“Ah,
sudah pukul enam pagi. Bisa terlambat ke sekolah aku”
Kutepuk
dahiku.
Capek juga seharian membersihkan kamar.
Banyak sekali debu yang menumpuk.
Ppplllaaakkk
!
Kuamati ada sesuatu benda yang terjatuh.
Surat ungu berpita pink.
Vivi
sayang, jika Bunda sudah tidur untuk selama-lamanya, jangan pernah berfikir
Bunda jahat. Karena apa ? Bunda tertidur untuk keabadian menjaga Vivi. Vivi
sayang kan dengan Bunda ? memang, Vivi tak akan pernah lagi melihat Bunda. Itu
karena Bunda dihati Vivi. Jaga Ayah dan Kak Sisi ya, jangan kecewakan mereka.
Bunda sayang Vivi, Ayah,dan Sisi. I Love you.
Salam
Cinta
Bunda
Dua bulan sudah selembar kertas ini berada di kamarku.teringat
tepatnya 4 Februari lalu saat truk menabrakku bersama Bunda di dalam mobil yang
kami kendarai. Beruntung bagikiu karena Tuhan masih mengijinkanku untuk tetap
hidup walau kata dokter aku kehilangan satu ginjalku. Ginjalku pecah. Aku tak
tau mampu sampai kapan aku hidup dengan satu ginjal ini. Naas bagi Bunda, ia
harus meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku berharap, setelah kejadian ini
tak ada lagi masalah dalam hidupku. Namun Tuhan berkata lain. Masalah terus
muncul menggerogoti hati dan pikiranku.
Kutemukan sebuah
album saat aku bersama Bunda. Teringat kembali olehku. Saat itu, aku yang duduk
di sebelah Bunda........
“Bunda tadi belanja apa ?”
Bunda tersenyum, aku lupa untuk tidak
mengobrol dengan Bunda saat ia menyetir. Akupun ikut tersenyum. Teringat saat
itu, apakah Bunda sudah membelikanku kaus kaki atau belum. Kuberanikan diri
untuk bertanya dengan Bunda kembali.
“Bunda, apakah Bunda sudah membelikanku
kaus kaki ?”
“Entahlah sayang, coba cari”
Akupun menghadap ke belakang dan mencari
kaus kaki. Tak kutemukan.
“Di mana Bunda ? tak ada”
Bunda pun ikut menengok ke belakang
memastikan diplastik mana kaus kakiku.
“Bbbbuunnnddaa !! aawwaass ttrruuuukk
!!”
Ccciiittt. Cahaya putih seperti
menorobos tubuhku. Pertama, yang kurasakan denyutan nadiku hampir berhenti.
Kedua, kurasakan pula benturan keras mengenai kaki dan kepalaku. Setelah itu
dalam mimpiku aku melangkah di dalam ruangan gelap tak berujung. Aku berteriak
memanggil Bunda dan Kak Sisi. Aku menangis di sudut pintu yang entah keberapa
ribu kubuka.
“Sayang, mengapa menangis ?”
“Bunda !!”
Akupun memeluk Bunda. Tak lama
berselang, Bunda melepaskan pelukanku. “Mengapa Bunda melepaskan pelukan Vivi
?”
Bunda terseenyum dan berkata “ Bangunlah
sayang, kau akan tau apa yang terjadi. Ayo sayang, Bunda antar. Bangun sayang”
Kepalaku terasa pening. Terlebih saat
aku mengetahui berada di rumah sakit. Ttookk, tookk, tookk. Ketukan pintu itu
membuyarkan lamunanku. Sungguh tragis jika terus diingat. Kubuka pintu kamarku.
Terlihat jelas wajah sayu orang yang sharusnya kupanggil “AYAH”. Dia memang
Ayahku. Ayah yang membesarkanku, dan menjagaku dari kecil. Dialah sosok idolaku
saat kecil. Namun dia sendiri yang membuatku sebelah mata melihatnya.
“Mengapa
? ada apa lagi ?”
Aku memang tak suka dengan orang ini.
Saat umurku 12 tahun, kulihat ia bersama wanita lain yang bukan Bundaku. 5
tahun sudah ia tak pernah pulang ke rumah. Itu membuatku, Bunda, dan Kak Sisi
frustasi. 5 tahun itupun kami belajar melupakan sosok Ayah. Tiba-tiba, kami
mendengar berita bahwa Ayah tertimpa bangunan saat ia bekerja. Itu membuatnya
kaki nya patah. Ia juga telah ditinggal kekasihnya karena ia sudah tak kaya.
Dengan senang hati Bunda mau menerima Ayah lagi. Namun aku tak seperti Bunda.
Aku gila karena Ayah.
“Mau sarapan apa pagi ini ?” tanya Ayah.
“Sejak kapan kau peduli denganku ?”
Ia tersentum dan berkata “Mau sarapan
apa ?”
Ah, itu senyum palsu.ia hanya ingin
mengambil hatiku. Tak kujawab pertanyaannya. Kututup pintu dengan keras.
Dduuuaaarr !
“Sayang, Ayah bertanya ! mengapa tak kau
jawab ?”
“sejak kapan kau peduli denganku ? sejak
kapan kau menyayangiku, Bunda, dan Kak Sisi ? Urusi perempuan itu ! aku bukan
siapa-siapamu !”
Aku menangis sejadi-jadinya.
“Baiklah.” Jawab Ayah
“Jika kau berkata begitu, aku tak
melarangmu tuk membenciku. Aku memang salah. Salah besar ! tapi aku khilaf nak.
Kumohon, akusudah tak dapat membahagiakan Bunda kalian. Ijinkan Ayah
membahagiakan anak-anak Ayah. Tenangkanlah dirimu sayang”
Terdengar alat bantu berjalannya
menuruni anak tangga. Aku tak kuat dengan semua ini.
Aku
telah sampai di sekolah. Selalu saja telat jika harus bertengkar dengan Ayah
terlebih dahulu.
“Pagi Bu, maaf saya terlambat”
“Lain kali kamu terlambat lagi, awas
kamu !”
Kuanggukkan kepalaku dan akupun ke
tempat dudukku.
“Kok telat lagi ?” tanya temanku
“Berantem” jawabku singkat
Bel
istirahat berbunyi. Aku menuju kantin. Sejak pagi aku belum sarapan. Kutengok
dompetku. Masih tersisa dua puluh ribu. Kuambil handphoneku dan segera menelfon
Kak Sisi untuk membawakan makanan.
“Halo kak”
“Iya, halo dek. Ada apa ?” jawab Kak
Sisi disebrang telefon.
“Bawain adek bekal dong. Uang adek habis
nih.”
“Iya-iya,bawel ah adek kakak ini.ok,
tunggu ya 20 menitan”
“Makasih sayang Sisi”
Kututup handphoneku.
“Hai Vivi”
Kutoleh siapa yang memegang pundakku.
Bermata sipit, berhidung mancung, dan berkulit sawo matang. Febrian. Kakak
kelasku seorang atlit renang.
“Oh hai kak ada apa ?”
“Tak ada apa-apa. Kulihat kamu
sendirian, jadi aku temani deh” jawabnya.
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ngomong-ngomong, kamu nungguin siapa ?”
Orang ini perhatian sekali, tak salah
aku menganggap kakak kelas spesial.
“Kakakku. Dia mau mengantar bekal untuk
makan siangku”
Kulanjutkan mengobrol dengannya.
orangnya asik juga. Enak diajak ngobrol. Pembicaraan kami pun terhenti karena
terlihat sosok lelaki pincang membawa kotak makan ungu. Kuusap mataku dan
berharap lelaki itu hilang. Namun semakin lama, lelaki yang ternyata Ayahku itu
semakin dekat. Mau ditaruh dimana mukaku. Disitu ada Febrian seorang yang
spesial untukku. Aku menyuruh Kak Sisi, mengapa yang datang malah Ayah !
“Ehm kak, maaf tiba-tiba perutku sakit.
Aku harus pergi sekarang”
Saat aku akan meninggalkan Febrian, Ayah
tiba-tiba memanggilku.
“Vivi ! kemari nak. Ini Ayah bawakan
bekal”
Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan !
“Vi, itu siapamu ?” Tanya Kak Febrian.
Aku menggelengkan kepala. Aku malu memiliki Ayah yang cacat dan tukang
selingkuh. Aku bingung, dalam keadaan terdesak seperti ini, aku harus
mengutamakan Ayah atau reputasiku.
“Eeehhhmm, siapa kau ?”
Aku mencoba berpura-pura tak
mengenalnya. Dorongan kebencianku terus menghasutku untuk terus mengusirnya.
“Vivi ! ada apa denganmu ? kau tak
mengenaliku ?”
“Tidak ! aku tak pernah memiliki Ayah !
aku hanya memiliki Bunda dan Kak Sisi ! Bunda adalah orang tuaku satu-satunya
yang telah meninggalkanku !”
Tak dapat kutahan tangisku. Aku tau aku
salah. Aku tau aku berdosa. Tapi ini adalah aku. Vivi Meisandra. Selalu benci
terhadap orang yang membuatku hancur.
“Vivi ! dengar Ayah ! selama ini kamu
boleh menghina Ayah, mencacimaki Ayah ! Ayah tau, Ayah salah selama ini. Ayah
membuat kalian hancur ! tapi Ayah khilaf. Ayah sadar Ayah salah. Maafkan Ayah.”
Ayah menghela nafasnya, kemudian
melanjutkan kembali
“Vivi boleh tak menyayangi Ayah. Ayah
rela. Tapi Ayah mohon, maafkan Ayah”
Tak kujawab permintaan Ayah. Aku ingin
kembali ke kelas. Namun sayang, truk bangunan menghantamku. Sekolahku memang
sedang membangun musholla. Tak terasa lagi sakit ini. Sangat perih.
Kubuka
mataku perlahan. Dengan jelas kulihat hanya Kak Sisi yang menemaniku. Dimana
Ayah ?
“Kak”
“Adik ! kamu sudah bangun ! Terimakasih
Tuhan ! Kau masih mengijinkanku memiliki teman hidup”
Kulihat butiran air menetes dari mata
Kak Sisi. Mengapa ia menangis ? seingatku, bukankan aku hanya pinsan beberapa
jam saja setelah tabrakan itu ?
“Kak, mengapa menangis ?”
Dipeluknya tubuhku. Aku tau aku ia
sangat menyayangiku. Maka tak heran jika ia memelukku. Namun ini lain,
pelukannya mengisyaratkan sesuatu.
“Ada apa kak ? eemm, mana Ayah ?”
Entah apa yang merasuki jiwaku sehingga aku
sangat ingin bertemu Ayah. Aku sangat ingin meminta maaf kepadanya. Aku tau
selama ini tak ada manusia yang sempurna. Aku tau ia sangat menyayangiku. Aku
ingin memeluknya.
“Ayaahh.. Ayyaahh beradaa di UGD sayang”
“Hah ? mengapa Kak ? Ayah sakit apa ?”
Tak dijawabnya pertanyaanku. Diambilnya
DVD dan diputarkannya sosok Ayah yang sangat lemah berbaring di UGD.
“Sayangku, jika kamu menonton video ini,
berarti kamu sudah siuman. Ayah sangat senang jika kamu sudah baik. Ayah hanya
ingin menungkapkan sesuatu nak. Kamu kemarin tertabrak truk dan mengakibatkan
ginjalmu satu-satunya rusak. Butuh seseorang yang rela mendonorkan ginjalnya.
Ayah tau, Ayah sangat mencintaimu. Ayah rela mendonorkan satu ginjal Ayah
untukmu. Jaga ginjal Ayah baik-baik ya. Ayah saat ini baik-baik saja di UGD.
Ayah sangat ingin bertemu denganmu. Namun dokter melarang Ayah karena kondisi
Ayah sangat lemah dan tak memungkinkan keluar dari ruangan ini. Maka, Ayah
mohon Vivi. Ayah mohhooonn sekali. Jika Vivi sudah benar-benar baik, datanglah kemari.
Ayah ingin bertemu denganmu. Ayah mohon Vi. Baiklah, Ayah sudah ngantuk. Semoga
amanat Ayah tetap Vivi patuhi ya. Ayah sayang Vivi dan Sisi”
Video berdurasi 5 menit tersebut telah
menguras seluruh air mataku. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain menemuinya.
Aku ingin meminta maaf sebelum semua terlambat. Aku ingin bersamanya dan Kak
Sisi. Aku tak mau kehilangannya. Dia pahlawan untukku. Aku tak ingin menjadi
yatim piatu.
“Kak Sisi, bawa Vivi menemui Ayah”
“Iya Vi, pasti”
Kulihat
dari balik kaca Ayah terbaring lemah. Ku dekati dia dan terlihat wajah pucat
menghiasi nya.
“Ayaah, bangun yaah. Ini Vivi”
Kupegang tangannya. Dingin. Kuteteskan
air mata ditangannya. Pengalaman masa lalu tergambar jelas saat itu juga.
“Vivi ! kamu mau menjenguk Ayah ?”
Dipeluknya tubuhku. Pelukan yang hampir
kulupakan bertahun-tahun yang lalu. Yang sulit kulukiskan dengan kata-kata.
“Ayah, maafkan Vivi.vivi tau, selama ini
Vivi jahat dengan Ayah. Vivi egois, maafkan Vivi yah. Tak aku telah durhaka
terhadap Ayah. Maafkan Vivi yaah”
Tubuhnya sangat emas. Ringkih. Tak tega
kumelihat Ayah seperti ini.
“Terimakasih Vivi, maafkan Ayah juga.
Selama ini Ayah salah. Tapi Ayaahh...”
Monitor detak jantungnya tidak labil.
Aku takut Ayah kenapa-kenapa. Aku tak ingin Ayah meninggalkanku. Aku sayang
Ayah. Tuhan, tolong jangan ambil Ayahku. Jangan kau buat kedua orang tuaku
meninggalkanku !
“Dokter !! tolong Ayah saya !!!”

0 komentar on "Lembaran Sendu Tak Berujung"
Posting Komentar