak mengenalnya. Dorongan kebencianku terus menghasutku untuk terus mengusirnya.
“Vivi ! ada apa denganmu ? kau tak mengenaliku ?”
“Tidak ! aku tak pernah memiliki Ayah ! aku hanya memiliki Bunda dan Kak Sisi ! Bunda adalah orang tuaku satu-satunya yang telah meninggalkanku !”
Tak dapat kutahan tangisku. Aku tau aku salah. Aku tau aku berdosa. Tapi ini adalah aku. Vivi Meisandra. Selalu benci terhadap orang yang membuatku hancur.
“Vivi ! dengar Ayah ! selama ini kamu boleh menghina Ayah, mencacimaki Ayah ! Ayah tau, Ayah salah selama ini. Ayah membuat kalian hancur ! tapi Ayah khilaf. Ayah sadar Ayah salah. Maafkan Ayah.”
Ayah menghela nafasnya, kemudian melanjutkan kembali
“Vivi boleh tak menyayangi Ayah. Ayah rela. Tapi Ayah mohon, maafkan Ayah”
Tak kujawab permintaan Ayah. Aku ingin kembali ke kelas. Namun sayang, truk bangunan menghantamku. Sekolahku memang sedang membangun musholla. Tak terasa lagi sakit ini. Sangat perih.
          Kubuka mataku perlahan. Dengan jelas kulihat hanya Kak Sisi yang menemaniku. Dimana Ayah ?
“Kak”
“Adik ! kamu sudah bangun ! Terimakasih Tuhan ! Kau masih mengijinkanku memiliki teman hidup”
Kulihat butiran air menetes dari mata Kak Sisi. Mengapa ia menangis ? seingatku, bukankan aku hanya pinsan beberapa jam saja setelah tabrakan itu ?
“Kak, mengapa menangis ?”
Dipeluknya tubuhku. Aku tau aku ia sangat menyayangiku. Maka tak heran jika ia memelukku. Namun ini lain, pelukannya mengisyaratkan sesuatu.
“Ada apa kak ? eemm, mana Ayah ?”
Entah apa yang merasuki jiwaku sehingga aku sangat ingin bertemu Ayah. Aku sangat ingin meminta maaf kepadanya. Aku tau selama ini tak ada manusia yang sempurna. Aku tau ia sangat menyayangiku. Aku ingin memeluknya.
“Ayaahh.. Ayyaahh beradaa di UGD sayang”
“Hah ? mengapa Kak ? Ayah sakit apa ?”
Tak dijawabnya pertanyaanku. Diambilnya DVD dan diputarkannya sosok Ayah yang sangat lemah berbaring di UGD.
“Sayangku, jika kamu menonton video ini, berarti kamu sudah siuman. Ayah sangat senang jika kamu sudah baik. Ayah hanya ingin menungkapkan sesuatu nak. Kamu kemarin tertabrak truk dan mengakibatkan ginjalmu satu-satunya rusak. Butuh seseorang yang rela mendonorkan ginjalnya. Ayah tau, Ayah sangat mencintaimu. Ayah rela mendonorkan satu ginjal Ayah untukmu. Jaga ginjal Ayah baik-baik ya. Ayah saat ini baik-baik saja di UGD. Ayah sangat ingin bertemu denganmu. Namun dokter melarang Ayah karena kondisi Ayah sangat lemah dan tak memungkinkan keluar dari ruangan ini. Maka, Ayah mohon Vivi. Ayah mohhooonn sekali. Jika Vivi sudah benar-benar baik, datanglah kemari. Ayah ingin bertemu denganmu. Ayah mohon Vi. Baiklah, Ayah sudah ngantuk. Semoga amanat Ayah tetap Vivi patuhi ya. Ayah sayang Vivi dan Sisi”
Video berdurasi 5 menit tersebut telah menguras seluruh air mataku. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain menemuinya. Aku ingin meminta maaf sebelum semua terlambat. Aku ingin bersamanya dan Kak Sisi. Aku tak mau kehilangannya. Dia pahlawan untukku. Aku tak ingin menjadi yatim piatu.
“Kak Sisi, bawa Vivi menemui Ayah”
“Iya Vi, pasti”
          Kulihat dari balik kaca Ayah terbaring lemah. Ku dekati dia dan terlihat wajah pucat menghiasi nya.
“Ayaah, bangun yaah. Ini Vivi”
Kupegang tangannya. Dingin. Kuteteskan air mata ditangannya. Pengalaman masa lalu tergambar jelas saat itu juga.
“Vivi ! kamu mau menjenguk Ayah ?”
Dipeluknya tubuhku. Pelukan yang hampir kulupakan bertahun-tahun yang lalu. Yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
“Ayah, maafkan Vivi.vivi tau, selama ini Vivi jahat dengan Ayah. Vivi egois, maafkan Vivi yah. Tak aku telah durhaka terhadap Ayah. Maafkan Vivi yaah”
Tubuhnya sangat emas. Ringkih. Tak tega kumelihat Ayah seperti ini.
“Terimakasih Vivi, maafkan Ayah juga. Selama ini Ayah salah. Tapi Ayaahh...”
Monitor detak jantungnya tidak labil. Aku takut Ayah kenapa-kenapa. Aku tak ingin Ayah meninggalkanku. Aku sayang Ayah. Tuhan, tolong jangan ambil Ayahku. Jangan kau buat kedua orang tuaku meninggalkanku !
“Dokter !! tolong Ayah saya !!!”
                                                                                                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Jihan Pasha!♥ Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez